Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Tidak Bersaing, Saling Dukung

Jadi sahabat, saling dukung, dan akhirnya sama-sama meraih nilai tertinggi. Itulah yang dialami dua mahasiswi Jurusan Matematika FMIPA ITS : Martasari Widiastuti dan Deni Megawati. Keduanya berhasil meraih predikat culaude di jurusannya dan diwisuda pada 12 Maret.
IPK (indeks Prestasi Kumulatif) Marta – panggilan Martasari Widiastuti – 3,67; sedangkan IPK Deni – sapaan Deni Megawati – 3,66. Selain cumlaude, masa studi kedua gadis berjilbab, penerima beasiswa IKA ITS periode 2003 – 2004, itu juga tergolong cepat. Mereka menyelesaikan kuliah hanya 3,5 tahun.
Keduanya mengaku bersahabat sejak SMA, meski dari sekolah berbeda. Marta dari SMAN 2 Pare, Kediri, sedangkan Deni dari SMAN 1 Pare. Mereka berkenalan justru ketika bersaing dalam kompetisi Olimpiade Kimia di Kabupaten Kediri. Sejak pertemuan itu, keduanya mengalami berbagai “kebetulan”. Eh, tidak tahunya kita bertemu lagi di ITS di jurusan yang sama. Masuknya juga sama lewat PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan),” cerita Deni.
Meski sama sama pandai dan berkeinginan menjadi nomor satu, keduanya mengaku tidak pernah bersaing. ” Saingan? Nggak lah. Kita malah saling membantu. Kalau salah satu tidak masuk, biasanya kita langsung menawarkan catatan tanpa diminta,” ujar Deni sambil tertawa.
Menurut Marta, dia ingin memberi contoh yang baik kepada tiga adiknya. Setiap kali ada pelajaran yang tidak dimengerti, dia langsung megulangnya samapai paham betul. “Kadang dibantu Deni,” kata mantan pengurus Lembaga Legislatif Mahasiswa di Komisi Pengembangan SDM ITS ini.
Baginya, belajar dengan sistem kebut semalam menjelang ujian adalah pantangan. “Saya menerapkan belajar sistem kebut tiap hari agar semua materi bisa dimengerti saat itu juga, “kata Marta. Selain itu, dia juga tidak lupa untuk salat malam dan berdoa.
Sedikit berbeda dengan pengalaman rekannya, Deni mengaku ingin cepat selesai kuliah karena tingkat ekonomi keluarganya yang tergolong pas-pasan. “Bukan soal SPP, tapi kebutuhan hidup di Surabaya jauh lebih mahal dibanding di Kediri,” ujar putri ketiga dari empat bersaudara pasangan Siti Alimah dan Sukadi, PNS di RS Umum Pare ini.
Deni mengungkapkan, semula ia tidak begitu menyenangi Matematika. Saat duduk di kelas 2 SMP, ia pernah diejek gurunya karena tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Dari situlah, Deni memberontak dan ingin menunjukkan bahwa dia bisa. “Saya sempat sakit hati dibilang bodoh. Tapi, kritik guru saya itu ada positifnya juga,”katanya.