Fokus

Menkop UKM Dorong IKA ITS Tumbuhkan Wirausaha Muda

JAKARTA — Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Syarief Hasan mengingatkan, bahwa Indonesia masih membutuhkan sekitar 4,75 juta orang wirausaha. Sedangkan berdasarkan pendekatan usaha formal jumlah yang tersedia 592.467 orang wirausaha, atau masih dibutuhkan sekitar 4,15 juta wirausaha.

“Oleh karenanya pelaku usaha yang tergabung dalam wadah Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA-ITS) dapat bersinergi untuk mendorong tumbuhnya wirausaha-wirausaha  dari kalangan generasi muda,” kata Menteri Syarief ketika berbicara dalam forum group discussion, dalam rangkaian Kongres IKA ITS 2011, di Jakarta Convention Center, Jumat (7/10). Panelis dalam diskusi ini adalah para alumni ITS yakni Kristiono (mantan Dirut PT Telkom), Ridwan Hisyam (pengusaha, Wakil Bendahara Golkar), Sunaryo Suhadi (pengusaha UKM), dan Elly (Ketua Inkubator Bisnis ITS).

Menurut dia, tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, umumnya juga disebabkan tidak seimbangnya pertumbuhan investasi dan faktor lain yaitu minimnya keterampilan kerja. Di sisi lain, sistem pendidikan di Indonesia yang menerapkan metode penilaian prestasi kelulusan siswa dan mahasiswa sering kali hanya terbatas pada penilaian kemampuan academic knowledge, cenderung tidak menjadikan para lulusannya kreatif  untuk menciptakan kemandirian kerja (job creator) karena kurangnya soft skill.

Data Kementerian Pendidikan Nasional memperlihatkan bahwa pada umumnya lulusan SLTA (60,87%) dan perguruan tinggi (83,18%) lebih minat menjadi pekerja atau karyawan (job seeker) dibandingkan dengan yang berupaya menciptakan kerja. Karena itu perlu penanaman jiwa dan semangat kewirausahaan bagi pemuda dan di perguruan tinggi agar mereka percaya diri, selalu ingin maju, mampu melihat peluang dan memanfaatkannya, selalu ingin berprestasi, kreatif dan inovatif, mandiri, pantang menyerah dan berani mengambil risiko.

Dalam pengembangan kewirausahaan, Kementerian Koperasi dan UKM telah dan akan terus menerus mengembangkan program penumbuhan dan pengembangan kewirausahaan,” tutur Syarief. Program tersebut yaitu melalui program coop bekerja sama dengan Dikti-kementerian pendidikan nasional melakukan pendidikan kewirausahaan bagi para mahasiswa yang ikut dalam program coop di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, Diklat keterampilan teknis bagi siswa SMK, para pemuda putus sekolah, pembangunan Tempat Praktik Keterampilan Usaha (TPKU) pada lembaga pendidikan di perdesaan. Lalu, fasilitasi klinik konsultasi kewirausahaan dan pengembangan inkubator bisnis yang dapat secara bersama dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM bekerja sama dengan perguruan tinggi. “IKA-ITS diharapkan dapat mendorong kalangan generasi muda untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan UKM,” kata Syarief.

Adapun Kristiono, mantan Dirut PT Telkom yang menjadi penanggap dalam diskusi tersebut banyak menjelaskan tentang langkah IKA ITS menjalankan Koperasi Syariah Jasa Keuangan TENOV, sejak 2009. “Hingga koperasi kami terus berkembang. Koperasi yang dirikan para alumni ITS, sebagai salah satu sayap implementasi lembaga kajian TENOV ini, telah memiliki aset lebih dari Rp3 miliar,” tuturnya. Tahun depan ditargetkan jumlah aset meningkat setidaknya hingga Rp5,5 miliar.

Hingga saat ini, Koperasi TENOV telah memiliki dua BMT, satu di Cilamaya, Jawa Barat dan di Galeri, Indo, Jakarta Selatan.  “Kedua BMT ini telah aktif mengucurkan kredit lunak kepada para petani dan pedagang mikro,” ucap Kristiono,  yang kini menjabat sebagai Ketua Pengawas Koperasi TENOV.

Nasabah di Cilamaya mayoritas adalah petani dan buruh tani. Jumlah nasabahnya telah mencapai 362 orang. Dana yang dikelola sudah hampir Rp1 miliar. Selain memberikan kredit, BMT Cilamaya juga membangun pusat komunitas masyarakat (community center).

(***)