Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Migas Nasional Masih Menjanjikan, Butuh Terobosan Kebijakan

Usai gelaran FGD IKA ITS 2019 dengan thema “Memaksimalkan Potensi Migas Nasional Dalam Rangka Membangun Kemandirian Energi’ menyimpulkan berapa hal seperti. Pertama bahwa sekalipun ketahanan energi adalah tujuan pengelolaan migas yang lebih realistis, kemandirian energi tetap perlu diupayakan karena sektor energi adalah sektor yang sangat politis berdimensi global.

Kedua, pendekatan komoditi harus segera ditinggalkan dengan lebih  melihat migas sebagai modal dasar pembangunan terutama untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja di dalam negeri. Ketiga, kegiatan hulu migas perlu lebih ke Kawasan Timur Indonesia, lebih ke lepas pantai, lebih ke gas yang lebih ramah lingkungan dan lebih ke industri petrokimia dg nilai tambah yang lebih tinggi.

 

Keempat, setelah Indonesia menjadi _net impoter  minyak, dan reserves replacement ratio yang membaik, kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan terbukti yang besar masih perlu diberi insentif oleh SKK Migas.

Secara global, pada saat harga minyak anjlok menjadi hanya USD 40 perbarrel, investasi di sektor migas semakin tidak menarik dibanding investasi di sektor teknologi.  Bahkan  pemain migas global -disebut _the 7 sisters_- mulai meninggalkan Asia Tenggara untuk investasi mereka. Indikator _ease of doing business_ Indonesia yang masih belum cukup menarik, situasi investasi migas global yang stagnan ini menambah tantangan yang dihadapi oleh SKK Migas.

Hal-hal yang harus di cermati terkait Migas adalah *paradigma komoditi* masih mencengkeram _mind set_ pengelolaan energi. Seharusnya perlu lebih mencermati aspek *perdagangan* migas. Akibatnya sektor energipun mengidap penyakit sektor pertanian : selalu menjadi obyek permainan harga para pedagangnya dan ekonomi kita tumbuh tapi lingkungan (sebagai tabungan) menjadi berkurang.

Kedua, dalam perspektif ketahanan energi, kita perlu mencermati sisi *permintaan* migas. *Profil permintaan migas saat ini tidak adil*, dan _unsustainable. Ini yang menjelaskan rasio gini yang buruk, ketertinggalan KTI dan penelantaran sektor maritim kita.  Sektor transportasi yang dimonopoli angkutan darat pribadi adalah sumber  ketidakadilan energi yang perlu segera diakhiri.

Ketiga, jika migas adalah modal pembangunan,  untuk menarik investasi di sektor hulu migas ini, perlu dipikirkan sebuah *model bisnis migas baru* di mana kegiatan eksplorasi yang berbiaya besar dan beresiko tinggi bisa dipikul oleh basis investor yang lebih luas bersama Pemerintah sehingga terjadi cost and risk sharing yang menarik.

Dalam perspektif ini skema pembiayaan syariah berpeluang diteliti lebih jauh. Jika aspek perdagangan migas perlu lebih dicermati, maka skema *barter* dalam perdagangan migaspun perlu dipertimbangkan agar kita tidak dipermainkan oleh pedagang migas global.

Terkait strategi untuk memenuhi kebutuhan mgias nasional ke depan, mengingat sampai 2050 peran Migas terhadap penyediaan energi nasional masih besar mencapai 44% (sebagaimana proyeksi dari Dewan Energi Nasional), maka cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah :

  1. Mmgoptimalkan potensi migas dalam negeri melalui kegiatan *eksplorasi yang massive & EOR* untuk peningkatan cadangan dan produksi nasional
  2. Ekspansi NOC(Pertamina) ke manca negara, supply migas dari entitlement lapangan migas di luar negeri/*Bring the barrels home* meningat BUMN Pertamina adalah tulang punggung energi untuk Migas. Perlu insentif dan perlindungan bagi Pertamina jika melakukan ekspansi ke luar negeri. Begitu juga cadangan migas di luar negeri dapat dihitung jadi national energy reservesi.
  3. Integrasi hulu-hilir disektor Migas untuk meningkatkan nilai keekonomian dan dampak ekonomi.
  4. Memastikan jaminan pasokan minyak mentah secara jangka panjang dari negara produsen migas untuk diolah di kilang domestik (sembari menunggu on streamnya pembangunan kilang baru melalui proyek GRR dan RDMP)
  5. Menggarap 74 cekungan Migas yang memiliki potensi sampai 7,3 miliar barrel atau lebih dari 2 kali lipat cadangan migas yang sudah ditemukan sebesar 3,8 miliar barrel. Kemudahan dan insentif berinvestasi perlu ditingkatkan
  6. Mendorong tumbuhnya industri pendukung migas, agar multiplayer effect Migas dapat menjadi energi bagi perekonomian nasional.