Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Pintar itu wajib, mampu dan bisa bekerjasama itu harus

Hanya dalam waktu 3 tahun berhasil membawa PT Krakatau Engineering total sales/revenue meningkat menjadi Rp 1 trilyun dari yang semula hanya Rp 80-100 milyar.


Andi Soko Setiabudi pembawaannya sederhana dan gaya bicaranya lugas. Di wajahnya tergambar jelas kesan kesungguhan , komitmen dan konsistensi untuk selalu berusaha memberikan karya terbaiknya. Lahir di Bondowoso tahun 1960, Andi dibesarkan dalam keluarga sederhana yang mencintai kedisiplinan. Diterima di Fakultas Teknik Mesin ITS tahun 1979, Andi dikenal cukup aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan, khususnya kegiatan pada jurusan Teknik Mesin angkatan 1979. Semenjak lulus tahun 1984, Andi mulai bekerja di PT Krakatau Steel dengan jabatan pada Staff Planning Engineering, pada tahun 1994 dia memperoleh kesempatan untuk belajar di University of Wollongong Australia dan meraih gelar Master dibidang material engineering tahun 1996. Sepulang dari Australia dia beberapa kali dipercaya untuk memimpin proyek sebagai Kepala Proyek.

Pada tahun 2001 diangkat sebagai General Manager Perencanaan dan Pengembangan Usaha, pada saat ini aktif merumuskan Roadmap Krakatau Steel 2010 diantaranya mengenai restrukturisasi perusahaan, anak perusahaan yang semula diplot untuk memberi tempat kerja bagi pensiunan diarahkan menjadi strategic business unit (SBU). Sejalan dengan hal itu, dipenghujung tahun 2004, Andi diangkat menjadi Direktur Komersial PT Krakatau Engineering, setahun kemudian dipercaya pemegang saham menjabat Direktur Utama PT Krakatau Engineering yang bergerak dibidang Engineering, Procurement dan Construction.

Tonggak sejarah prestasi PT Krakatau Engineering dibawah kepemimpinan Andi, adalah ketika ditunjuk langsung untuk pembangunan kembali Semen Andalas senilai Rp 200 milyar, dan berhasil dilaksanakan. Sehingga berturut memperoleh kepercayaan pembangunan infrastruktur di Aceh dari Pertamina, PLN hingga rehabilitasi pelabuhan.

Bekerja secara profesional adalah merupakan kita Andi dalam merintis karir.Pintar itu wajib, mampu dan bisa bekerjasama itu harus, tegas Andi Soko. Karena bidang konstruksi tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tapi harus bekerjasama untuk bersama-sama saling memberikan kontribusi. Hasil akhir adalah hasil kerja tim, karena itu saya tidak menghendaki single player, tetapi adalah teamwork.

Menurut Andi, persaingan menjadi kurang sehat dengan diterapkkannya peraturan tender oleh Pemerintah yang mengacu pada penawaran harga terendah sebagai pemenang tendr untuk proyek Pemerintah atau tidak didasarkan atas pada kewajaran nilai proyek. Akibatnya karena kontraktor tidak mau rugi, maka ada 2 kemungkinan yaitu mencari celah mendapatkan keuntungan atau mengurangi kualitas produk atau mengorbankan rasa nasionalisme dengan menggunakan produk impor.

Karena itu, Andi pu berharap Pemerintah bisa melakukan proteksi terhadap produk-produk nasinal yang terkait hajat hidup orang banyak disamping terus mendorong industri nasional meningkatkan kinerja untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya saing. Perusahaan manapun akan kesulitan bersaing dengan produk China, bahkan Amerika Serikat terpaksa harus memproteksi produk dalam negeri. Bukan karena perusahaan China hebat luar biasa, melainkan kebijakan Pemerintah China yang memberikan insentif bagi industri dalam negerinya yang berhasil mengekspor produk-produk ke luar negeri setidaknya sebesar 10%. Nah dari insentif ini, maka perusahaan China memperoleh keuntungan.

Apapun formulanya, bangsa ini harus sadar dan bersatu menghadapi liberalisasi global. Apabila tidak, bukannya tidak mungkin bangsa Indonesia akan membutuhkan waktu 350 tahun utnuk keluar dari cengkeraman penjajahan ekonomi yang dilancarkan negara-negara maju