Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Cak Karomul yang Saya Kenal

Taicing: Cak Karomul, kendati mengidap kanker pankreas yang semestinya mengharuskan dia banyak beristirahat, masih sempat beberapa kali memimpin rapat di Sekretariat IKA ITS.

Kutipan: “Aku mbeber kloso bareng. Njemput khotib goncengan ambek Pak Nuh.”

Siapakah yang memberi nama acara IKA ITS Business Summit 2010? Tak lain adalah Cak Karomul Wachid. Begini ceritanya. Cak Sugiarto, pengurus pusat IKA ITS yang membidangi urusan bisnis alumni, berencana mengadakan sebuah  pertemuan antaralumni yang bisa menguatkan jejaring bisnis  alumni. Dia pun lantas berdiskusi dengan Cak Karomul selaku Wakil Ketua Pengurus Pusat IKA ITS. Sepakatlah diadakan rapat untuk mematangkan ide Cak Sugiarto tersebut.

Nah, dalam rapat yang berlangsung pada tahun 2009 itulah Cak Karomul mengusulkan nama acara tersebut dengan nama IKA ITS Business Summit. Cak Karomul, kendati mengidap kanker pankreas yang semestinya mengharuskan dia banyak beristirahat, sempat beberapa kali memimpin rapat. Saat itu, Cak Karomul sudah harus menjalani kemoterapi seminggu sekali.

Kalau harus datang ke Sekretariat IKA ITS di Tebet, istrinya dengan setia mendampingi. Istrinya pula yang mengingatkan Cak Karomul untuk segera pulang jika hari sudah mulai larut, karena khawatir kondisinya drop.

Banyak peserta rapat yang baru tahu kalau Cak Karomul sakit kanker, kaget ketika tahu bobotnya menyusut drastis. Berat badan Cak Karomul sebelum sakit di atas 100 kilogram. Setelah terkena kanker, bobotnya menyut hanya berkisar di 60 kilogram. Soal bobotnya ini, Cak Karomul masih sempat berkelakar. “Untung abotku ga sak Thowi. Nek sak Thowi, karek balung thok awakku.”

Jauh sebelum terlibat dalam rapat persiapan IKA ITS Bussiness Summit, Cak Karomul masih sempat pula mengurus ICT Outlook 2009. ICT Outlook adalah kegiatan rutin tiap tahun yang diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan TENOV, sebuah lembaga kajian kebijakan teknologi dan industri, yang pendiriannya difasilitasi oleh IKA ITS.

ICT Outlook digelar sejak 2008. Motor utamanya memang Cak Karomul. Sebelum sakit, untuk mengurus acara ini, Cak Karomul sempat diminta rapat pada pukul 12 malam di rumah dinas Cak Nuh. Kebetulan saya diminta menemani Cak Karomul bersama Hartono (alumni Kimia FMIPA).  Hartono memang yang punya gagasan awal untuk mengadakan ICT Outlook.

Pada ICT Outlook 2009, yang diselenggarakan pada 19 Februari 2009, dengan tubuh yang telah mengurus Cak Karomul masih kuat memberikan sambutan selaku Ketua Panitia, di depan peserta seminar yang dibuka oleh Muhammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu.

Cak Karomul juga masih sempat hadir dalam rapat-rapat persiapan pendirian Koperasi Syariah Tenov Bhakti Nusantara. Ada kejadian lumayan lucu. Untuk keperluan pendirian, para pendiri harus mengumpulkan KTP. Nah, dari KTP inilah banyak yang baru tahu bahwa nama lengkap Cak Karomul cukup unik yakni Karomul Wachid Suro Djogja. Cak Karomul sering hanya menyingkat namanya menjadi Karomul Wachid SD.

Ketika kesehatannya kian memburuk, otomatis Cak Karomul tak bisa banyak  terlibat dalam rapat-rapat IKA ITS, termasuk dalam mempersiapkan IKA ITS Business Summit 2010.  Semua pengurus maklum dengan kondisinya. Cak Karomul juga sempat berobat ke Guangzhou,China. Saya sempat chatting menanyakan kabarnya selama di China. Di atas pembaringan dengan selang infus yang menancap di tangannya, seperti yang saya lihat dalam webcam, Cak Karomul mengobrol melalui sarana yahoo messenger. “Dungakno yo,” tulisnya dalam messenger.

Sepulang dari China kesehatannya sempat membaik. Namun, sekitar awal Februari 2010 Cak Karomul sempat SMS ke sejumlah teman-temannya, yang mengabarkan hasil kemoterapinya yang tidak terlalu menggembirakan. Dia meminta teman-temannya untuk mendoakan kesembuhannya.

Pada 12 Februari sore, saya sempat menjenguk Cak Karomul di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Ada istri dan ibu mertua Cak Karomul yang menjaga. Sang Ibu tengah memandang televisi dengan tatapan kosong.

Sedangkan istrinya sibuk melayani Cak Karomul yang memprotes seorang perawat yang tengah memasang infus untuknya. Cak Karomul sebenarnya tak mau diinfus, karena cairan akan lebih menekan empedunya. Sedangkan, perawat diperintahkan dokter untuk menginfus karena Cak Karomul kekurangan cairan. “Nanti kalau ada apa-apa sampeyan yang tanggung jawab ya,” tutur Cak Karomul dengan nafas agak tersengal.

Kebetulan pada jam bezuk itu, saya bersama Pak Harjanto (alumni Elektro, mantan Direktur PT INTI), tak banyak mengobrol dengan Cak Karomul. Kami lebih banyak melihat saja. Ketika kami pamit, Cak Karomul berujar,”Sepurane nek ono salah. Tulung didungakno ae yo. Iki usaha wis ga kurang-kurang, wis sampek berobat nang Chino barang,” katanya.

Sesampai di rumah, pada malam harinya, saya mendapat SMS dari istri Cak Karomul yang diteruskan oleh Cak Soni Sontani (Alumni Teknik Fisika). Isinya: “AWW. Mhn doa dari teman-teman, Mas Karom sdg kritis dirawat di imc RS
Mitra Keluarga Kelapa Gading 22:27:30″. Malam itu juga saya mendapat kabar, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, malam itu juga, di tengah kesibukannya, datang ke rumah sakit.

Cak Nuh memang akrab dengan Cak Karomul sejak mahasiswa. “Kalau kemana-mana saya sering dibonceng Vespa oleh Cak Karomul,” kata Cak Nuh bercerita, saat acara buka puasa di rumah dinasnya, menjelang Lebaran lalu. Cak Nuh juga mengungkapkan bahwa Cak Karomul adalah putra kiai besar, Prof. KH Syaffii Karim. Ayah Cak Karomul adalah mantan Rektor IAIN Sunan Ampel.

Cak Karomul pernah bercerita, pada masa mahasiswa, dia dan Cak Nuh sering ikut mengurus pelaksanaan salat Jumat. “Aku mbeber kloso bareng. Njemput khotib goncengan ambek Pak Nuh.”

Pada 13 Februari, bersama teman-teman dari Bandung (Cak Feri, Cak Iwan, dan Cak Januari), saya berencana bezuk Cak Karomul lagi. Ketika teman-teman dari Bandung masih di tol Cipularang, datanglah SMS yang mengabarkan bahwa Cak Karomul telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Cak Agus Lengky langsung mengabarkannya di milis alumni ITS. Isinya: “Berat banget nulis posting ini.
Kawan, konco, sahabat, aktivis mbuh opo maneh julukane…, Cak Karomul Wachid, siang ini, telah meninggalkan kita selamanya. Kembali ke haribaan sang kuasa. Ya Allah, terimalah segala amal kebaikannya, terimalah di sisimu, ampunilah segala khilafnya, angkatlah derajatnya. Tabahkanlah yang ditinggalkannya. Amin yaa robbal aalamiin.”

Setelah mengabari sejumlah teman, termasuk rombongan dari Bandung, saya bersiap meluncur ke rumah duka di kawasan Depok. Alhamdulillah, banyak handai taulan dan teman-teman alumni yang ikut menyalati almarhum.

Teman-teman alumni yang karena waktu dan jarak, ada yang memilih langsung ke taman pemakaman umum Jeruk Purut, menunggu pemakaman. Akhirnya pemakaman berlangsung menjelang petang.

Saya mengenal dekat Cak Karomul barulah pada 2004, tepatnya ketika mulai menjadi pengurus IKA ITS di bawah kepemimpinan Cak Kristiono. Pada periode ini Cak Karomul menjadi Sekteraris Jenderal.

Mantan Direktur Utama PT Wahana Bhakti Insani (WBI), perusahaan yang difasilitasi pendiriannya oleh IKA ITS ini, pernah bercerita awal mula aktif di IKA ITS. “Saya aktif gara-gara Cak Djawahir,” tuturnya.

Kok bisa?. Begini ceritanya. Pada masa menjelang reformasi, 1997, Cak Karomul ingin melihat-lihat suasana di gedung DPR/MPR yang tengah diduduki mahasiswa. Di depan pagar gedung tersebut, ada spanduk solidaritas alumni ITS. Ada sosok berambut gondrong di bawah spanduk. “Iki alumni ITS yo…saya ikut gabung ya,” kata Cak Karomul sambil bersalaman dengan pria berambut gondrong, yang belakangan dikenalnya dengan nama Cak Jawahir. Sejak itulah Cak Karomul menjadi salah satu motor utama IKA ITS.

Ning Karina (alumni Teknik Sipil) mencatat: ….Dan juga beberapa Cak dan Ning alumni yang dulu (kira-kira era th 97 -awal 2000an) sama-sama berjuang membuat IKA ITS berdiri dan tetap beraktivitas – meskipun tanpa ada tunjangan/sponsor dan lain-lain,  dengan mengedepankan kepentingan bersama, antara lain Cak Djoko Eko, Cak Bambang Sebul, alm Cak Karomul, alm Cak Kuncoro, Cak Pudjo, Cak Rudy, Cak Sony, Cak Sentot, Cak Zoher, Cak Boy, Cak Evo, Cak Jogyo, Cak Helmi, Cak Imron, Cak Rasdi, dan lain-lain.

Tempat meeting berpindah-pindah dari kantor yang satu ke kantor yang lain, paling favorit kantor Cak Djoko Eko dan alm. Cak Karomul dengan menu tetap kopi, teh, pisang goreng, ubi goreng dan kacang goreng. Sekali-kali nasi goreng.”

Dedikasi Cak Karomul untuk ITS dan IKA ITS memang tak diragukan. Hebatnya, dia masih bisa aktif di organisasi sosial lainnya. Cak Karomul adalah Presiden Kicau Mania dan Presiden Koi Owners of Indonesia Society.  “Sebenarnya pelihara binatang memang hobi saya sejak sekolah dasar. Saat itu saya memelihara burung, ikan, dan kucing. Karena keterbatasan dana, yang dipelihara adalah burung murah semacam kutilang dan gelatik. Adapun ikan, saya pelihara ikan-ikan kecil di akuarium. Kucing pun jenis kucing kampung biasa. Keluarga tak melarang hobi saya ini. Memang hanya saya di keluarga kami yang punya hobi ini,” kata Cak Karomul dalam wawancaranya dengan Jurnal Nasional edisi 14 Juli 2007.

Cak Karomul juga aktif dalam paguyuban alumni sekolah bisnis Prasetya Mulya. Sebelum meninggal dia sempat mengurus pembuatan buku alumni Prasetya Mulya.

Dengan luasnya pergaulannya itu, tak heran jika banyak yang merasa kehilangan Cak Karomul. Tentu saja yang paling kehilangan dan selalu merindukannya adalah istri dan dua anak Cak Karomul, yang salah satunya masih kuliah di Jurusan Desain Produk ITS.

Kerinduan itu tergambang pada postingan Sang istri, Nana Sapto Putri, di wall facebook Cak Karomul. Bu Nana menulis pada 6 Oktober 2010 : ”Honey maafin aku ya … tadi siang pulang dari servis mobil ada kiriman majalah Alumi Prasetiya Mulya covernya ada gambar kamu & aku baca di dalam majalah aku jadi inget kamu & tak terasa air mata keluar membasahi pipi. Ya Allah Ampunilah dosa suamiku ya Allah terimalah Amal Ibadah & lapangkanlah alam kuburnya. Hanya doa yang bisa melepas rindu ku pada mu honey. Amin”

Selamat jalan Cak Karomul. Jasa-jasamu untuk ITS dan IKA ITS akan selalu kami kenang.

Thonthowi Dj

Biodata
Nama :Karomul Wachid SD, MM.
Tempat/Tanggal Lahir :Jogjakarta, February 23, 1962
Riwayat Pekerjaan
1. PT Wahana Bhakti Insani : 2007 – 2008
2. Asia Netcom (Asia Global Crossing) 2002 – 2006: Country Manager
3. PT Tigatra Telematindo 2001 – 2002: Operation Director
4. Global One Communications, Inc 1998 – 2001: Sales Director
5. AT&T Asia/Pacific, Inc 1996 – 1998: Director, 1994 – 1996: Senior Account Manager, 1992 – 1994: Sales & Service Manager,
6. PT Kirana Yudha Teknik 1990 – 1992: Project Manager
7. PT Radio Frequency Communications 1988 – 1990: Sales Engineer, 1986 – 1988: Engineer
Riwayat Pendidikan
1995 – 1996: Lulusan Magister Manajemen Prasetya Mulya
1981 – 1986: Lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya