Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

2012, Produksi Minyak Indonesia Merosot

JAKARTA, alumniITS:

Realisasi produksi minyak Indonesia sampai 11 Oktober 2012 mencapai 867.080 barel per hari (bph). Hingga akhir tahun 2012, realisasi produksi minyak cuma mencapai 870.400 bph. Padahal target produksi minyak sebesar 930.000 bph.

“Jumlah itu jauh mengalami penurunan dibanding realisasi produksi minyak tahun 2011 sebesar 902.000 bph,” kata Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) R Priyono dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII di DPR, Jakarta, Rabu (17/10).

Penurunan produksi itu, lanjut dia, disebabkan tidak kembalinya produksi Chevron Pacific Indonesia (CPI) akibat pecahnya pipa di lapangan Duri, efek tertundanya keputusan operator baru, dan kerusakan pada fasilitas produksi.

“Ini perlu jadi perhatian serius untuk menjaga penurunan produksi agar tidak tajam. Dalam tiga tahun terakhir yang memengaruhi adalah klasik, yaitu mundurnya kontrak perpanjangan Kodeco/PHE WMO dan pecahnya pipa penyaluran,” ujar Priyono

Menurutnya, agar tidak terjadi penurunan lagi  memang diperlukan berbagai upaya. Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan maka akan ada tambahan produksi sebesar 225.000 bph.

Berbagai upaya tersebut diantaranya adalah POP (put on production), pemboran, pengembangan sumur, kerja ulang dan perawatan sumur. “Tanpa melakukan upaya apa-apa maka pada akhir tahun 2012, yang akan kita dapat adalah 660.000 barel perhari,” katanya.

Priyono menambahkan produksi minyak pada tahun 2012 bertumpu pada tiga kontraktor kontrak kerjasama migas (KKKS) yaitu PT Chevron Pacific Indonesia sebesar 343.000 bph, PT Pertamina 128 bph, Total Indonesie 66.000 BOPD.  “Tanpa mengesampingkan KKKS yang lain, maka tumpuan produksi minyak terbesar dibebankan kepada 3 KKKS tersebut,” ucapnya.

Diakuinya Indonesia pernah mengalami puncak produksi minyak yakni pada 1996 yang mencapai 1,16 juta bph. Belum ditemukannya lapangan migas baru menjadi faktor besar dalam peningkatan produksi minyak. “Saat ini hanya Cepu yang diharapkan akan mengangkat kembali produksi minyak bumi mencapai 1 juta bph,”  sambungnya. (ndy)