Rabu, Oktober 23, 2019
Berita

Saham Perdana Waskita Karya Dibanderol Rp380


JAKARTA, alumniITS:
PT Waskita Karya melepas 3,08 miliar (32 persen) saham melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Harga saham perdana BUMN konstruksi itu dibanderol Rp380. Berdasarkan laporan IFR Asia, Kamis  (6/12), Waskita meraup dana sekitar US$122 juta atau Rp1,17 triliun dari IPO saham.

Menteri BUMN Dahlan Iskan sebelumnya mengatakan, berdasarkan hasil roadshow, saham perdana Waskita Karya diminati investor domestik maupun asing. Hal itu terlihat dengan adanya kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 2,2 kali.

“Proses berikutnya adalah laporan ke Bapepam-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) pada 5 Desember, masa penawaran umum 12-14 Desember, dan listing di BEI (Bursa Efek Indonesia) pada 19 Desember mendatang,” ujar Dahlan.

Dia menegaskan, penjualan saham perdana Waskita dilakukan sendiri oleh joint lead underwriter (JLU) yang terdiri atas Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Danareksa Sekuritas. “Ini adalah momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya BUMN tidak
menggunakan international selling agency. Semuanya dilakukan JLU,” terang Dahlan.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi Kementerian BUMN Pandu Djajanto menambahkan, kendati minat investor asing cukup tinggi, jatahnya dibatasi hanya 10 persen. Sisanya diserap pemodal domestik.

Dia memastikan Waskita tidak akan menambah jumlah saham yang dilepas ke publik. Tujuannya agar penawaran saham kedua (secondary offering) lebih ramai.

Jumlah saham yang dilepas lewat IPO termasuk 2 persen atau 192,64 juta saham baru untuk program employee stock allocation (MESOP). Setelah IPO, saham pemerintah pada Waskita menjadi sebesar 68 persen. Namun, setelah MESOP, saham pemerintah kembali berkurang menjadi 66 persen dan publik sebesar 34 persen. Sementara itu, perseroan memiliki kebijakan dividen sebesar 30 persen dari perolehan laba.

Waskita akan menggunakan 60 persen dana IPO untuk modal kerja. Dengan penambahan modal, rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) perseroan bisa turun dari 4 kali menjadi 2 kali.

Sisa dana IPO sebesar 40 persen dialokasikan untuk pengembangan usaha, 15 persen untuk produksi beton, 15 persen untuk bisnis properti, dan 10 persen untuk jalan tol.

Direktur Utama Waskita Karya Mohammad Choliq mengatakan, tahun depan, perseroan mengincar kontrak baru senilai Rp14 triliun. Jika ditambah kontrak bawaan (carry over) tahun ini sebesar Rp8 triliun, total kontrak Waskita bakal mencapai Rp22 triliun.

Dari perolehan kontrak tersebut, Waskita optimistis pendapatan tahun depan mencapai Rp11,5 triliun. Pendapatan itu naik 27,7 persen dibandingkan target tahun ini Rp9 triliun. “Laba bersih tahun ini kami targetkan Rp250 miliar, sedangkan tahun depan Rp350 miliar,” kata Choliq.

Hingga akhir Oktober 2012, pendapatan Waskita mencapai Rp5,6 triliun dan laba bersih Rp131 miliar. Menurut Choliq, pendapatan perseroan tahun ini disumbang oleh realisasi kontrak sebesar Rp9 triliun. Sisanya Rp8 triliun akan dialihkan pada 2013.

Selama tahun ini, perseroan mengantongi kontrak senilai Rp17 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp12 triliun merupakan kontrak baru, sedangkan sisanya merupakan carry over tahun lalu.     (endy – [email protected])