Berita

Raja Sawit dari Aceh – Medan, Bio-Energy masa depan Indonesia

Berawal dari 4.000 hektar kebun sawit di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, saat ni sudah menjadi 24.000 hektar dan 11 anak perusahaan dengan karyawan lebih dari 7.000 orang, menasbihkan Sabri Basyah owner Group Mopoli Raya (GMR) yang lulusan tukang buat kapal dari ITS (Insinyur Perkapalan) sebagai Raja Sawit dari Aceh-Medan.

Lahir di Sigli Aceh tahun 1958, Sabri dibesarkan di lingkungan pekerja keras. Ayahnya, Basyah Ibrahim, mendorong Sabri untuk masuk ITS dan mengambil Teknik Perkapalan agar kelak mampu berperan dalam membangun industri maritim nasional — keyakinan seorang anak bangsa bahwa besarnya potensi kelautan Indonesia akan mampu menjadi “soko guru” kemajuan bangsa.

Diterima di Teknik Perkapalan ITS tahun 1976, Sabri mulai berusaha menekuni dan mencintai bidang ilmu dan teknologi yang dipilihnya atas dorongan sang ayah, dia sendiri sebenarnya menginginkan di teknik mesin. Merasa tertantang dengan teknologi perkapalan yang didalamnya mencakup teknik mesin, teknik arsitektur dan teknik elektro. Sabri meneguhkan tekadnya untuk mengabdi sebagai dosen di almamaternya pada tahun 1982, satu tahun sebelum lulus. Dia mulai melakukan korespondensi dengan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Jerman untuk menempuh program S-2. Namun karena ayahnya meninggal dunia tahun 1983, sebagai anak tertua dia tidak bisa menolak ketika keluarganya menyerahkan “tongkat komando” bisnis kepadanya. Dan insinyur kapal ini tidak melaut tetapi justru naik turun gunung untuk menjalankan perusahaan dengan dua rekan almarhum ayahnya H. Mohamad Sati dan H. Mustafa Sulaeman.

Perjalanan bisnis bukannya tanpa tantangan, 70% lahan kelapa sawit perusahaan berada di wilayah Aceh dan sisanya di Sumatera Utara. Konflik di Aceh sempat membuat produktifitas anjlok sd 40%, dan pukulan lainnya dari perbankan yang enggan mengucurkan kredit bagi perusahaan di Aceh karena faktor keamanan dan kredit macet di Aceh yang mencapai 2,2 trilyun rupiah dan 300 milyar berasal dari industri kelapa sawit.

Kekuatan bisnis ada di jaringan, network. sehingga aktif di berbagai organisasi. Sabri Basyah merupakan mantan Ketua HIPMI Sumatera Utara dan pernah menjadi pengurus di Kadin Provinsi Sumatera Utara. Setelah berhasil di kelapa sawit, Sabri melebarkan bisnis di energi alternatif dengan membuat perusahaan PT Nusantara Bio Energi International (NBEI) menggandeng perusahaan dari Itali dan Singapura, dengan kapasitas produksi 250.000 metric ton per tahun, NBEI akan menghasilkan bahan bakar biodiesel dengan merek terdaftar “NusaFuel” yang memenuhi standar kualitas internasional, yaitu : DIN 14214 dan ASTM 6751.

Menengok keberhasilan negeri Jiran, Sabri mengungkapkan, produksi CPO Malaysia dan Indonesia hampir sama, dan tahun ini produksi Indonesia lebih besar. Tetapi di Malaysia, total produksi industri hilirnya mencapai 80%. Bagaimana di Indonesia, total produksi mencapai 20 juta ton pertahun, namun yang dikonsumsi sendiri hanya 5 juta ton, sisanya diekspor, artinya nilai tambah (added value) dari CPO diambil asing. Kenapa begitu? karena Pemerintah Indonesia tidak memiliki visi yang jelas sehingga tidak ada policy yang menguntungkan kalangan industri.

Apabila Pemerintah dan para pemimpin benar-benar serius mengelola natural resource dengan benar, memiliki komitmen yang kuat untuk pengembangan bio-energy, maka Indonesia bisa menjadi negara super power, setelah China dan Indonesia maka Indonesia. Yang menjadi pertanyaan kapan dan itu tergantung sejauh mana kita berusaha, sejauh mana bangsa ini memberi dukungan, sejauh mana Pemerintah memiliki komitmen

Menikah dengan Rosmery Sabri, yang mengabdi sebagai dosen, dikaruniai 3 putra, Irham Fairisa Basyah (20), Haikal Fairisa Basyah (18) dan Naufal Fairisa Basyah (12).