Selasa, Oktober 22, 2019
Jendela Kesehatan

Naik Pesawat, Telinga Bisa Sakit

PESAWAT terbang bukan lagi alat transportasi yang mahal. Tak sedikit orang menggunakan sarana transportasi ini bila bepergian. Ada beberapa orang yang enggan naik pesawat terbang. Alasannya, mereka pernah merasa telinganya kesakitan. Hal ini rupanya membuat mereka tidak nyaman saat menggunakan alat transportasi ini. Denging, sakit telinga. Gejala yang sering muncul adalah telinga berdenging. Denging pada telinga ini tcrutama muncul setelah pesawat take off. Selanjutnya, diikuti dengan menurunnya fungsi pendengaran. “Telinga rasanya tertutup selaput. Sehing¬ga, suara yang direspon alat indera kita menjadi berkurang,” kata dr Roestiniadi Djako Soemantri SpTHT.
Bila dibiarkan, rasa sakit ini menjalar ke bagian kepala. Gejalanya mirip orang sakit kepala. Lalu seperti ada tekanan besar yang menghimpit telinga. Ini berlangsung selama pesawat tetap di angkasa. “Rasa sakit ini bila dibiarkan dapat memecahkan gendang telinga. Tak main main, dampaknya bisa tuli,” ungkap spesialis THT RSU dr Soetomo Surabaya ini.
Menurut Yusi (panggilan akrah Roestiniadi, Red.), hal tersebut terjadi karena tuba eustachius yang berfungsi mengatur tekanan di organ kepala tidak berfungsi dengan baik. Dalam kondisi normal, tuba eustachius akan melakukan mekanisme membuka dan menutup. Misalnya menguap, menelan atau memijat hidung. Saluran penghubung telinga bagian dalam dan hidung ini akan terangsang dan melakukan mekanisme mrmbuka. “Ini untuk menyamakan tekanan yang ada di luar tubuh dengan di dalam tubuh,” jelasnya.
Saat di pesawat, tuba eustachius tidak bisa membuka dengan sempurna akibat tekanan di luar tubuh terlalu besar. Bisa juga, tekanan diluar tubuh tidak stabil.
Menelan. Oleh karena itu, saat pramugari menyuguhkan permen atau minuman, sebaiknya langsung dikonsumsi. Jangan disimpan saja “Permen dan akan merangsang tuba eustachius untuk membuka setelah ada proses menelan. Dengan begitu, tuba yang letaknya di te¬linga bagian dalam ini akan berusaha menyesuaikan tekanan di luar dengan yang didalam tubuh. Rasa sakit pada telinga dan kepala bisa segera tertanggulangi. Mengurangi rasa sakit di telingan bisa juga dengan melakukan percakapan dengan teman seperjalanan. Atau, mendengarkan musik sambil bernyanyi. tindakan – tindakan tersebut akan membuat tuba eustachius terus membuka dan menutup.
“Sebaliknya, menutupi telinga memakai kapas justru tidak efektif untuk mengatasi telinga berdenging,” kata lulusan FK Unair ini. Begitu pula dengan usaha melebarkan lubang telinga dengan tangan. Tindakan ini, lanjut Yusi, juga tak ada gunanya. Bahkan, bisa menimbulkan bahaya lainnya. Yaitu infeksi atau terluka akibat gerakan tangan tersebut. “Tangan kan tak steril, kemungkinan infeksi atau luka sangat besar,” tambahnya.
Sedang untuk anak-anak, kata Yusi, sebaiknya diantisipasi dengan disusui. Baik dengan ASI ataupun susu botol. Tujuannya sama dengan orang dewasa. Yakni, membuat tuba eustachius membuka karena bayi menelan air susu. “Sebaiknya lakukan sebelum pesawat diterbangkan. Dengan begitu, bayi tidak kaget,” imbuhnya.
Tetes hidung. Tapi ada juga be¬berapa orang yang telinganya. sangat sensitif. Sehingga bila ada perbedaan tekanan di dalam dan luar tubuh, gejala tersebut langsung muncul. Untuk orang-orang dengan kategori tersebut, kata Yusi, sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter akan memberi resep tetes hidung sebelum bepergian. Mengapa obat tetes hidung ? “Muara dari saluran eustachius adalah hidung,” kata istri Prof Dr dr Djoko Soemantri SpJP ini. Penetesan hendaknya dilakukan setengah jam sebelum pesawat mengudara. Caranya, kepala ditengadahkan ke atas. Lebih baik kepala disangga bantal. Lalu, teteskan obat tersebut ke hidung bagian kanan. Dan miringkan kepala, ke arah kanan. Lakukan tindakan ini selama 5 menit. “Setelah itu, ganti hidung sebelah kiri dengan cara yang sama,” tandasnya.