Fokus

Irnanda Laksanawan Pimpin IKA ITS

JAKARTA – Irnanda Laksanawan akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), untuk periode 2011-2015. Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Indsutri Strategis dan Manufaktur ini meraih 105 suara, mengungguli Ridwan Hisyam (Wakil Bendahara DPP Partai Golkar) yang mendapat 71 suara dari peserta Kongres IKA ITS 2011, yang berakhir Minggu (9/10) dini hari, di Jakarta Convention Center.  Sebanyak 6 suara abstain.

Seusai terpilih,  Irnanda menegaskan bahwa pihaknya akan merangkul seluruh anggota IKA ITS untuk membesarkan organisasi, agar lebih bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.  “Malam ini kita menyaksikan demokrasi yang luar biasa, dengan tingkat keguyuban antaralumni ITS.” Alumni Teknik Mesin ITS angkatan 1980 ini menginginkan para alumni ITS mampu berperan dalam pembangunan. “IKA ITS ini ibarat pesawat, yang bisa membawa para alumni ITS menuju tempat yang diinginkan,” kata Irnanda.
Dalam visi misinya, Irnanda menawarkan lima program kerja jika terpilih sebagai Ketua Umum IKA-ITS. Pertama, menyempurnakan sistem informasi database alumni. Kedua, dia akan mendirikan institusi dan website Center of National Technology dan Public Policy. Ketiga, membuat program komunikasi publik dan media massa untuk mensosialisasikan prestasi ITS dan alumninya.  Keempat, Irnanda segera merumuskan pemikiran dan rekomendasi-rekomendasi strategis secara berkala terkait dengan kebijakan publik dan teknologi. Program kerjanya yang terakhir, konsolidasi organisasi dan penyempurnaan administrasi organisasi IKA-ITS.

Irnanda berjanji akan meneruskan program kepengurusan sebelumnya di bawah Dwi Sutjipto (Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk), maupun sebelumnya di bawah kepemimpinan Kristiono (mantan Dirut PT Telkom). Dia akan memperkuat jejaring yang ada, dengan lebih terkonsep.
Penguatan database pun akan menjadi program utamanya.
“Ada wadah untuk menyalurkan pemikirannya, baik kebijakan maupun operasional terhadap nilai tambah industri, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ucapnya.
Terakhir, Irnanda menyatakan,”Kalau ITS tak bisa berkontribusi bagi bangsa maka pendiri ITS mungkin akan menangis, mungkin menyesal karena kontribusi terhadap bangsa tidak optimal.” (***)