Rabu, Oktober 23, 2019
Berita

China Melambat, Rupiah Melandai

JAKARTA, alumniITS:

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (15/10/2012) diprediksi  melemah. Pasar merespons inflasi AS dan ekspektasi perlambatan ekonomi China.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, potensi pelemahan rupiah awal pekan ini salah satunya dipicu oleh meningkatnya tekanan inflasi di. Akhir pekan lalu, pasar mendapatkan indeks harga produsen AS yang angkanya cukup stabil. Harga produsen indeks (Producer Price Index/PPI) AS sudah diprediksi untuk September 2012 turun jadi 1,8% (year on year) dari sebelumnya 2%. Tapi, core PPI AS sudah diprediksi stabil di level 2,5%.

Data tersebut, menurut dia, dapat menjadi isyarat ancaman inflsi di AS terutama jelang rilis data inflasi AS pada hari Selasa besok.

Karena itu, harapan berapa lama atas Quantitative Easing (QE) tahap ketiga digulirkan juga akan berkurang. “Karena itu, rupiah cenderung melemah dalam kisaran 9.570 hingga 9.600 per dolar AS,” katanya di Jakarta, Senin (15/10).

Saat yang sama, lanjut dia, muncul kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China. Akhir pekan lalu, dirilis data neraca perdagangan China yang angkanya sudah diprediksi masih memburuk. Surplus perdagangan China kembali berkurang jadi US$20,67 miliar untuk September dari bulan seblumnya 26,66 miliar.

Memang, kata dia, data tersebut menimbulkan ekspektasi digulirkannya stimulus oleh otoritas moneter di China yang seharusnya jadi sentimen positif. “Masalahnya, data ini dirilis jelang publikasi data Produk Domestik Bruto (PDB) China pada Kamis
(18/10/2012),” ungkap dia.

Angka PDB China sudah diprediksi masih melambat jadi 7,4% untuk kuartal III-2012 dari kuartal sebelumnya 7,6%. “Kemungkinan ekspektasi stimulus itu baru akan merebak setelah data pertumbuhan ekonominya dirilis,” timpalnya.

Meskipun, lanjut dia, realisasi stimulus itu masih akan lama. Sebab, kemungkinan besar, stimulus itu baru akan dikucurkan setelah berlangsungnya Kongres Nasional Partai Komunis China pada pertengahan bulan November 2012.

Untuk awal pekan ini, pukul 8.30 WIB pasar juga akan disuguhi data inflasi Consumer Price Index (CPI) China. Angkanya sudah diprediksi turun jadi 1,9% (year on year) dari sebelumnya 2%. “Walaupun angka CPI China melambat, tetapi pasar akan hati-hati
merespon data tersebut,” ungkapnya seperti dilansir Inilah.com

Sebab, perlambatan inflasi dapat isyaratkan perlambatan ekonomi China. Tapi, pasar akan fokus pada data PDB hari Kamis. Karena itu, semua rilis data China sebelum hari Kamis akan digunakan sebagai guidance untuk data PDB-nya itu. “Setelah itu, isu
stimulus China merebak. Apalagi, akhir pekan lalu data penyaluran kredit China turun cukup signifkan ke 623,2 miliar yuan dari sebelumnya 703,9 miliar yuan,” imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (12/10/2012) ditutup menguat 20 poin (0,20%) ke angka 9.575/9.580. (ndy)