Berita

Pengembangan Teknologi untuk Capai Elastisitas Energi


JAKARTA, alumniITS:
Kepala Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan A Iskandar menilai penggunaan energi Indonesia jika dibanding negara Asia lainnya masih sangat boros. Sebagai upaya mengatasinya, pemerintah telah mencanangkan target menurunkan tingkat elastisitas energi kurang dari satu pada 2025.

“Melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE), BPPT memberikan rekomendasi terkait dengan teknologi apa saja yang harus dikembangkan dan diterapkan untuk mencapainya. Selain itu BPPT juga telah menyusun roadmap teknologi efisiensi energi yang meliputi pemakaian lampu swabalast, compressor cooling water dan condensate return recovery system di industri,” Kata Kepala BPPT dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/12).

Dikatakan, banyak penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi di sektor energi yang sudah dan sedang dilakukan oleh BPPT dalam rangka membantu ketersediaan energi nasional.

Diantaranya pengembangan teknologi pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil, teknologi batubara bersih seperti kajian PLTU efisiensi tinggi dengan batubara peringkat rendah, gasifikasi batubara, kajian teknologi kogenerasi untuk industri dan
perhotelan bahan bakar nabati, pengembangan teknologi DME untuk subsitusi LPG dan minyak tanah rumah tangga serta pengembangan PLTS baik yang off-grid maupun yang on-grid, urainya.

Terkait dengan pengembangan teknologi energi yang berwawasan lingkungan, saat ini BPPT memiliki dua kegiatan yaitu Wind Hybrid Power Generation (WhyPGen) dan Microtubine Cogeneration Technology Application Project (MCTAP), sambungnya.

Kedua kegiatan ini merupakan proyek kerjasama antara B2TE – BPPT dengan United Nations Development Programme (UNDP) yang dibiayai oleh Global Environment Facility (GEF), tambahnya.

WhyPGen bertujuan untuk mendorong komersialisasi pembangkit listrik tenaga angin yang dihibrid dengan sumber energi lain sedangkan MCTAP bertujuan untuk memperkenalkan teknologi dan mendorong penyebaran aplikasi MCT. Yang merupakan teknologi kogenerasi dengan sumber panas buang dari gas turbin kurang dari 1 MW (turbin-mikro).

“BPPT juga  melakukan kajian peralatan hemat energi dalam rangka mendukung program pemerintah mengenai pemberian label tingkat hemat energi pada lampu swabalast atau lampu hemat energi,” ungkap Kepala B2TE BPPT, Soni S Wirawan

Lampu swabalast tergolong hemat energi karena 5 watt lampu swabalast setara dengan 18 watt lampu pijar. “Kalau di seluruh Indonesia menggunakan lampu hemat energi, berarti terjadi penghematan Rp 700 miliar per tahun,” ucap Soni.  (endy –
[email protected])