Berita

Nelly Rosidha Arif Yani Menemukan Lagi Mutiara yang Hilang

Sebaris senyum mengembang dari bibir Nelly Rosidha Arif Yani di suatu siang yang berbalut awan tipis. Alumnus Kimia MIPA angkatan 1999 ITS berjalan dengan langkah ringan, menyapa beberapa teman yang dijumpanya dengan ramah, menandakan semangatnya yang menyala-nyala.

“Di sini, saya menemukan kembali sesuatu yang hilang setelah lulus dari kampus ITS,” katanya saat duduk di kantin The United Nations Children's Fund (Unicef) di Gedung Metropolitan II, sembari meraih gelas minuman yang baru dipesannya.

Itulah yang dirasakan dara yang berulang tahun pada 3 Februari ini sejak bergabung dengan Unicef. Sebagai Corporate Sales pada Communication Departement di Divisi Penggalangan Dana, Nelly kembali bergairah untuk melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat, sesuatu yang pernah hilang ketika dia bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Baginya, bekerja itu adalah kepuasan batin, bukan persoalan duit. Kalau bekerja di hati sudah merasa enak dan senang, kesulitan-kesulitan menjadi tidak berarti. “Ini benar-benar saya rasakan sendiri. Dulu, ketika masih di perusahaan, ketika saya diminta pulang malam saya pasti ngambek. Tapi di Unicef ketika ada even saya angkat-angkat sendiri, yo wis gak masalah. Saya merasa melakukan sesuatu yang besar kendati tidak secara langsung. Iki urusan akhirat,” katanya tertawa lepas.

Di Unicef, tugas Nelly adalah menggalang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan dalam acara-acara tertentu. “Kadang-kadang atasan saya bilang saya cukup berani. Dalam pembicaraan dengan calon klien misalnya saya akan mengatakan kalau kamu membeli kartu Unicef sejumlah sekian,” katanya.

Kendati tugasnya di perusahaan swasta hampir sama dengan apa yang dilakukannya sekarang, namun Nelly merasa hampir tak punya ruang dan waktu untuk melanjutkan idealismenya di waktu kuliah ketika itu. Sambil menyibakkan rambut panjangnya, Nelly mengaku teringat hari-hari saat dia harus berangkat pagi, duduk di meja atau menunggu klien. Setelah itu dia akan makan siang. Lalu pulang. “Terus terang saya sempat shock dan banyak merenung,” ujar cewek yang lagi suka menjomblo ini.

Mungkin Tuhan mendengar keluhannya. Dengan jalan yang tidak disangka-sangka, Nelly terselamatkan dari “neraka” yang membelenggunya. Suatu ketika dia jatuh sakit yang cukup parah. Dia sempat harus menjalani operasi, dan dia punya alasan lebih kuat untuk meninggalkan dunia yang sudah dilakoninya selama setahun. Tak lama berselang kondisinya membaik. Nelly kemudian dipanggil bergabung Unicef.

Memang, akan jauh lebih menyenangkan ketika dia bisa terjun langsung melakukan sesuatu untuk dan bersama masyarakat, sama seperti yang dilakukannya ketika masih menjadi aktivis mahasiswa di ITS. Tapi di Unicef, dia kembali bertemu dengan dunianya.

“Setelah kuliah lalu masuk dunia kerja yang hanya profit oriented, saya merasakan ada ruang yang kosong. Tapi space itu sudah terisi kembali ketika saya bergabung dengan Unicef. Sekarang, perjuangan saya bukan lagi mengejar berapa rupiah yang bisa dapatkan, tapi seberapa banyak anak-anak Indonesia yang harus dibantu di belakang saya,” katanya mantap dengan wajah berseri-seri.

Apa yang sebenarnya membuat Nelly merasa nyaman di Unicef? Bagi Nelly sederhana saja. Di Unicef dia merasa puas dan menjadi orang sukses. Ukuran sukses dalam kacamatanya saat ini adalah seberapa banyak dia bisa membantu dan membuat orang lain merasa senang.

“Ada teman yang bertanya, apa ukuran sukses. Saya jawab kalau dulu waktu kuliah, sukses adalah ketika bisa makan tiga kali sehari. Setelah kerja, saya sukses kalau bisa makan apa yang saya mau. Kalau sekarang, ukuran sukses saya adalah ketika saya bisa membantu orang lain yang membutuhkan,” ujar mahasiswa Priogram S-2 jurusan Media Politik Komunikasi Universitas Mercu Buana itu.

Dia lalu menceritakan sebuah pengalamannya. Seorang teman semasa kuliah mendatanginya dan  bertanya apakah backpack miliknya tidak dipakai. Sang teman sangat membutuhkan backpack tersebut. “Dia saya ajak ke Matahari dan membeli backpack. Setelah itu, dengan mata berbinar dia memeluk backpack dan berteriak kegirangan. Hati saya ikut merasakan betapa senangnya dia,” ujarnya sambil menirukan ekspresi sang teman kala itu.

Nelly yang memiliki hobi tulis menulis ini mengaku dirinya saat ini adalah dia yang berproses sejak kecil. Ayahnya adalah sosok yang banyak berperan membentuk watak, kepribadian dan pola pikirnya. Nelly mengaku banyak mendapat pengalaman yang membuatnya melek dengan situasi dunia yang sebenarnya.

Ketika menginjak bangku kelas 1 SMP, sang ayah menggalang dana untuk karang taruna dengan menjual stiker 50 tahun Indonesia merdeka. Stiker berharga Rp5.000 tersebut setelah dimusyawarahkan di Karang Taruna, akhirnya disepakati dijual berdasar tingkat kemampuan ekonomi warga. “Sing gak mampu yo kurang tapi sing mampu yo lebih Rp5.000,” kata Nelly.

Namun ada yang tidak sepakat karena dianggap menyalahi aturan. Ayah Nelly dipanggil ke kecamatan. Tapi belum sempat memberi keterangan, sang ayah sudah dipukuli tentara. “Jadi waktu saya kelas 1 SMP sudah sering melihat wajah ayah saya biru-biru dan ibu menangis. Dan itu tidak dilakukan untuk dirinya sendiri tapi untuk sesuatu yang lebih besar. Itulah ayah yang saya kagumi,” katanya bangga.

Bukan hanya dalam soal sikap, kebebasan menentukan sikap sebagai seorang anak yang diberikan orang tuanya adalah bekal yang tak ternilai harganya. Nelly teringat saat pertama kali kuliah di ITS. Hanya ada dua kalimat dari sang ayah yang mengantarnya menuju kampus ITS.

”Pertama, anggaplah Surabaya sebagai kampung halamanmu. Sebab, kamu akan tinggal di sana lama dan jauh dari keluarga. Kalau tidak dianggap kampung halaman, kamu tidak akan betah. Yang kedua, seandainya ada hal yang membuat kamu merasa perlu memperjuangkan karena ada ketidakadilan, maka perjuangkan itu,” ujar Nelly seraya kembali meraih minumannya.

Berangkat dari sini, sejak menginjakkan kaki di ITS, Nelly tak pernah merasa khawatir karena restu orang tua yang menyertainya. Satu hal yang selalu dilakukan Nelly adalah meminta izin saat akan ikut aksi demonstrasi. “Dulu setiap kali mau ikut demonstrasi saya selalu telepon ayah. Kalau orang tua yang lain mungkin akan melarang atau berkata jangan. Tapi ayah ibu saya hanya berkata yo wis sing ati-ati, sing akeh moco Bismillah. That's all . Iki sakjane aku gak dianggap anak opo gak?” kata Nelly sambil tertawa lebar.

Seperti umumnya mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya, Nelly bersikap terbuka terhadap segala sesuatu. Sampai suatu ketika kebingungan datang menyergapnya, suatu yang menurutnya wajar dalam proses pencarian identitas.

“Terus terang saya bingung ketika awal masuk ITS tahun 1999. Saya bertemu seseorang lalu diajak ikut pengajian. Ternyata di sana adalah pengajian NII, dan saya dibaiat. Sehari setelahnya, saya cerita kepada beberapa teman. Saya sadar dan tak ikut. Dari teman-teman inilah saya akhirnya banyak berdiskusi dan belajar apa itu pemberdayaan masyarakat dan sebagainya. Saya semakin bersemangat belajar lagi dan lagi,”  kata perempuan yang ingin sekali menulis buku itu.

Nelly semakin dalam terjun langsung dalam upaya pemberdayaan dengan mendirikan sekolah rakyat di Keputih. Sekolah itu sempat bertahan beberapa lama. “Sometimes, saya  merasa kangen bisa terjun langsung. Karena itu memang lebih menyenangkan dari pada hanya sekadar duduk di meja, lobi-lobi lalu menghasilkan deal proyek. Tapi sekarang teman-teman sudah banyak yang bekerja, dan berkeluarga. Saya sendiri juga kuliah,” katanya sembari menghela napas dan mengangkat bahu.

Nelly yang lahir dan besar di Pemalang, Jawa Tengah itu mengaku kini hanya bisa sekadar memberi teladan atas nilai-nilai yang diyakininya terhadap orang-orang di sekitarnya. “Sekarang saya ingin bilang sama temen-teman kalau naik Kopaja itu tidak kalah enak dengan naik taksi atau mobil. Bahkan, dengan naik Kopaja kita bisa merasakan hal-hal yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan,” ujarnya.

Dia merasa beruntung dikelilingi orang-orang yang menurutnya masih memegang nilai-nilai sosial yang ditanamkan sejak kuliah.  “Jangan pernah lupa nilai ITS. Karena saya mendapat banyak hal dari ITS,” ujar Nelly berpesan kepada para lulusan ITS.

Pesan ini sengaja disampaikan Nelly karena melihat banyak teman-temannya berubah setelah lepas dari kampus. Pengalamannya itu dituliskannya dalam blognya. Ketika di ITS, seorang teman yang di matanya tampak sederhana berubah menjadi orang yang selalu menguber-uber materi. Ukuran sukses dipandang dari mobil apa yang dipakai tahun ini, dan mobil apa lagi tahun berikutnya. Ukuran prestasi adalah seberapa sering dia ke luar negeri dan berapa banyak budget cadangan yang dia punya.  “Saya hanya takut jika mereka terlalu larut dalam mengejar materi keduniawian, mereka akan lupa terhadap kaum papa di seberang sana,” tulis Nelly dalam blognya.

Muhibudin Kamali