Fokus

Ahli Ekonomi Syariah Jebolan ITS

Tak banyak yang menduga ada alumni ITS yang menjadi pakar di bidang ekonomi syariah. Apalagi kalau dilihat pendidikan S1-nya, sarjana Teknik Mesin.

Muhamad Nafik Hadi Ryandono yang lulus dari ITS tahun 1995 ini adalah penggagas jurusan Ekonomi Islam Universitas Airlangga (Unair). Meskipun tak sedikit cemooh saat mendirikan jurusan tersebut, toh akhirnya terbukti sukses saat ini.

Semangatnya mengembangkan ekonomi syariah didasari pada keinginanya agar Indonesia bisa terhindar dari semua bencana mapun krisis karena ulah manusia yang menjadi homo economicus yang serakah dan melampau batas.

Krisis di Amerika Serikat (AS) saat ini dipicu oleh keserakahan. “Semua permasalahan ekonomi sekarang ini terjadi karena ulah manusia yang super rakus dan super sombong dengan nilai-nilai agama”, tulisnya dalam e-mail yang dikirim ke redaksi.

Nafik bahkan telah memprediksi sebelum krisis di AS bahwa krisis bakal terjadi jika ada pelanggaran prinsip syariah. “Apabila pelanggaran syariah dibiarkan maka akan terjadi gejolak pasar modal yang tidak menentu dan tidak terkendali sehingga akan terjadi krisis dan rusaknya eksistensi maupun mekanisme pasar modal itu sendiri,” ujar putra Magetan ini.

”Dampak selanjutnya akan menimpa sektor ekonomi lainnya misalnya perbankan, sektor ekonomi riil dsb.”, tulisnya dalam draft penutup bukunya yang ditulisnya tahun 2007 dan kini sedang dalam proses penerbitan. Prediksi Nafik kini terbukti dengan kolapsnya ekonomi AS.

Bagi Nafik, tidak ada yang salah dengan Islam tetapi yg salah adalah cara beragama. “Mari kita amalkan ajaran Islam dalam kehidupan kita secara menyeluruh (kaffah) kalau kita ingin mencapai falah (kesejahteraan dunia akhirat).”

“Kita selama ini hanya berpikir Islam hanya sebagai ubudiyah saja dan masih mengesampingkan bagaimana implementasi dalam kehidupan sosial ekonomi,” kata pendiri Center for Islamic Economics (CENFORIS) ini.

Lebih jauh, menurut Nafik, sebenarnya ekonomi Islam telah dipraktekan selama 1000 tahun lebih dan tidak pernah terjadi krisis. Kemiskinan hampir tidak ada. Pernah terjadi suatu masa dimana lembaga amil zakat bingung menghabiskan zakat karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat karena semua telah menjadi pembayar zakat (pada saat khalifah Umar bin Abdul Aziz).

“Coba bandingkan kapitalis yg baru 300 tahun berkali-kali terjadi krisis dan dampak negatif kemiskinan, kesenjangan, kerusakan alam, moral dll. Apa kita sebagai umat Islam masih menyangsikan kebenaraan dan kesempurnaan Islam dalam segala hal?,” tanya Nafik.

Calon doktor yang bakal wisuda pada Maret 2009 di bidang ekonomi Islam dari Unair ini bercita-cita ekonomi syariah menjadi perilaku dan inheren bagi para pelaku ekonomi khususnya bagi umat Islam. Hal tersebut sangat mungkin karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia.

“Namun perlu perjuangan berat mulai dari edukasi, pembangunan kelembagaan, sdm, regulasi, sistem dan tentunya penguasa yang amanah dan istiqomah,” ujar wasekjen Ikatan Alumni ITS periode 2007-2011 ini.

Kesibukan ayah dua anak ini tidak hanya sebagai dosen Departemen Manajemen dan Departemen Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi Unair. Kini juga menjadi direktur Centre for Islamic Economics and Business Resources Development (CIEBERD), lembaga ini dibentuk atas kerjasama Unair dengan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) pada tahun 2005.

Jabatan lainnya adalah sebagai Dewan Pengawas BMT MBA ITS, Dewan Pembina Assosiasi BMT se Indonesia (ABSINDO) Jawa Timur, dan Direktur Islamic Micro Finance Institute.

Beberapa karya ilmiah yang telah diterbitkan adalah “Mengapa Disebut Ekonomi Islam”, “Mempertanyakan Kebenaran Paradigma Sistem Bunga: Bukti Teoritik dan Empirik Haramnya Bunga, Benarkah Bunga Haram?”, dan “Perbedaan Sistem Bunga dan Bagi Hasil”.

Karya ilmiah lainnya, “Dampak Sistem Bunga dan Bagi Hasil pada Perekonomian”, “Sistem Bagi Hasil: Model dan Perhitungannya”, serta “Sukuk dan Perbandingan Sistem Ekonomi Islam dan Konvensional.”