Kamis, Oktober 24, 2019
Fokus

Zona Mati di Samudra

Pemanasan global akan menciptakan zona bebas dari ikan dan organisme hidup lainnya di samudra.
PARIS — Bayangkan apa jadinya bila laut tak berpenghuni. Tak ada ikan, tak ada paus, cumi, gurita, ataupun kerang. Sebuah zona mati tanpa kehidupan di dalamnya. “Itulah yang bakal terjadi beberapa generasi mendatang bila pemanasan global tak segera ditangani,” isi sebuah studi yang dipublikasikan pada Minggu kemarin.
Studi itu juga memprediksi bahwa kondisi laut yang bebas dari ikan dan organisme hidup lainnya itu dapat berlangsung hingga 2.000 tahun. Peneliti studi tersebut mengatakan pemangkasan besar-besaran terhadap emisi karbon dunia harus dilakukan untuk mengerem kecenderungan yang dapat menghancurkan ekosistem laut dan merampas hak generasi mendatang untuk bisa menikmati hasil laut. 
Dalam studi yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Geoscience, sejumlah ilmuwan Denmark membangun sebuah pemodelan komputer untuk mensimulasikan perubahan iklim pada 100 ribu tahun yang akan datang. Inti model komputer mereka adalah dua skenario yang banyak digunakan, yaitu memakai kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer sebagai indikator kenaikan temperatur. Gas CO2 adalah gas rumah kaca nomor satu. Menurut skenario terburuk, konsentrasi CO2 akan meningkat menjadi 1,168 ppm pada tahun 2100, atau tiga kali lipat kadar saat ini. 
Dalam model yang jauh lebih optimistis, CO2 dapat menjangkau 549 ppm pada tahun 2100, atau naik hampir 50 persen dibanding sekarang. Kenaikan temperatur itu tergantung pada beberapa faktor, yaitu kapan puncak emisi karbon itu terjadi dan seberapa cepat angka itu merosot, serta apakah pemanasan itu melepas sejumlah pemicu alami atau titik balik yang akan memperkuat atau memperpanjang pemanasan. 
Setelah mempertimbangkan faktor- faktor tersebut, para ilmuwan memprediksi kemungkinan kenaikan sekitar lima sampai tujuh derajat Celsius di atas temperatur masa praindustri berdasarkan skenario terburuk. Dalam skenario lain, pemanasan yang terjadi memang jauh lebih rendah: dua sampai empat derajat Celsius. 
“Tapi, itu semua adalah kabar buruk bagi laut,” kata Jens Olaf Pepke Pedersen, seorang fisikawan di Technical University of Denmark. Menurut skenario terburuk, menghangatnya laut dan melambatnya sirkulasi samudra akan menurunkan kadar oksigen laut dan menciptakan “zona mati” yang tidak dapat mendukung kehidupan ikan, kerang, dan bentuk kehidupan laut yang lebih tinggi lainnya. 
Kondisi itu tak akan pulih kembali selama 1.500 sampai 2.000 tahun. “Kenaikan itu akan dimulai dengan perlahan-lahan pada akhir abad ini,” tutur Pedersen. “Ini bukan sesuatu yang akan terjadi besok atau beberapa waktu ke depan, tapi pada beberapa generasi yang akan datang.” 
Pedersen mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem ini tidak mungkin dipulihkan dengan cepat. “Karena sifat samudra yang tidak aktif, begitu proses itu dimulai, tidak mungkin kita membalikkannya kembali dengan mudah, sehingga hal itu akan berlangsung selama ratusan tahun,” tuturnya. “Meski setelah seabad kemudian Anda menghentikan semua emisi karbon, samudra masih memerlukan ratusan tahun lagi untuk mendingin. Area rendah oksigen ini akan terus meluas dan mereka akan mencapai puncaknya sekitar 2.000 tahun dari sekarang. Laut akan kembali pulih ketika mulai mendingin.” 
Bahkan skenario yang tidak terlampau suram pun menyiratkan kondisi yang sama: akan terjadi zona kekurangan oksigen yang signifikan dan akan meluas dalam jangka panjang. 
Sebenarnya, zona mati di samudra telah terjadi saat ini di perairan dangkal yang dekat dengan pantai, tempat aliran sungai yang membawa pupuk pertanian bermuara. Pupuk itu menyebabkan ledakan populasi ganggang yang menyerap oksigen secara besar-besaran dan membuat ikan mati karena kehabisan oksigen. Kejadian ini juga sering terjadi di Teluk Jakarta. 
Menurunnya kadar oksigen yang kian meluas akan membawa ancaman yang jauh lebih besar dan menyentuh jantung keanekaragaman hayati. Sekitar 250 juta tahun lampau, perubahan kimia laut telah menyapu sebagian besar spesies laut. 
Peneliti utama studi itu, Gary Shaffer dari Niels Bohr Institute di University of Copenhagen, Denmark, menyatakan tidak tahu apakah generasi mendatang masih bisa melihat samudra sebagai cadangan pangan utama. “Penurunan emisi bahan bakar fosil amat diperlukan selama beberapa generasi mendatang untuk membatasi penurunan oksigen samudra yang terus berlangsung, termasuk asidifikasi dan efek jangka panjangnya,” ujarnya. 
Sejak 1900, temperatur atmosfer global naik sekitar 0,8 derajat Celsius. Menurut prediksi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2007, temperatur ratarata dunia akan naik antara 1,8-4,0 derajat Celsius pada tahun 2100 dibandingkan level 1980-1999. 
Pada 2006 lalu, badan antariksa Amerika NASA juga telah memprediksi penurunan suplai pangan dari laut akibat pemanasan global. Dengan membandingkan data satelit samudra global hampir satu dekade dengan catatan perubahan iklim dunia, para peneliti NASA menemukan bukti bahwa kapan pun temperatur iklim menghangat, kehidupan fitoplankton akan menurun tajam. Sebaliknya, mendinginnya temperatur iklim akan membuat tumbuhan laut lebih produktif. 
Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopis yang hidup di permukaan samudra. Perubahan pertumbuhan fitoplankton dan fotosintesisnya akan mempengaruhi populasi ikan dan jumlah karbon dioksida yang dapat diserap dari atmosfer. TJANDRA DEWI | AFP | NASA 
 
CONVEYOR PANAS RAKSASA DI LAUT 
Arus samudra di dunia saling berhubungan dan menciptakan sebuah sirkuit global yang bergerak pelan, membawa panas, dan mengubah iklim. Tapi, para ilmuwan masih belum yakin bagaimana Global Ocean Conveyor akan bereaksi terhadap pemanasan atmosfer. 
CARA KERJA ARUS INI: 
  1. Aliran arus Teluk membawa air dari perairan tropis, menghangatkan Eropa Barat. Sesampainya di Eropa, air akan mendingin, tenggelam, dan mengalir ke arah selatan. 
  2. Arus laut dalam yang dingin mengalir di bawah arus permukaan yang hangat di Atlantik Selatan. 
  3. Sebagian air dingin berbelok ke utara menuju Samudra Hindia, naik dan bergabung dengan air hangat yang menuju ke barat. 
  4. Arus dingin tenggelam amat dalam di Pasifik barat, kemudian naik kembali dan menghangat. Arus hangat ini mengarah ke barat. 
DAPATKAH ARUS CONVEYOR DIHENTIKAN? 
Belum diketahui apakah pemanasan global dapat mempengaruhi arus samudra. 
Es Arktik mencair, mengirimkan lebih banyak air tawar ke Atlantik Utara. 
Air yang cukup banyak itu dapat memperlambat atau menghentikan Conveyor. Arus itu pernah terhenti pada 12.700 tahun lalu dan Eropa mendingin sekitar 5 derajat Celsius.