BeritaFokusFoto Kegiatan

DEWAN PAKAR PP IKA ITS GELAR FGD HILIRISASI INOVASI RISET DI DPR

Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember(IKA ITS) kembali gelar focus grup discussion (FGD). Kali ini, acara tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pakar Pengurus Pusat IKA ITS di Press Room Gd Nusantara III DPR RI pada hari Senin, 12 Februari 2018. Acara dengan thema “Hilirisasi Inovasi Berbasis Riset Untuk Bidang Industri dan Jasa”menghadirkan pembicara Ir Satya Widya Yudha, M.Sc, Ph.D (cand’) Wakil Ketua Komisi VII DPR RI/Ketua Dewan Pakar PP IKA ITS, DR. Ir. Jumain Appe, M.Si (Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti), DR. Ir. Irnanda Laksanawan, M.Sc. Eng (Dewan Riset Nasional), Ir. Kristiono (Ketua Umum Mastel), acara tersebut dihadiri oleh Anggota Dewan Pakar, undangan dan wartawan.

Pada sambutan pembukaan, Ketua Umum Pengurus Pusat IKA ITS DR. Ir. Dwi Soetjipto, MM menyampaikan bahwa Alumni ITS terus memberikan kontribuasi pada upaya membangun Indonesia yang lebih baik kedepannya. Di tahun 2018, jajaran organisasi IKA ITS sudah melaksanakan 2 kali kegiatan FGD, pertama dilakukan oleh IKA FTK ITS terkait industri maritim yang didukung oleh Kementerian Perindustrian, kedua oleh ALTEKIMITS dalam upaya meningkatkan sertifikasi insinyur di Indonesia bekerja sama dengan BKK PII. Setelah acara FGD oleh Dewan Pakar PP IKA ITS, pada tanggal 23 Februari 2018 kembali akan diselenggarakan FGD ekonomi maritime untuk mendorong daya saing dan rantai pasok yang lebih kompetitif.

Terkait dengan materi FGD, Ketua Umum PP IKA ITS menyampaikan “Hilirisasi inovasi riset sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia yang saat ini masih bergantung pada market size dan makro ekonomi. Sedangkan daya saing seharusnya berpusat pada aspek SDM, Inovasi dan Teknologi, agar Indonesia mampu bersaing di pasar global dengan mengekspor produk hasil hilirisasi SDA. Ini sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi yang ingin menggenjot kinerja ekspor agar tidak ketinggalan dibandingkan Negara pesaing utama di ASEAN”.

Ketua Dewan Pakar PP IKA ITS/Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya W Yudha menyampaikan “Keunggulan Negara maju karena didukung kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi. Maka jangan harap Indonesia bisa mengejar ketertinggalan jika tidak memiliki kemampuan inovasi. DPR saat ini sedang menggodok RUU tentang Inovasi”. Satya menambahkan, jangan sampai bonus demografi dengan usia kerja produktif yang sampai 80% karena tidak adanya aktivitas dan pekerjaan berbasis inovasi, justru bonus demografi menjadi ancaman.

Rendahnya anggaran IPTEK masih sangat rendah dikeluhkan oleh Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti) “ Meski saat ini anggaran sudah mencapai 0,25% dari PDB, namun sumber dana berasal 85% dari Pemerintah, sisanya adalah swasta. Mestinya komposisinya dibalik”. Tantangan lain menurun Jumain Appe adalah harus meningkatkan Kompetensi SDM. Saat ini 72% tenaga kerja masih SMP ke bawah. Kebijakan sekarang diarahkan ke vocational Education dari sebelumnya knowledge educational. Dari 4.498 sebesar 80% knowledge educational, dengan link-match terbatas.

Djumain menambahkan, ada 3 program utama di ITS dalam rangka mewujudkan program teaching univerasity, yaitu motor listrik ITS, metalurgi berupa laras senjata dengan PINDAD, kemudian menjadikan ITS sebagai pusat standar desain kapal.

Narasumber dari Dewan Riset Nasional Irnanda Laksanawan menyoroti tentang Kelemahan di era reformasi dan otonomi daerah, blm berjalan desentralisasi riset blm bs berjalan. Dlm UU Risnat Risetek ada Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. Seperti thorium yang banyak di daerah yang harganya setara dengan plutonium. “Perlu Innovation Fund utk mendorong pembiayaan inovasi, karena ini kesempatan untuk meningkatkan partisipasi swasta dalam pembiayaan inovasi. Untuk itu membutuhkan UU Invoasi”, kata Irnanda.

Terkait ekonomi ditigal, Ketua Mastel Kristiono menyampaikan untuk SDM, Indonesia punya. Ada persoalan di industri. Jika tidak ada industri, lulusan vokasi akan bekerja dimana?. Mesti menjadi ekosistem yang utuh. “ Kita boleh heran dengan China yang sudah meninggalkan “Made In” ke “Design by”, sedangkan Indonesia “made in saja belum”. Padahal Indonesia tahun 1996 sudah siapkan Bekasi sampai Bandung sebagi Silicon Value Indonesia”, ujar Kristiono. Sayangnya industri dalam negeri yang masih bergantung pada komponjen impor belum berkembang, karena regulasi yang justru mengenakan impor komponen kena tax 5%-10% sedangkan impor produk jadi tarif 0%.

Kristiono menambahkan, penting kembangkan industri yang memiliki pasar. Kepastian industri dalam negeri dipasar domestik. China lakukan yang sama dan sekarang sudah bergerak ke industri perekayasa. Contoh di produk IT, dengan TKDN 20% jika mau dinaikkan ke 30% oleh Kemenperin tidak bisa karena tidak ada industri komponen dalam negeri. Contoh paling sederhana adalah membangun industri casing berbahan timah yang selama ini diekspor dalam bentuk bahan mentah, biaya membangun industri casing HP hanya Rp 12 triliun dengan pasar untuk Apple, Samsung, dll.

Ketua Umum PP IKA ITS Dwi Soetjipto menambahkan ada 5 aspek yang membuat inovasi dan penerapan teknologi untuk industri di Indonesia tidak berkembang : tidak ada insentif, konflik kepentingan, takut salah (siapa yang bertanggung), kesinambungan kepemimpinan, mindset yang masih inferior. Bagaimana pengalaman di Semen Indonesia untuk membangun kemandirian teknologi saat ini tidak berlanjut.