Berita

Perkembangan ITS

Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya dulu ketika masuk ITS Tahun 1957, bahwa ITS akan menjadi yang seperti sekarang. Seolah jelas terlintas dalam pikiran saya dulu ITS hanya memiliki 2 Gedung kuliah yang saling terpisah. Kini yang tampak di ITS terdapat deretan gedung – gedung megah yang menjadikan ITS agung dan berwibawa. Bagi saya apa yang ada di ITS sekarang adalah sebuah anugerah Tuhan yang harus kita syukuri bersama. Saya dan generasi angkatan saya harus mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat dan berperan hingga menjadikan ITS seperti sekarang.
Saya adalah mahasiswa angkatan pertama ITS dan jurusan Teknik Mesin, masuk ITS pada tahun 1957, ITS masih bernama Yayasan Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember, saat itu ITS hanya membuka pendaftaran untuk 2 program studi yaitu : Teknik Mesin & Teknik Sipil. Kalau tidak salah..tempat praktek dr. Angka Nitisastro di jln. Rajawali yang dijadikan lokasi pendaftaran bagi mahasiswa baru.
Tidak seperti sekarang ITS banyak memiliki gedung kuliah, dulu gedung kuliah hanya ada 2 yaitu di jln.Simpang Dukuh dan jln.Ketabang Kali. Untuk mata kuliah Bahasa Inggris dan Matematika, kuliah dilakukan di Kedokteran Unair dan ada sebagian kuliah untuk jurusan Teknik Mesin dilakukan di jln.Patua yang kini menjadi Gedung STM. Mungkin anda bertanya bagaimana transportasi kami berkuliah dengan jarak lokasi kuliah yang saling terpisah…? Saya masih ingat ada 2 alat transportasi yang sering digunakan mahasiswa pada jaman itu yaitu dengan trem listrik dan sepeda kumbang. Kalau tidak salah Bp. Ananda dan Bp. Supeno adalah teman angkatan saya yang pada saat itu telah memiliki Sepeda Kumbang. Mungkin memiliki sepeda kumbang pada jaman itu seperti memiliki sepeda motor pada jaman sekarang ini.
Dosen perkuliahan saat itu sebenarnya adalah karyawan perusahaan negara seperti Indra (BBI sekarang), Barata, Semen Gresik, Konata (PT.PAL sekarang) yang diperbantukan di Yayasan Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember untuk mengajar. Perusahaan itu jugalah yang menyediakan laboratorium praktek dan kerja praktek bagi mahasiswa. Sedangkan dosen Matematika berasal dari IKIP dan Akademi Angkatan Laut.
Perkuliahan saat itu kebanyakan di Sore Hari, untuk pagi hari biasanya kuliah Fisika di Kedokteran Unair. Kenapa sore hari…? Jangan anda berpikir bahwa mahasiswa saat itu benar-benar baru lulus SMA seperti sekarang. Mahasiswa ITS saat itu kebanyakan mereka yang sudah bekerja semisal : Wartawan, Guru, Pegawai Pemda, Perwira Angkatan laut, Pegawai Pajak dsb. Biaya SPP perkuliahan saat itu kalau tidak salah….Rp.240 untuk 1 tahun. Apa aktifitas kemahasiswaan di jaman itu…? Seingat saya, dulu ada kegiatan mahasiswa menyambut kunjungan mahasiswa ITB ke ITS serta biasanya mahasiswa setiap tahun menyelenggarakan pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandowo dari Semarang.
Ini cerita suka-duka saat berkuliah di jaman revolusi, Saat itu pemerintah berencana melakukan devaluasi Rupiah dari Rp.1000 menjadi Rp.1, saya bersama teman-teman duduk-duduk didepan kelas kuliah sambil menunggu dosen datang, tiba-tiba ada teman saya berlari sambil berteriak memberitahukan ke teman-teman kalau pemerintah sudah melakukan devaluasi Rupiah, saat itu tiba-tiba dosen kami datang dan dia bertanya pada kami, “Lho ada apa ini kok ramai-ramai ?”. Kami jawab, “Uangnya Rupiah sudah diturunin, Pak”. “Diturunin Bagaimana ?”, dosen saya bertanya. “Diturunin dari Rp.1.000 jadi Rp.1″, kami jawab. Dosen saya kaget dan terkejut, dia berkata pada kami,”Kalau gitu kuliah hari ini tidak ada”. “Lho kenapa kok tidak ada kuliah ?”, kami bertanya. “Saya harus segera menukarkan uang saya yang saya taruh dibawah bantal”, dosen kami menjawab. Kami kaget dan tertawa.
Trus dulu mahasiswa laki-laki & perempuan ITS jumlahnya berapa …? Seingat saya, angkatan I yang perempuan Ibu Anik dari jurusan Teknik Sipil. Selanjutnya kalau tidak salah yang lainnya Ibu Anggraini yang sekarang dosen di Teknik Sipil ITS. Yang saya ketahui dari teman-teman angkatan saya hanya 17 orang yang lulus dan dapat diwisuda. Wisudanyapun bukan di Gedung seperti sekarang….kalau tidak salah wisudanya di belakang Simpang Dukuh, bangunannya separuh tembok & separuh papan dipinggir sungai. Jangan anda beranggapan dulu dengan lulus dari ITS anda dapat nilai prestise dan kebanggaan seperti sekarang, ITS dulunya belum cukup diakui lulusannya oleh masyarakat, berkat jasa dr.angka-lah selaku tokoh pejuang yang cukup disegani di Jawa Timur, beliaunyalah yang sering mengajak tokoh-tokoh Jawa Timur untuk memperhatikan dan membantu ITS saat itu. Bahkan pada saat saya wisuda, hadir Panglima Brawijaya, Komandan Angkatan Laut, Pejabat Pemerintah Daerah dll. Semoga kebanggaan saya sebagai bagian dari almamater ITS dapat juga diwariskan kepada generasi ITS selanjutnya. Mungkin itu sebagian penggalan cerita yang saya masih ingat ketika berkuliah di ITS. Yang lainnya yang masih saya ingat, Bp. Urip Sudarman, beliaunya dulu pernah bekerja di Bappeda, yang menciptakan Pin ITS. Untuk lebih jelasnya cerita mahasiswa ITS di awal berdirinya ITS, anda dapat bertanya juga pada Ibu Anggraini, Bp. Pinardi, Bp.Djati dan Bp.Sutrisno.
(Bp. Jayadi Rahmat, Teknik Mesin 1957 – 1965)