Berita

Wawancara bersama Dwi Soetjipto, Ketua Umum PP IKA ITS

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya telah bertebaran dan beraktivitas di segala bidang. Mulai dari instansi Pemerintah, Swaste, lembaga swadaya masyarakat, hingga partai politik. Mulai dari instansi tingkat local hingga internasional.

Namun, sebagian besar alumni belum merasakan manfaat adanya jaringan sebuah ikatan alumni. Ikatan Alumni Institut TEknologi Sepuluh Nopember Surabaya (IKA ITS), dinilai belum banyaki memberikan kontribusi bagi pergerakan alumni di dunia kerja atau kativitasnya. Para alumni masih merasa IKA ITS baru mendekat tatkala ada alumni sudah berhasil. Bukan sebaliknya, IKA ITS memberikan kontribusi bagi kesuksesan alumni.

Ditemui disela-sela acara buka puasa Pengurus Pusat IKA ITS yang begitu guyub dengan diselingi guyonan khas suroboyoan di Rumah Makan Ratu Kuring, di kawasan Warung Buncit Jakarta Selatan, Ketua Umum IKA ITS Dwi Soetjipto mengakui masih lemahnya jaringan tersebut. Dia lalu panjang lebar mengungkapkan bagaimana cara organisasi yang telah dipimpinnya itu untuk memperkuat jaringan. Berikut petikannya…

Bagaimana upaya memperkuat jaringan alumni melalui IKA ITS?
Membangun jaringan membutuhkan infrastruktur. Pertama, kita harus punya database. Artinya, mapping terhadap seluruh alumni sudah harus diketahui. Pembinaan akan bisa jalan, kalau sudah ada mapping.

Maksudnya?

Dengan database, kita bisa tahu keunggulan alumni ITS itu di sektor apa saja. Kalau misalkan ada lembaga yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kriteria tertentu. Kita dapat infonya, lalu kita cari di database, alumni yang kriteria tertentu itu ada atau tidak. Jika ada, langsung kita menyodorkannya. Atau, alumni yang punya posisi jabatan penting bisa mengakses opportunity dengan memanfaatkan database ini.

Artinya, alumni juga harus aktif?

Iya, kalau alumni tidak aktif memanfaatkan database maka susah juga.

Infrasturktur selanjutnya?

Perlunya jaringan komunikasi dan informasi. Bentuknya bermacam-macam, bisa saja melalui forum kecil seperti buka puasa ini. Dengan forum ini, kita jadi tahu ternyata kita punya alumni di posisi yang cukup penting. Misalkan, Ibu Hermien Rosita (Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup). Kita memang harus jemput bola. Perlu banyak forum atau pertemuan seperti ini. Bagaimana alumni bisa membantu kalau tidak pernah diundang.

Apa target yang diinginkan?

Kita dorong alumni menjabat posisi birokrat tertentu. Tapi, mesti diingat, kita promosikan seseorang karena memang memiliki keunggulan dan kualitas.

Sasaran lainnya?

Kita juga ingin bagaimana mengembangkan alumni agar menjadi pengusaha yang handal. Sebab, pengusaha juga tidak kalah power dengan seorang birokrat.

Infrastruktur itukan sebenarnya masalah klasik?

Memang. Tapi ini adalah fondasi yang selama ini kurang digarap secara lebih serius. Kita tahu pentingnya networking, tapi tidak dibina secara baik. Sekarang sudah saatnya kita harus membangun pondasi, dan ini perlu keterlibatan semua pihak. Harus lebih banyak lagi forum, temu bisnis, dan Klub misalkan oleh raga yang mesti diadakan.

Fondasi yang dimaksud termasuk database?

Ya. Database juga mesti terus diupdate. Kegiatan database ini memang tidak terlihat jira dibandingkan dengan kegiatan ceremonial misalkan seminar. Tapi, databse merupakan pondasi yang penting. Kalau itu Belum kuat, maka kita juga sulit berkembang
Dalam acara buka puasa tersebut, Ketua Dewan Penasehat IKA ITS Muhammad Nuh juga hadar, menyentil Belem tanggapnya IKA ITS menghadapi Pemilu 2009. Menteri Komunikasi dan Informasi ini mengungkapkan sudah bergeraknya organisasi alumni lanilla dalam menyiapkan kadernya.”Semarang semua berorientasi 2009.Sebagai organisasi, IKA ITS perlu pula membahas hal ini. IKA kan sudah punya divisi promosi, bisa dicari alumni secara fair, siapa yang pantgas di promote. Dengan demikian, ada jasa organisasi dan emosional dengan organisasi ini juga semakinkuta,”tuturnya.
Bagaimana IKA ITS memandang agenda politik Pemilu 2009?
Kita harus siapkan sebaik-baiknya. Caranya antara lain dengan membentuk tim yang akan mendata dan me-mapping alumni yang kita punya serta bagaimana kemungkinan mengisi potensi ini.

Targetnya?

Mungkin lebih banyak lagi alumni yang berkiprah di birokrasi dan legislatif. Kalau sekarang hanya ada dua alumni yang menjadi anggota DPR (Muhammad Najib dari Fraksi PAN dan Muhammad Azzam dari Fraksi Demokrat), maka ke depan mesti lebih banyak lagi.

Bagaimana mengatasi kendala dana?

Setiap organisasi pastilah punya kendala dana. Tapi, berapapun biaya yang dibutuhkan membuat membangun databse, akan kita cari.

Caranya?

Kita bangun militansi. Tidak disangka, dalam satu tahun saja sudah terkumpul 1 miliar. Targetnya Rp 2 miliar per tahun. Itu belum termasuk dana abadi.

Bagaimana pertanggung jawaban dana tersebut ?

Kita selalu terbuka dan jangan sampai ada kecurigaan. Kalau organisasi ini dipercaya, maka akan semakin banyak donatur yang berpartisipasi.

Bagaiamana caranya?

Kita akan buka laporan keuangan. Karenanya, majalah ini menjadi penting, yang akan memuat laporan keuangan IKA ITS secara regular.

Apakah IKA akan memanfaatkan dana itu buat investasi?

Bisa saja, seperti jual beli saham di bursa, dengan tentunya memakai fund manager yang baik. Itu kan termasuk bagian dari usaha. Hanya saja, prinsip yang mesti penting dipegang dalam bisnis, kalau memberikan return tinggi, pastilah high risk. Intinya, dalam bisnis, ojo sampai ngimpi.

Balik lagi ke konsolidasi alumni, Masih terlihat ada ketidaksolidan karena persaingan antar jurusan?
Ini memang dampak buruk akibatkuatnya ikatan jurusan. Jurusan perlu kuat, tapi jangan meninggalkan kesolidan alumni. Marilah kita tinggalkan ego jurusan, mari kita bangun IKA ITS.

Karenanya, kepengurusan IKA ITS kali ini cukup gemuk?

Benar. Wadah IKA ini berasal dari semua jurusan, sehingga menjadi kepengurusan paling besar. Tidak apa-apa. Aktivitas yang kita lakukan juga buat kepentingan bersama semua orang, dan bukan buat kepentingan jurusan tertentu. Kita rangkul semua, dan tidak eksklusif.

Hubungan IKA dengan kampus?

Cukup baik. IKA telah melibatkan kampus, dan sebaliknya. Orang kampus tahu aktivitas IKA dan IKA juga tahu aktivitas kampus. Dalam acara wisuda, kini selalu ada acara pelepasan oleh kampus dan penerimaan alumni oleh IKA ITS.

Bagaimana dengan alumni didaerah?

Kita juga mengembangkan dan memperkuat kepengurusan wilayah. Harapannya seperti halnya KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang menjadi tempatnya alumni kalau pergi ke suatu daerah.

Agaknya masih banyak betul pekerjaan rumah yang harus dikerjakan?

Terus terang, kita memang mestik banyak bekerja memperkuat IKA agar perannnya menjadi lebih baik. Tapi, memang perlu waktu dan proses. Selama ini belum ada keterlibatan dan komunikasi yan baik antar alumni. Nantinya, kita bangun. Kita ini orang mencari IKA. (Thontowi/Kelik Dewantoro)