Berita

Menumbuhkan Manfaat Jaringan Bagi Alumni

Ada kisah seorang direktur utama BUMN yang pernah didengar awak majalah ini beberapa tahun lalu. Kala itu, dia masih menjadi petinggi perusahaannya di tingkat provinsi. Dia mengisahkan bahwa dirinya tengah ditempa untuk menduduki posisi paling tinggi di perusahaannya, oleh para senior yang dulu sekampus dengan dirinya.” Karena itu, saya terus dicoba untuk menempati semua lini, dan semua divisi diperusahaan saya” ujarnya.

Kaderisasi para senior itu berbuah. Tahun lalu, dia dipilih menjadi orang nomor satu diperusahaanny. Sang direktur mengakui benar manfaat jaringan almamaternya bagi kariernya. Manfaat jaringan ini juga yang pernah disinggung oleh Cak Muhammad Nuh, yang kini menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi. Menurut Cak Nuh, jika alumni merasakan jasa jaringan, akan lebih mudah bagi ikatan alumninya untuk memberi kontribusi bagi organisasi dan almamater.
Apakah jaringan semacam itu sudah dimiliki alumni ITS? Bagi alumni Teknik Kimia ITS yang juga Direktur Pengolahan PT Pertamina, Ning Rukmi Hadihartini, jaringan semacam itu belum dimiliki. Menurut dia, sampai saat ini ikatan alumni masih lemah. Ada beberapa hal menjadi penyebabnya. Pertama, kata Ning Rukmi, rasa percaya diri lulusan ITS rendah. Padahal, lulusan ITS sudah banyak yang menjadi pejabat atau pun pengusaha sukses.” Kalau saja alumni ITS memiliki mental dan rasa percaya diri besar, bukan tidak mungkin akan mengalahkan alumni perguruan tinggi yang sudah eksis,” ujarnya membandingkan.

Ning Rukmi mengungkapkan, kalau mau memetakan dengan teliti, sebenarnya banyak alumni ITS bertebaran di berbagai bidang pekerjaan, dan sukses. Mereka memiliki posisi strategis sebagai pengambil kebijakan dalam perusahaan. ”Hanya, mereka tampak tak cukup berani tampil,” ujarnya.

”Kita sebenarnya bisa dan mampu lebih dari sekarang. Tapi saya heran, kok ada alumni ITS diwawancarai saja kelihatan tidak pede, seperti tak yakin dengan kemampuannnya sendiri. Bagaimana mau meyakinkan orang lain kalau dia sendiri tidak yakin dengan dirinya? Itu yang membuat kita lemah,” kata Ning Rukmi panjang lebar sesuai acara berbuka puasa bersama di Rumah Makan Handayani Prima, Jalan Matraman Raya Jakarta Timur, Jumat (12/9).

Penyebab kedua, alumni ITS belum terbiasa menjalin komunitas lintas jurusan selepas dari ITS. Beberapa agenda dan kegiatan yang dilakukan alumni masih bernuansa primordial jurusan, belum satu ITS. Ini yang tidak tampak pada para alumni ITS.”Kalau alumni ITB itu, yang pertama-tama dikuatkan adalah ikatan alumni per angkatan. Kalau ITS masih per jurusan,” katanya.

Karena itu, Rukmi berharap sedikit demi sedikit jalinan komunikasi antar jurusan yang lebih integral bisa dimulai, tanpa harus menghilangkan kedekatan alumni di jurusannya sendiri. Caranya, melalui pertemuan-pertemuan informal seperti buka puasa misalnya. Wacana ini mesti terus dikomunikasikan, termasuk melalui wadah media IKA ITS. ”Ini adalah tugas bagi para pengurus IKA ITS untuk menjembatani kebutuhan para alunni,” katanya.

Ditempat yang sama, alumni ITS yang semasa kuliah menjadi penggiat ludruk, Cak Agus Arifin atau populer dengan panggilan Cak Basman pun melihat sisi kelemahan yang sama. Alumni ITS kurang terkoordinasi dengan baik. ”Sangat sayang menurutnya, bila potensi besar alumni ITS tidak bisa diberdayakan hanya lantaran tidak bisa dikoordinasikan dengan baik,” tuturnya.

Untuk menjembataninya, frekuensi pertemuan para alumni perlu ditingkatkan dan diperluas cakupannya. Agus sepakat bahwa pertemuan-pertemuan alumni mestinya diperlebar dari sekadar alumni jurusan.

Alumni matematika ITS, Cak Ferry Dzulkifli sepakat. ”Sudah bukannya zaman untuk hanya memikirkan jurusan ,” tutur aktivitas lembaga swadaya masyarakat ini. Dia menambahkan, selain memperkuat jaringan antarjurusan, yang perlu diperhatikan juga adalah memperkuat jaringan antar bidang aktivitas yang ditekuni alumni, guna memperkuat jaringan agar lebih bisa memberi manfaat bagi alumni.

Selain akademisi, pengusaha, maupun birokrat, menurut Ferry, alumni yang berkiprah menjadi aktivitis LSM, politisi dan jurnalis harus diperhatikan dan dipadukan. ”Sinergi begitu” tutur Cak Ferry. Jaringan yang makin lebar, kata dia, akan lebih mampu dimanfaatkan atau digerakkan bagi kepentingan alumni maupuan organisasi.

Cak Lukman Mahfoedz, alumni Teknik Mesin ITS tidak sepakat jika disebut ikatan lemah. Sebenarnya saat ini pengaruh alumni ITS luar biasa terhadap masyarakat dan negara. ”Tampilnya sosok Muhammad Nuh di jajaran kabinet memperlihatkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap alumni ITS ”, tuturnya.

Cak Lukman menilai alumni ITS sudah bisa disetarakan dan disejajarkan dengan alumni perguruan tinggi yang lebih tua seperti ITB, UGM dan UI. ”Siapa bilang lemah. Ini buktinya bisa Anda lihat sendirikan?” katanya di sela-sela acara buka puasa IKA ITS di rumah dinas Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh 16 September lalu.

Bagi Lukman, ukuran kuat ikatan alumni ITS bisa dilihat dari banyaknya alumni yang hadir dan ”meluangkan” waktu di antara keberagaman kesibukan mereka dalam acara buka puasa di rumah M Nuh. Kesediaan para alumni untuk berkumpul merupakan bentuk pengorbanan yang mencerminkan solidnya para alumni ITS. ”Saat ini setidaknya 60 ribu alumni ITS yang tersebar dimana-mana. Kita siap bersaing dengan alumni manapun,” kata Project Director Medco Energy ini.

Cak Dwi Soetjipto, Ketua Umum IKA ITS tak menutup mata masih banyaknya kekurangan dalam ikatan alumni. Karena itu, dalam kepengurusannya saat ini, Cak Dwi akan lebih menekankan upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan. ”Membangun jaringan membutuhkan infrastruktur. Pertama, kita harus punya database. Artinya, mapping terhadap seluruh alumni sudah harus diketahui. Pembinaan akan bisa jalan, kalau sudah ada mapping,” ujar Direktur Utama PT Semen Gresik ini.

Dengan data base, ujar Cak Dwi, organisasi akan bisa mengetahui disektor mana saja alumni ITS memiliki keunggulan. ”Kalau misalkan ada lembaga yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kriteria tertentu. Kita dapat infonya, lalu kita cari di database, alumni yang berkriteria tertentu itu ada atau tidak. Jika ada, langsung kita menyodorkannya. Atau, alumni yang punya posisi jabatan penting bisa mengakses opportunity dengan memanfaatkan data base ini,” katanya memaparkan.

Dia mengingatkan kerja untuk membikin data base ini penting tapi tidak kelihatan. Karena itu, pekerjaan ini sering terabaikan, sebab kalah pamor dibandingkan kegiatan semacam seminar misalnya. ”Tapi database mutlak harus kita bikin,” tuturnya.

Infrastruktur kedua, ucap Cak Dwi, adalah perlunya jaringan komunikasi dan informasi. Bentuknya bermacam-macam, bisa saja melalui forum kecil seperti buka puasa. ”Dengan forum semacam ini, alumni-alumni bisa tahu oh ternyata ITS memiliki alumni di posisi yang cukup penting,” ucapnya.

Misalkan, Ning Hermien Rosita, kini menjadi Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup atau Ning Ratna Arianti, kini menjabat sebagai Direktur Energi Baru dan Terbarukan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. ”Kita memang harus jemput bola. Perlu banyak forum atau pertemuan seperti ini. Bagaimana alumni bisa membantu kalau tidak pernah diundang , ”ujarnya.

Dalam rangka memperkuat jaringan agar lebih bermanfaat itu pula, Cak Dwi tak mau menutupi jika kepengurusannya ingin mendorong alumni menduduki posisi birokrasi tertentu. ” Tapi, mesti diingat, kita promosikan seseorang karena memang memiliki keunggulan dan kualitas,” ucapnya.

Apalagi, Cak Dwi sudah mendengar, organisasi sejenis dari perguruan tinggi lain pun sudah berancang-ancang menyambut agenda besar nasional pada 2009. Mereka sudah berancang-ancang dan melihat apa peluang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan organisasi alumninya. Lagi-lagi, jaringan yang kuat akan bermanfaat untuk memetakan gerakan-gerakan yang kian intens menjelang agenda besar 2009.

Bagaimana dengan IKA ITS?’ Kita harus siapkan sebaik-baiknya. Caranya antara lain dengan membentuk tim yang akan mendata dan me-mapping alumni yang kita punya serta bagaimana kemungkinan mengisi potensi itu,” kata Cak Dwi memberi resep.

(Thonthowi Dj/Kelik Dewantoro/Muhibuddin Kamali)