Rabu, Oktober 23, 2019
Berita

JADILAH PIONIR DI BIDANGMU

Presiden Direktur PT Media Karya Sentosa Sardjono ini dalam struktur pengurus pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Surabaya menjabat sebagai bendahara. Alumni Teknik Kimia angkatan 1981 ini belum lama menduduki posisi tersebut. Di kalangan alumni, mungkin belum banyak yang mengenal Cak Sardjono, kecuali di lingkungan alumni Teknik Kimia.

Namun, namanya sudah banyak dikenal di dunia minyak dan gas bumi, serta pertambangan mineral. Dialah salah satu pendiri PT Mahaka, bersama Muhammad Lutfi, kini Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Cak Sardjono kini juga menjadi pemilik liquified petroleum gas (LPG) plant terbesar dari sisi kapasitas produksi di Indonesia.

Begitu menjadi pengurus, Cak Sardjono langsung aktif. Dia hampir selalu hadir dalam acara yang diadakan pengurus. Dalam rapat kerja nasional PP IKA ITS akhir tahun lalu di Bandung, Jawa Barat lalu, di tengah kesibukannya yang tinggi, Cak Sardjono mengikuti rapat hingga menjelang penutupan.

Lahir sebagai anak ketiga dari tujuh orang bersaudara, dari pasangan ibu Rumini dan bapak Kasim yang keduanya adalah “pedagang kecil” Sardjono merintis karya dan karirnya di dunia bisnis sungguh-sungguh dari awal.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atasnya di SMAN II Semarang, Sardjono yang mendapat nilai 9 (sembilan ) untuk mata pelajaran Kimia di sekolahnya,  mendaftarkan diri di ITS jurusan Teknik Kimia (FTI/T-Kimia) pada tahun 1981 dan menyelesaikannya  pada tahun 1986. Selama di ITS, prestasi dan aktivitasnya biasa-biasa saja dan Sardjono yang memang rendah hati itu berprinsip ingin menjadi seperti sebuah “kapal selam”. Dari luar atau di permukaan laut sebuah kapal selam memang tampak tak bergerak tetapi diam-diam tetap meluncur menuju sasarannya. Sardjono ingin menjadi orang yang fokus dalam satu bidang sehingga pertanyaan tentang mengapa tidak ingin menjadi seorang dosen misalnya, dia menjawab tegas, dia tidak berbakat, hatinya tidak di tempat itu dan terlebih lagi dia tidak punya waktu untuk kegiatan seperti itu. Dia menyenangi bisnis dan itu yang sekarang sedang ditekuninya dan dia  berangan-angan untuk selalu menjadi seorang pionir di lahan itu. Lahan yang digarapnya sekarang, memang masih terasa baru buat pelaku bisnis lainnya, bahkan mungkin dianggap “kotor”. Orang lain lebih senang mencari pekerjaan yang bersih di pandangan mata manusia dan tak peduli itu kotor dalam permainan dagang dan hukum yang berlaku.

Sardjono masuk ke Teknik Kimia pada tahun 1981, sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah tahun 1986, Sardjono muda bekerja di PT Petrokimia Gresik pada tahun 1987-1988. Setelah itu, bekerja di PT Kelian Equatorial Mining (KEM) selama 1,5 tahun sebagai metallurgist. Sardjono muda terus berkiprah. Tahun 1993, Sardjono mendirikan PT Mahaka antara lain bersama dengan M. Lutfi (kini, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal – BKPM), Wisnu Wardana, dan Erick Tohir (kini Direktur Utama TV One). Melalui PT Mahaka ini, Sardjono mengajukan proposal pembangunan pabrik kapur hidrat ke PT Freeport Indonesia.

 

Setelah proyek di Freeport dengan nilai investasi US$37 juta dolar AS selesai, Sardjono memutuskan keluar dari Mahaka. Dia masuk ke bisnis nikel melalui perusahaan milik sendiri, PT Kencana Raya Mega Perkasa di Pulau Ge, Halmahera. Nikel mulai ditambang tahun 1996, dan selesai produksi 2006. Selain itu, melalui perusahaannya yang lain, PT Yudhistira Bumi Bhakti bekerja sama dengan PT Aneka Tambang (Persero) mengerjakan tambang nikel Tanjung Buli. Perusahaan tambangnya ini mulai berproduksi sejak 1998, dengan kapasitas sekarang 1,5 juta ton bijih nikel per tahun.

 

Berusaha di bidang pertambangan bagi seorang sarjana kimia, ternyata sangat menjanjikan. Keahliannya dalam menganalisis logam yang menjadi kandungan tanah sangat membantu, baik bagi pelaku bisnis dari dalam maupun luar negeri. Dari kapur, emas, nikel, batubara atau apa pun jenis hasil tambang itu tentunya membutuhkan keahlian seorang ahli kimia  untuk penganalisaan dan pengolahan dari awal sampai barang jadi. Disini keahlian seorang Sardjono sangat menonjol dan signifikan, pendapatnya hampir tak dapat dibantah oleh para pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Bukan hanya berapa persen kandungan metal yang diketahuinya, ternyata Sardjono telah dipercaya dan menjadi metalurgis pertama di Indonesia yang dikontrak oleh perusahaan asing yang diuntungkan jutaan US Dollar berkat analisisnya.

 

Seorang aset bangsa telah dilahirkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, aset milik nasional yang berprestasi internasional. Disayangkan bahwa negara kita sendiri kurang mengenal seorang Sardjono dan Sardjono Sardjono lainnya yang memang terkadang kurang  mendapat perhatian dari pemerintah seperti banyak bibit unggul lainnya. Kantornya  terkini adalah PT Media Karya Sentosa dimana dia menjabat  Presiden Direktur dan sebagai “tambahan” dia juga adalah Presiden Direktur dari PT Yudhistira HAKA Perkasa, Presiden Direktur di Yudhistira Energi Niaga, Operation Director  di Yudhistira Bumi Bhakti yang bergerak di pertambangan nikel dan Chairman  di Maxima Corpora Senitas.

 

Beristerikan Naniek Lestari, wanita dari Magelang Jawa Tengah, Sardjono dikaruniai tiga orang putera. Berturut adalah si puteri sulung Peni Utami 25 tahun, seorang sarjana jebolan UNS – Solo dan sedang mengambil Sarjana strata 2 di LPPM Jakarta, Raditya Adhi Pradana 17 tahun duduk di Sekolah Menengah Umum kelas 3 dan si bungsu Fero Adhi Mada yang menyusul kakaknya, lahir 6 tahun yang lalu.   

Dia berharap bahwa ITS dapat membentuk mahasiswanya menjadi pribadi yang kuat dan dapat ber “link and match” dengan permintaan pasar. Menjadikan mereka siap kerja dan  bukan hanya siap latih. ITS diharapkan mau berkomunikasi dan bekerjasama baik dengan Universitas lain maupun dengan pemerintah yang terkadang mempunyai dana sangat besar dan tidak termanfaatkan oleh kelompok akademisi

 

Kepada kaum muda pada umumnya dia berpesan untuk tidak cepat merasa puas dan tinggi hati hanya karena bergelar sarjana. Orang sukses tidak ditentukan oleh posisi dan gelar yang dimilikinya tetapi oleh manfaat yang diperoleh baginya dan orang di dekatnya yang telah bekerjasama dengannya dalam menjalankan usaha tersebut. Jangan banyak menuntut tapi perbanyaklah memberi kepada sesama dan bangsa. Sebagai upaya penunjang kesehatan dan juga menjaga komunikasi dengan masyarakat bisnis dan politik, dia memilih olahraga golf sebagai olahraga kegemarannya dan satu-satunya olahraga yang dikuasainya, karena hanya di lapangan golf dia bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan teman-teman dekatnya. PDIP dan PKS pernah menjadi tempatnya menyalurkan perhatiannya terhadap bidang pemerintahan tetapi dia tidak terlalu antusias disana karena minatnya memang tidak di bidang itu.

 

Dia percaya dan yakin bahwa dengan membangun network, jaringan dengan masyarakat luas dimana pun dia berada, akan sangat membantu didalam mempertahankan bahkan meningkatkan eksistensi usaha dan perusahaannya.

Dia sangat menghargai usaha penerbitan Direktori Bisnis ITS ini yang diharapkannya dapat menjadi simpul yang mengikat emosi di antara para alumnus, ITS dan mahasiswa yang masih menempuh pendidikan di almamaternya. Diharapkannya juga buku ini akan sangat berguna sebagai wadah yang bisa menciptakan dan menampung inspirasi dan aspirasi para alumnus, ITS, mahasiswa, masyarakat pemerhati dan pencinta ITS. Semoga.