Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Investasi Kini Lari ke Manufaktur

JAKARTA, alumniITS:
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat peningkatan realisasi investasi penanaman modal asing sebesar 22 persen pada kuartal ketiga 2012 ini. Realisasi investasi saat ini senilai Rp 56,6 triliun.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi mencapai Rp 46,4 triliun. Kenaikan investasi ini terutama didorong oleh penanaman modal dari lima negara besar, yakni Singapura, Inggris, Jepang, Taiwan, dan Mauritius.

“Singapura terbesar karena mewakili banyak negara. Kami satukan berdasarkan asal perusahaan. Bukan country of origin perusahaan,” kata Kepala BKPM, Chatib Basri, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/10).

Chatib memaparkan, secara berurutan nilai investasi asing terbesar adalah dari Singapura sebesar US$ 1,5 miliar (setara Rp 14,4 triliun), menyusul Inggris dengan nilai investasi US$ 700 juta (setara Rp 6,7 triliun), Jepang S$ 700 juta (setara Rp 6,7 triliun), Taiwan US$ 600 juta (setara Rp 5,7 triliun), dan Mauritius sebesar US$ 600 juta (setara Rp 5,7 triliun).

Adapun realisasi investasi asing berdasarkan lokasi proyek, kata Chatib, masih dipegang oleh DKI Jakarta dan Jawa Barat. Investasi asing di DKI Jakarta realisasinya sebesar US$ 1,2 miliar (setara Rp 11,5 triliun), Jawa Barat sebesar US$ 1 miliar (setara Rp 9,6 triliun), Kalimantan Timur sebesar US$ 700 juta (setara Rp 6,7 triliun), Sulawesi Tengah sebesar US$ 600 juta (setara Rp 5,7 triliun), dan Riau US$ 600 juta (setara Rp 5,7 triliun).

Berdasarkan sektor usaha, pencapaian realisasi investasi asing ini didominasi oleh industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi, sektor pertambangan, sektor transportasi, sektor gudang dan telekomunikasi, sektor kertas, barang dari kertas dan percetakan, serta industri alat angkutan dan transportasi lainnya. “Ini menunjukkan bahwa investasi lari ke manufaktur, bukan lagi pertambangan dan mineral,” ujar Chatib. (endy)