Rabu, Oktober 23, 2019
Fokus

Diskusi Energi dan Lingkungan di Graha Niaga

Dalam rangka persiapan konferensi pers yang akan dilaksankan oleh PP IKAITS, maka Bidang Pengkajian Strategis dan Partisipasi Nasional mengadakan diskusi terbatas hari Senin, 5 Januari 2009 pukul 15.00 sd 18.00 wib di Financial Club Graha Niaga, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Sebagai narasumber sekaligus pembahas adalah Pak Lukman Mahfoedz (Direktur Operasional PT. Medco Energy Internasional), Pak Sardjono (Direktur Utama/shareholders PT. Media Karya Sentosa), Ibu Hermien Rosita (Deputi Kementerian Lingkungan Hidup). Topik yang dibahas adalah mengenai energi dan lingkungan dengan sasaran pada opsi energi apa yang dapat dijadikan solusi masalah bagi kebutuhan energi dalam waktu mendesak, antara lain LPG dan solusi energi dimasa mendatang.

Ruangan Seroja lt. 27 Graha Niaga menjadi penuh sesak, hadir antara lain Cak Sunaryo Suhadi (Managing Direktur/Shareholders PT. Media Karya Sentosa) yang sekaligus adalah Ketua Umum IKA ITS Jakarta Raya, Cak Sunoto dari IATMI, DR. Sungging (dosen ITS yang sedang kuliah di Australia, memanfaatkan waktu liburan untuk diskusi), Ardi, Jafar, Andita, Nyoman, tidak ketinggalan Cak Thowi (wartawan media Massa, sekaligus wartawan majalah IKA ITS dan kontributor web alumniits.com).

Dalam paparannya, Cak Sarjono mengupas mengenai data kekurangan produksi energi LPG di Indonesia yang mencapai 60%. Kebutuhan LPG di Indonesia per tahun adalah +- 4 juta ton/tahun sedangkan produksi PT Pertamina dan Perusahaan Swasta lainnya +- 1,4 juta ton/tahun, jadi ada selisih kekurangan sebesar 2,6 juta ton/tahun, dimana tahun 2009 dalam impor LPG akan dilaksanakan oleh Petrodec sebagai rekanan PT. Pertamina. LPG susah dipenuhi jika mengandalkan produksi didalam negeri yang murni dari alam, karena kandungan C3-C4 (wet gas antara 2 sd 8%) sebagai bahan LPG sangat kecil. Mayoritas di Indonesia gas adalah C1-C2 (dry gas) yang secara alami tidak bisa dimanfaatkan (80%). Mayoritas C3-C4 dari lapangan yang sudah berproduksi sangat kecil, sebagai gambaran Emeralda Hess C3-C4 berkisar 3-4%, Cepu 3-4%, PT Wahana S – Pertamina 6%, Cilamaya dari data seismik 12% aktualnya adalah 6% dengan volume terbatas. Yang paling potensial adalah di lapangan Pondok Tengah Bekasi milik Pertamina mencapai 12% namun volumenya juga tidak besar. Dilapangan Sumatera dan sekitarnya C3-C4 rata-rata 3-4% sehingga kurang bagus untuk LPG.

Di dunia saat ini sudah ada trend sumber energi baru yang memanfaatkan dry gas, yaitu Dimethyl Eter (DME), yang menjadi substitusi bagi LPG saat ini. Berdasarkan penggunaan di Jepang dan negara maju lainnya, DME digunakan sebagai campuran LPG dengan komposisi 20-30% DME dan sisanya LPG. Di Jepang juga LPG campuran ini sudah digunakan untuk sektor transportasi. Berdasarkan penelusuran Cak Thowi, saat ini sudah ada website yang menginformasikan mengenai DME secara khusus, yaitu www.aboutdme.org , www.enzenglobal.com, bahkah di wikipedia. Diwebsite www.aboutdme.org Anda bisa mendapatkan informasi mengenai skilas proses DME, negara-negara yang mengaplikasikan, dan lainnya.

Sebagai pelaku bisnis, Cak Sardjono mengemukakan bahwa kendala yang dihadapi dalam pengembangan DME di Indonesia adalah belum adanya: 1. Kebijakan/peraturan dari sisi market, 2. Bahan Baku dan 3. Kepastian Bisnis. Kebijakan dari sisi peraturan market adalah adanya kepastian dari total energi yang digunakan saat ini khususnya BBM berapa % yang harus disubstitusi DME, dari sisi bahan baku dari total C1-C2 yang dihasilkan KPS dan Pertamina berapa persen yang harus diolah menjadi DME, serta dari sisi kepastian bisnis adalah adanya peraturan yang memayungi bahwa DME boleh digunakan sebagai substitusi BBM serta boleh dipasarkan didalam negeri. Jika 30% LPG disubstitusi oleh DME maka akan ada penghematan luar biasa terhadap impor LPG yang dilakukan selama ini.

Menurut Kajian dari BP investasi DME mencapai +- US$ 471 juta per 1 juta ton kapasitas, namun dari fakta terkini di Hokaido Jepang, berhasil dibangun dengan biaya +- US$ 180 juta per 1 juta ton (dengan teknologi baru dan teknik lainnya).

Sedangkan Pak Lukman Mahfoedz menyampaikan perlunya IKA ITS untuk menyuarakan masukan-masukan bagi solusi permasalahan energi dan lingkungan baik jangka pendek (mengatasi kelangkaan LPG) maupun jangka panjang. Kebijakan menarik minyak tanah dan dikonversi menjadi LPG sudah tepat, sayangnya LPG terkendala pasokan dan distribusi. Dari perspektif jangka pendek DME menjadi menarik sebagai salah satu solusi untuk permasalahan LPG, dilihat dari sisi ketersediaan bahan baku DME yang sangat besar di Indonesia, penghematan devisa untuk impor dan lainnya. Secara jangka panjang, IKA ITS tetap perlu menyuarakan biofuel sehingga kebijakan tentang biofuel yang sudah disusun oleh Pemerintah dapat dibuat pentahapan yang jelas tiap tahunnya berapa % biofuel dapat terealisasi. Apa yang disampaikan oleh Pak Lukman Mahfoedz sangat tepat, sesuai pemberitaaan dari kompas.com fakta di Brazil bahwa dengan kebijakan yang jelas dan pentahapan yang baik, maka pada tahun 2008 ini penjualan biofuel mengalahkan BBM dari fosil.

Berdasarkan data dari ESDM yang disampaikan Pak Lukman Mahfoedz memang kontribusi Minyak dan Gas dalam pemasukan negara sangat besar dan masih sangat dominan. Pada tahun 2008 penerimaan MIGAS mencapai rekor yaitu Rp 346 trilyun, namun seiring melemahnya harga minyak dunia diperkirakan tahun 2009 akan turun. Berbicara tentang energi hendaknya tidak dilihat dari sisi “uang” saja, tetapi adalah lebih pada sisi kebijakan. Kelangkaan LPG tentu ironi dengan banyaknya penerimaan negara dari MIGAS.

Dalam paparannya, Bu Hermien Rosita banyak menyoroti perlunya untuk terus menyuarakan pengembangan energi alternatif yang ramah lingkungan dan bersumber dari alam seperti air, angin, matahari dan sebagainya. Tidak perlu ada ketakutan untuk menentukan penggunaan energi asalkan disertai fakta yang mendukung termasuk best practise dari luar negeri.

Berdasarkan penelusuran redaksi, wacana mengenai penggunaan energi nuklir patut untuk dikaji, memang energi nuklir pernah memiliki catatan hitam akibat kebocoran Chernobyl di Ukraina (dulu Uni Sovyet). Namun fakta sekarang, di Perancis 80% energi listrik berasal dari pembangkit nuklir. Jepang sudah berhasil membangun pembangkit nuklir apung. Pemilihan lokasi yang tepat dengan memperhatikan fakta patahan bumi, pemilihan teknologi yang tepat dan edukasi masyarakat menjadi salah satu kunci penggunaan energi nuklir. Di jaman sekarang energi nuklir ibarat naik pesawat ”high risk”. Kata high risk belum tentu kemudian dijustifikasi sebagai pencemar paling menakutkan. Fakta bahwa jumlah korban meninggal karena kecelakan angkutan darat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan korban kecelakaan udara menunjukkan bahwa belum tentu yang high risk betul-betul lebih berbahaya dibandingkan dengan yang low risk.

Pada akhrnya dari diskusi terbatas ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Konsep pengembangan energi alternatif yaitu DME
Meyakinkan pemerintah tentang DME dari segi ekonomi, lingkungan, dimana action by PP IKA ITS sehingga sekaligus sebagai sarana untuk memperkenalkan IKA ITS.
2. Pengembangan energi alternatif dari nuklir , etanol, alam (angin, air), biofuel (renewable energy) yang lebih bersifat ramah lingkungan
3. Perlunya untuk kajian secara rutin tentang Energi sebagai suatu sumbangsih IKA ITS kepada masyarakat dan Pemerintah, dengan menghadirkan tokoh-tokoh di bidang Energi dan Industri.

Diskusi ini akan dilanjutkan dalam waktu dekat dengan mengundang narasumber dari BP Migas, pelaku bisnis dan lainnya.

(Denmas Arief)