Rehat

Mendengarkan Musik, Kiat Murah Raih Rasa Bahagia

TEMPO Interaktif, Jakarta: Seorang peneliti kardiologi, Mike Miller, selama bertahun-tahun telah melakukan penelitian tentang kebahagiaan, atau tentang sesuatu yang membuat orang bahagia di dalam hatinya, yang biasanya juga terekspresikan didalam fisiknya.Dia memulai dengan studi tentang senyum, dan menemukan bahwa tersenyum ketika menonton televisi atau film, ternyata berpengaruh pada otot dan kelancaran peredaran darah. Dengan senyum, sirkulasi darah menjadi lebih bebas, membuat rileks, dan mendatangkan rasa senang dan bahagia.

Miller kemudian melanjutkan penelitiannya, jika senyum dapat berpengaruh terhadap rasa bahagia, lantas bagaimana dengan musik. Miller kemudian meneliti dengan mengukur tekanan darah pada sejumlah orang yang tengah mendengarkan musik. Hasilnya ternyata cukup mencengangkan, jaringan pembuluh darah orang yang sedang mendengarkan musik ternyata lebih mengendur, lebih terbuka, dan memproduksi sejumlah zat kimia yang melindungi kesehatan jantung. Tetapi ketika pendengar musik itu tidak nampak enjoy dan menikmati musiknya, kelenjar pembuluh darah nampak tak berpengaruh, bahkan cenderung menutup.

Miller juga menemukan, jika musik terlalu keras, bahkan meningkat terus volumenya, justru akan mengakibatkan kekacauan terhadap sistem pembuluh darah dan jantung. Dan jika waktunya berlebihan, akan menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku, dan justru akan membatasi aliran darah, seperti orang tua yang mengalami pengerasan nadi, dan pengerasan arteri, seperti penderita stroke. Tekanan suara yang mengeras, juga bisa menekan sistem kekebalan tubuh, mendorong infertilitas dan impotensi, mempercepat proses penuaan, mengganggu keseimbangan syarat otak, sehingga bisa membuat orang gelisah dan depresi.

“Tetapi musik juga dapat menangkal stress. Musik akan memberikan kita perasaan lebih baik dan senang, dan dalam beberapa hal dapat mendorong rasa euforia,” ujar Miller.

Sejumlah rumah sakit di Amerika Serikat telah menggunakan musik sebagai alat terapi. Menggunakannya sebagai bagian terapi dari penyakit yang disebabkan kurang lancarnya peredaran darah, mendorong relaksasi, mengurangi tensi tekanan darah, stres, dan kegelisahan. Karena musik dapat membantu pasien menjadi lebih rilek, meningkatkan mood dan membantu tidur lebih baik, khusunya bagi pasien dalam fase penyembuhan.

Tetapi bagaimana dengan jenis musik. Mana yang lebih baik, apakah musik klasik, rock, jazz, pop, dangdut, lagu-lagu Beyonce, ST12 atau Dewa.  Miller menemukan bahwa mendengarkan musik yang sama secara berulangkali justru akan mengurangi efek musik terhadap kesehatan tubuh. “Jangan mendengarkan musik yang sama berulangkali. Akan lebih baik jika Anda melakukan variasi jenis musik yang Anda dengar, sehingga setiap mendengar musik baru akan terasa segar, itu akan membawa rasa rileks kembali,” ujar Miller.