Berita

Gemar Menulis Sejak Kecil

Profesi sebagai jurnalis bukanlah sesuatu yang dicita-citakannya. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang pemburu berita.
Ketika Majalah It’s ITS menghubunginya untuk keperluan wawancara, Nova Sari Sutiksnawati berkomentar sederhana. “Walah, iki jenenge jeruk mangan jeruk. Biasane wawancara kok malah diwawancarai,” ujarnya tertawa renyah memulai wawancara jarak jauh beberapa waktu lalu. Maklum saja, perempuan yang satu ini juga wartawan. Mewawancarai sudah barang tentu adalah makanan sehari-harinya.

Tapi kalau diwawancarai,  alumni Teknik Lingkungan angkatan 1997 tersebut ternyata malah sedikit merasa kikuk. “Pertanyaane ojo sing angel-angel yo, he…he…he…,” kata Arek Suroboyo kelahiran 26 Februari 1979 itu.

Begitulah Ning Nova. Bungsu dari dua bersaudara ini memang sedikit manja dan suka bercanda. Bagi warga Surabaya dan Jatim pada umumnya, wajah Ning Nova mungkin sudah tidak asing lagi. Sebab dia juga salah seorang presenter berita Jawa Pos Televisi (JTV) milik Jawa Pos Grup. Namanya dikenal saat membawakan Pojok Kampung, sebuah rubrik berita televisi yang dikemas dalam bahasa Jawa khas Suroboyoan.

Kendati di tempat berbagai disiplin ilmu keteknikan selama kuliah, ternyata Ning Nova mampu membawakan berita dengan baik. Memulai ceritanya, Ning Nova mengakui gak sengojo menjadi seorang wartawan. Profesi sebagai jurnalis bukanlah sesuatu yang dicita-citakannya. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang pemburu berita. Apalagi di lingkungan keluarganya memang tak ada trah wartawan.

Hanya, sejak masih duduk di bangku SD, lulusan SMA Negeri 2 Surabaya itu sudah punya gemar menulis. Dengan sistem Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) saat itu, kata Ning Nova, guru banyak memberi tugas kepada muridnya. Untuk bahasa Indonesia, tentu banyak tugas mengarang. Gurunya akan memajang setiap karangan yang bagus seperti majalah dinding. Karangan Ning Nova termasuk yang sering dipajang. ”Biyen lek nggawe karangan mesti entuk nilai apik. Nah, pas dipajang rasanya senang sekali mergo karangane diwoco arek-arek sak sekolah,” aku Ning Nova mengenang masa kecil di bangku SD.

Walau pun begitu, saat itu belum ada niat untuk menulis serius atau dorongan dari keluarga untuk menekuni tulis menulis. Motivasi menulis baru didapatnya saat duduk di bangku SMP. Suatu ketika Ning Nova bertemu teman sepupunya, yang kebetulan adalah redaktur pelaksana Tabloid Nyata.

Dalam obrolan ringan, si teman baru mengatakan bahwa menulis itu sebenarnya sangat mudah. Caranya, cukup menuliskan peristiwa yang kita alami sehari-hari ke dalam buku. Jadilah sejak saat itu Ning Nova berlatih menulis peristiwa sehari-hari melalui buku harian.

Kesukaannya menulis terus berlanjut hingga masuk SMA. Awal menjadi siswa baru di SMA Negeri 2 Surabaya, dia diperkenalkan dengan beragam kegiatan ekstra kurikuler. Salah satu SMA favorit di Surabaya itu memang menawakan banyak kegiatan ekstra kurikuler. Namun dari sekian banyak pilihan, Ning Nova jatuh hati pada kegiatan majalah sekolah. “Pikiranku simpel saja, supoyo iso mlaku-mlaku. Soko kono aku mulai kenal dunia jurnalistik,” kata Ning Nova.

Ibarat pucuk di cinta ulam pun tiba, saluran hobi menulis Ning Nova semakin terbuka lebar saat masuk kelas II SMA. Ning Nova yang sudah aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), memperoleh kesempatan menjadi wartawan sekolah yang bisa menulis untuk Surabaya Post. Tentu saja itu adalah kesempatan luar biasa yang membanggakan Ning Nova.

Koran legendaris itu memang memiliki majalah untuk remaja dan anak-anak bernama Kronik Pelajar (Kropel). Dia masih ingat, “barang” pertama yang dikirimkannya ke Surabaya Post adalah foto kedatangan pemerintah Kochi ke SMA Negeri 2. Foto tersebut lalu dimuat, dan Ning Nova pun mendapat honor. Rasa senang, bangga bercampur kaget karena Ning Nova tak percaya ternyata telah bisa memperoleh duit dari hasil keringatnya sendiri. “Cuma kirim foto, terus entuk duit, yo sopo sing gak senang rek. Opo maneh waktu iku aku sik sekolah,” tutur Ning Nova.

Aktivitasnya di Kropel Surabaya Post membawa Ning Nova lebih jauh mengenal dunia jurnalistik, khususnya media cetak. Dia merasa beruntung karena bertemu Heri Priyono, redaktur Kropel Surabaya Post saat itu. Dari “bosnya” itulah dia tak henti-henti mendapat pompaan semangat dan motivasi agar selalu mengembangkan diri sebagai seorang wartawan. Selama bekerja di Kropel, Ning Nova hampir tak pernah ketinggalan mengikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik baik yang diselenggarakan Surabaya Post maupun sekolah. Ning Nova semakin terlibat serius dengan jurnalisme.

Kendati kata orang masih bau kencur karena SMA saja belum lulus, Ning Nova sangat percaya diri meliput berbagai peristiwa, mulai sekitar lingkungan sekolah hingga meliput artis beken. “Rasanya bangga banget. Sik nggawe seragam abu-abu wis iso wawancara artis. Opo maneh entuk duit dewe he…he..,” katanya.

Kesibukan itu terus berlangsung hingga Ning Nova naik ke kelas III. Saking cintanya dengan dunia jurnalistik, menjelang Ebtanas pun Ning Nova malah asyik “kelayapan” meliput perhelatan pemilihan Cak dan Ning Suroboyo. Beruntung dia bisa menyelesaikan soal-soal ujian dengan baik dengan nilai memuaskan.

Setelah lulus, Ning Nova ingin sekali melanjutkan apa yang telah dirintisnya untuk kuliah di jurusan komunikasi. Lantaran berasal dari kelas IPA waktu SMA, Ning Nova nekat ikut kelas IPC saat Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) demi masuk Jurusan Komunikasi Unair.

Tapi takdir malah membawanya masuk Teknik Lingkungan, bidang yang beberapa waktu kemudian terasa asing baginya. “Sebenarnya saya memilih Teknik Lingkungan agar tidak bertemu pelajaran fisika atau matematika. Tidak tahunya malah setiap hari belajar fisika. Sik tambah maneh menggambar teknik, wong aku gak iso nggambar. Puyeng aku,” ujar perempuan bermata minus ini.

Untung saja, Ning Nova masih bisa menyibukkan diri dengan aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Workshop Entepreneurship & Technology (WE&T), sembari tak lupa menyalurkan hobi meliput dan menulisnya yang tak bisa hilang untuk tabloid Ti Amo, salah satu suplemen Surabaya Post.
“Ya ini mungkin cara untuk meredam stres kuliah,” katanya.

Dalam tekanan yang dirasakan demikian berat, barangkali tangan Tuhan ikut bermain. Ning Nova seolah ditunjukkan secercah jalan yang lebih baik untuk dilalui. Awal 2000, Surabaya Post di ambang kehancuran. Mau tak mau, suka atau tak suka, dia harus kembali lebih fokus ke urusan kuliah. Rutinitas kuliah pun kembali dilakoni Ning Nova demi menyelesaikan tanggung jawab pokoknya, yaitu lulus sebagai seorang insinyur.

Namun dua tahun tak nyaris tak berhubungan dengan urusan liputan rupanya membuat Ning Nova kangen. Hatinya terus terusik untuk kembali melakukan aktivitas yang memang disukainya, yaitu jalan-jalan. Akhir 2002, di penghujung masa kuliah, dia mencoba memasukkan lamaran kerja ke JTV, dan ternyata diterima. Saat itu, dia masih menyisakan tugas akhir dan dua mata kuliah.

“Mamiku sudah memberi peringatan. Maklum wong kuliah kari wisuda kan ojok sampe keteteran. Apalagi kerja jadi wartawan, jam kerjanya tak bisa diprediksi. Untung, teman-teman JTV bisa kooperatif. Alhamdulilah, aku berusaha terus, ditambah dukungan wong tuwo karo konco-konco akhire aku sukses lulus tahun 2003 meski agak terlambat,” katanya.

Selama kuliah di ITS, Ning Nova merasakan banyak gemblengan mental dalam setiap kegiatan yang diikutinya. Ning Nova tak pernah absen mengikuti prosesi pengkaderan ITS yang saat itu terbilang masih “angker” dibanding kampus-kampus lain di Jatim. Dari Bakti Kampus, Masa Orientasi Fakultas (MOF) hingga tingkat jurusan diikutinya.

Namun justru hal itulah yang di kemudian hari sangat membantu Ning Nova.
Dia merasakan kehidupan sebagai seorang reporter berita sebenarnya sangat baru baginya. Sebab kendati punya dasar menjadi wartawan, namun menjadi reporter berita, terlebih untuk televisi, ternyata berbeda jauh.

Kalau dulu Ning Nova lebih banyak berhubungan dengan liputan infotainment dengan gaya penulisan yang santai, di JTV dia dituntut mendalami sebuah peristiwa dengan lebih serius. Belum lagi narasumbernya berasal dari beragam profesi, dari kelas atas sampai kelas bawah. Tapi mental Ning Nova sudah terasah di ITS.

Awalnya Ning Nova sempat kebingungan. Namun dengan berjalannya waktu, Ning Nova bisa cepat menyesuaikan diri. Dia pun sedikit-sedikit mempelajari berbagai ilmu yang tak diperolehnya di bangku kuliah. Mulai ilmu hukum, sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. “Lek pas entuk liputan lingkungan sakjane aku seneng. Tapi sayang, memang jarang ada peristiwa lingkungan yang bisa diangkat ke media, apalagi yang berbau kasus,” ujarnya.

Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, tapi soal kerja manusia tak punya kuasa menentukan. Itulah yang diyakini Ning Nova. Memang, bidang pekerjaannya melenceng dari modal akademisnya. Ini pula yang awalnya sempat juga dipermasalahkan sang ibunda.

Seperti orang tua kebanyakan, sang ibu menginginkan Ning Nova bisa bekerja sesuai latar belakang pendidikannya sebagai insinyur bidang lingkungan. Apalagi sang ibu melihat profesi sebagai reporter agaknya sangat berat untuk anaknya. Setiap dia belum tentu bisa melihat anaknya. Sebab tak jarang Ning Nova bekerja dari subuh hingga ketemu subuh.

Ning Nova pun sadar akan keinginan ibunya itu. Dia bukannya tidak pernah berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Dia pernah mengajukan lamaran pekerjaan ke sejumlah perusahaan, tapi toh nggak nyantol ah. Akhirnya sang ibu pun paham. “Yo iku mau. Mungkin rejekinya onoke nang JTV paling yo?” katanya.

Banyak suka dan duka dialami Ning Nova di dunia broadcasting. Sukanya, dia bisa bertemu beragam profesi, pengalamannya bertambah dan kenalannya juga semakin banyak. Dukanya hanya soal hari libur yang tidak bisa dipastikan. Apalagi bila saat Idul Fitri tiba, Ning Nova yang ingin menikmati waktu lebih lama dengan keluarga terpaksa memendam keinginan itu karena tugas sebagai reporter telah menanti.

Sukses menjadi reporter, kesempatan lain datang. Tahun 2003, presenter di JTV bisa dibilang masih langka. Saat itu hanya ada Ning Festin yang setiap hari membawakan rubrik berita Pojok Kampung. Sebagai pemain tunggal untuk acara yang tayang rutin dari Senin-Sabtu, Ning Festin yang juga masih sibuk kuliah kedokteran kewalahan. Ning Nova pun ketiban sampur jadi presenter dadakan. Tapi biar dadakan, ternyata sang produser acara merasa cocok. Jadilah aktivitas Ning Nova menjadi ganda. Pagi menjadi reporter, malamnya menjadi presenter berita Pojok Kampung. Ini dilakukannya hingga Februari 2007.

“Lek dikongkon milih antara reporter utowo presenter, aku lebih seneng dadi reporter–presenter. Soale aku gak cuma moco berita tok, tapi yo weruh kondisi riil nang lapangan,” tutur perempuan yang sering memanfaatkan waktu luang untuk menyalurkan hobi membaca komik, buku cerita atau kisah yang menarik ini.

Perjalanan menjadi seorang reporter diakui Ning Nova banyak memberikan warna dalam kehidupannya. Tiga tahun sebagai reporter floating dengan beragam agenda kegiatan, lalu setahun berikutnya sebagai reporter mingguan, menjadikannya kaya akan cerita pengalaman kehidupan manusia.

Saat menjadi reporter rubrik Pojok Perkoro JTV, berita mingguan kriminal dalam bentuk laporan in depth news, Ning Nova harus banyak bergelut dengan fakta-fakta dan faktor-faktor di balik kasus-kasus pembunuhan atau perkara kriminal lainnya. Banyak pelajaran yang dia peroleh, termasuk salah satunya tentang kematian yang tak bisa diprediksikan. Manusia acap terpancing emosi hingga berujung kematian hanya karena hal yang sebenarnya sepele.

Hati kecilnya tersentak. Dia ingin memperkuat sisi kehidupan spiritual sebelum ajal kelak menjemputnya. Keinginannya yang sejak SMA terpendam akhirnya dilakukannya. Pada 2006, Ning Nova memutuskan mengenakan jilbab dalam setiap aktivitasnya sekaligus menandakan hari-hari baru perjalanan kehidupan spiritualnya.

Kini, setelah dua tahun menjadi produser dan koordinator presenter news sejak 2007, Ning Nova masih menyimpan sejumlah obsesi. Salah satunya yaitu ingin mendirikan playgroup atau taman kanak-kanak (TK) supaya bisa lebih dekat dengan keluarga. “Menurutku, nyenengno dolanan karo arek cilik sambil belajar. Mangkane waktu ditawari dadi guru TK, tak terimo. Mugo-mugo tahun ngarep iso terwujud. Nek gak iso yo tahun ngarepe maneh,” ujar Ning Nova yang sempat menjadi guru TK pada 2003 saat dia juga baru memulai menjadi reporter.
 
Ning Nova punya pengalaman menarik saat menjadi reporter. Suatu ketika, dia ditugaskan wawancara dengan Cak Muhammad Nuh yang waktu itu baru saja menjabat rektor ITS. Usai wawancara, Cak Nuh bertanya,”Mbaknya dulu lulusan mana?”. “Saya lulusan ITS, pak!,” jawab Ning Nova. “Wah, ada juga ya alumni ITS yang kerja di TV? Jurusan apa?” tanya Cak Nuh antusias. “Teknik Lingkungan. Lulusan kemarin bapak yang melantik,” kata Ning Nova. Cak Nuh menyambut,“Oh ya? Kalo begitu jaga nama almamater ya? “Siap, Pak!” kata Ning Nova menimpali pesan Cak Nuh.

Pengalaman itu membekas hingga saat ini. Sebagai alumni ITS, Ning Nova terpacu untuk memberikan yang terbaik dalam kariernya. Dia berharap hal yang sama bisa dilakukan para mahasiswa ITS. “Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar dan aktif di organisasi. Karena itu yang akan menunjang saat kita lepas dari ITS kelak,” katanya.

Ditanya keinginan untuk menjadi sutradara sinetron, Ning Nova hanya tertawa. “Sakjane yo pengin ae. Opo maneh aku yo wis ono pengalaman nggawe setting model untuk ilustrasi berita. Tapi kok gak ono sing nawari yo? Hahaha,” katanya tertawa lepas.

Seperti gayanya saat bertugas sebagai presenter, Ning Nova mengakhiri wawancara dengan sebuah pantun. “Tuku koro nang Pasar Wonokromo, ojo lali pisan tuku blewah Wis sak mene ae aku cerito, njaluk sepuro lek ono sing salah”.

Muhibuddin Kamali