Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Berbagi ilmu dan Pengalaman dengan Almamater

Kalau ada orang Indonesia hafal di luar kepala tentang konsep Manajemen Six Sigma dan mampu mentransformasikannya kepada orang lain dengan cara lebih menarik, nama Hermein R. Sarengatlah salah satunya.
Alumni InstitutTeknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Jurusan Teknik Mesin ini, begitu piawai menyampaikan prinsip-prinsip manajemen six sigma yang diperolehnya langsung dari tempatnya bekerja, General Electric Company. Itu sebabnya tidak berlebihan jika dia kerap kali diundang untuk menularkan prinsip manajemen six sigma, dari satu BUMN ke BUMN lain, termasuk beberapa perusahaan swasta multi nasional.
Itu pulalah yang kemudian mendasari Ikatan Alumni ITS (IKA-ITS) mengandeng Mbak Hermin begitu dia biasa menyebut dirinya kepada para juniornya untuk menyiapkan para mahasiswa ITS dengan bekal soft skill, agar benar benar siap bertarung di pasar kerja.
“Saya dapat membayangkan betapa bahagianya almamater jika melihat para lulusannya dengan begitu mudah dan amat dinanti-nantikan masuk ke dalam sebuah perusahaan. Inilah yang sedang kami siapkan bersama IKA-ITS dengan membekali diri kepada para mahasiswa tentang pengetahuan soft skill,” katanya.
Tapi, katanya menambahkan, sebelum para maha¬siswa mendapatkan materi itu, maka sebaiknya para dosen yang terlebih dahulu mendapatkan materi ini. “Ini penting biar saya tidak bolak-balik ke Surabaya. Karena memang akan lebih baik jika materi ini diberikan oleh dosennya sendiri,” katanya.
Apa pengetahuan .soft skill yang dimaksud Hermien? Tidak lain kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. “Ini penting, karena banyak para lulusan perguruan tinggi ketika diminta berbicara, menyampaikan ide atau gagasan serta mempresentasikan karyanya, tidak siap,” katanya.
Inilah, kata ibu berputra lima ini menambahkan, kelemahan umum para lulusan perguruan tinggi kita. Sulit menyampaikan ide dan ga¬gasan baik dalam bentuk tertulis apalagi jika diminta untuk mempresentasikannya. Belum lagi kalau mau bicara soal kemampuan teamwork, sangat lemah. “Ini umum terjadi di Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dengan kemampuan seperti itu, orientasi mereka umumnya pada materi atau uang, bukan pada pengetahuan yang memang harus dimiliki untuk pengembangan diri,” katanya.
Dikisahkan, ia pemah mencoba berdialog kepada para mahasiswa dan bertanya tentang apa yang diinginkan mereka setelah lulus atau menyandang gelar sarjana. Jawabannya hampir seragam, mau memiliki rnobil terbaru, rumah mewah dan uang banyak.
“Padahal itu semua perlu proses. Idealnya mereka menjawab butuh pengetahuan untuk mengembangkan diri, karena yang namanya mobil, rumah dan uang akan mengikuti dengan sendirinya jika seseorang mampu mengembangkan dirinya dengan pengetahuan yang memadai,” kata Hermien yang dari tangannya telah lahir tiga perusahaan PMA.