Kamis, Oktober 24, 2019
advetorialBerita

Transformasi Waskita Karya, dari BUMN Nomor Buncit Menjadi Nomor Satu

PT. Waskita Karya (Persero) tbk adalah perusahaan BUMN yang saat ini menjadi pembicaraan banyak kalangan, sebagai BUMN Konstruksi yang paling banyak dilibatkan Pemerintah dalam membangun program infrastruktur yang begitu gencar oleh Jokowi-JK dan meraih kinerja tertinggi dibandingkan BUMN Konstruksi lainnya. Pada tahun 2016, Waskita Karya mencatatkan kinerja yang mengagumkan yaitu

  • Asset tumbuh 102,66% menjadi Rp 61,425 Triliun
  • Pendapatan Usaha naik 68,08% dari Rp 14,152 triliun tahun 2015 menjadi Rp 23,788 triliun tahun 2016
  • Laba bersih naik 73,07% dari Rp 1,047 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 1,813 triliun tahun 2016

Kinerja cemerlang ini bisa dipertahankan di tahun 2017, Waskita Karya mencatatkan kinerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan BUMN konstruksi lainnya yang telah Go Public. Berdasarkan ekspose yang disampaikan Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Choliq :

  • Pendapatan tahun 2017 tumbuh hampir 100% menjadi Rp 45,44 triliun
  • Laba bersih meningkat 135,9% dari Rp 1,81 triliun tahun 2016 menjadi Rp 4,27 triliun di tahun 2017

Diversifikasi dengan memperkuat anak usaha dibidang Precast yaitu PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) yang mampu mencatatkan laba bersih mencapai Rp1,33 triliun.

Kinerja harga saham juga luar biasa, sejak IPO bulan Desember 2012 dengan harga Rp 380 persaham, saat ini harga saham Waskita Karya sudah menyentuh angka Rp 2.930 per 28 Februari 2018 atau meningkat 671%.

Namun siapa sangka wajah Wasktia Karya saat ini sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu, kalau boleh dikata berbeda 180%. BUMN ini nyaris dibubarkan/ditutup gara-gara skandal laporan keuangan. Perusahaan dalam kondisi rugi tapi dilaporkan untung.

Waskita Karya mengalami defisit akibat kelebihan pencatatan pada laporan keuangan 2004-2007. Pemerintah mesti turun tangan membantu suntikan dana agar Waskita Karya dapat terus beroperasi,d engan syarat pelaku yang bertanggungjawab atas kelebihan pencatatan tersebut diusut

Terbongkarnya kasus ini berawal saat pemeriksaan kembali neraca dalam rangka penerbitan saham perdana tahun 2012. Direktur Utama baru, M. Choliq yang sebelumnya menjabat Direktur Keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, menemukan pencatatan yang tak sesuai.

Dalam pemeriksaan itu ditemukan kelebihan pencatatan sekitar Rp 400 miliar (sumber : https://bisnis.tempo.co/read/194968/tiga-direksi-waskita-dinonaktifkan )

Tidak hanya cemerlang dari aspek kinerja operasional, upaya membangun hasil karya yang berkualitas diwujudkan dengan kepercayaan pemilik proyek memberikan kepada Waskita Karya, sehingga di tahun 2017 pendapatan meningkat hampir 100%. Waskita Karya senantiasa menempatkan K3 sebagai prioritas utama dalam pengerjaan proyek untuk berupaya meniadakan kecelakaan dalam proyek. Penerapan sistem manajemen mutu dan SMK3 adalah bagian dari upaya menciptakan pengerjaan proyek yang terus ditingkatkan pengelolaan dan hasilnya.

Dengan jumlah proyek yang semakin banyak, tentu resiko kecelakaan kerja akan semakin banyak. Namun dari tahun ke tahun Waskita Karya terus mampu menekan prosentase kecelakaan kerja terhadap jumlah proyek yang terus mengecil.

Transformasi Waskita Karya terus bergulir, setiap kekurangan/kegagalan akan memacu semangat untuk melakukan perbaikan dan melangkah lebih cepat dibandingkan industri pesaing BUMN maupun BUMS. Ini merupakan dedikasi Waskita Karya untuk terus membangun negeri, turut berkontribusi bagi program pemerataan pembangunan yang saat ini gencar dilaksanakan oleh Pemerintah.