Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Nilai Rupiah Kembali Melemah


JAKARTA, alumniITS.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat, setelah tiga hari terakhir perdagangan berhasil menguat. Pelemahan tersebut, dinilai akibat suku bunga acuan BI Rate terlambat dinaikkan.

Berdasarkan data transaksi aktual antar bank, Selasa (3/9/2013), kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ditetapkan BI sebesar Rp10.983 per dolar AS. Kurs referensi tersebut kembali melemah dibanding Senin 2 September 2013, yang mencapai Rp10.922 per dolar AS.

Sementara itu, di beberapa bank, kurs jual rupiah berkisar Rp11.607 hingga Rp11.800 per dolar AS. Sedangkan kurs beli berada di level Rp11.150 hingga Rp11.200.

Di PT Bank Central Asia Tbk, kurs jual rupiah dipatok Rp11.700 dari sebelumnya Rp11.650 per dolar AS, dengan kurs beli Rp11.200 dari sebelumnya Rp11.150 per dolar AS.

Sementara itu, di PT Bank Internasional Indonesia Tbk belum ada perubahan, kurs jual rupiah tetap Rp11.800 per dolar AS. Namun, kurs beli di bank swasta ini tercatat Rp11.200 dari sebelumnya Rp11.000 per dolar AS.

Sedangkan untuk bank pelat merah, kurs jual rupiah di PT Bank Mandiri Tbk tercatat melemah dari Rp11.557 per dolar AS menjadi Rp11.607. Kemudian untuk beli, masih bercokol di Rp11.150 per dolar AS. “Depresiasi rupiah karena BI rate terlambat dinaikkan,” kata Ekonom sekaligus Komisaris Bank Permata Tony Prasetiantono

Menurut Tony, meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 7 persen, namun hal ini tidak berdampak besar untuk kembali menstabilkan nilai tukar rupiah. Apalagi, ditambah dengan defisit neraca perdagangan yang semakin besar.

Tony menjelaskan, dengan inflasi Agustus (year over year) sebesar 8,79 persen, berarti tekanan terhadap kurs rupiah bisa kembali membesar. Di satu pihak, pasar sebenarnya sudah cukup lega dengan kenaikan BI rate menjadi 7 persen.

“Namun, di sisi lain tekanan inflasi masih besar. Jadi, laju penguatan rupiah agak sedikit tertahan. Apalagi data defisit perdagangan kian melebar,” kata Tony. (endy)