Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

7 Rekomendasi IKA ITS Untuk Meningkatkan Daya Saing Ekonomi Indonesia

*PERS RELEASE*
*INTERNATIONAL BUSINESS SUMMIT IKA ITS 2018

*Cerdas Berinvestasi Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Dengan memperkuat Sektor Energi, Maritim dan UMKM*

*Jakarta-Indonesia.* 28 Nopemberi 2018.
Perkembangan ekonomi nasional yang sedang menghadapi tantangan sepanjang tahun 2018, kinerja investasi yang relative rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tren industri 4.0 serta menjelang tahun 2019 yang merupakan tahun demokrasi dengan akan diselenggarakannya Pemilihan Presiden adalah momen penting yang dapat mempengaruhi situasi ekonomi Indonesia.

Data BKPM menunjukkan realisasi investasi (PMA+PMDN) sepanjang tahun 2018 diprediksikan mencapai Rp 730 triliun atau lebih rendah dibandingkan target Rp 765 triliun, meningat kinerja investasi sampai kuartal III 2018 justru menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Mengingat masih lesunya kinerja ekspor, maka harapan pertumbuhan ekonomi dapat di topang dari investasi dan konsumsi rumah tangga. Pada sisi lain, current account deficit (CAD) terus melebar, akibat impor yang lebih besar dibandingkan ekpsor, khususnya meningkatnya biaya impor energi karena kurs rupiah yang melemah sepanjang tahun 2018 serta masih dominannya penggunaan energi berbasis fosil sedangkan Indonesia kaya akan sumber daya energi terbarukan. Patut kita memberikan apresiasi atas upaya Pemerintah mendorong pemanfaatan energi non fosil berupa kebijakan B20 untuk BBM solar dan pengaturan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan yang bisa menjangkau masyarakat luas seperti mikro hidro, angin dan matahari. Pelibatan masyarakat luas dalam pengelolaan energi adalah langkah yang tepat dan perlu didukung Pemerintah. Kami menyambut baik Permen ESDM No 49 Tahun 2018 tentang penggunaan sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap oleh konsumen PT PLN (Persero).

Sektor UMKM merupakan pondasi dasar ekonomi di Indonesia, dengan jumlah perusahaan UMKM yang mencapai 59,2 juta, maka sektor ini adalah penggerak ekonomi sekaligus kontributor lapangan kerja paling besar dibandingkan sektor lainnya. Namun tersebarnya sektor UMKM diseluruh Indonesia dengan jangkauan daerah yang begitu luas, maka peran Pemerintah Daerah akan sangat menentukan dalam membangun UMKM yang kuat dan mampu bersaing di liberalisasi perdagangan. Kuatnya sektor UMKM akan mendukung penguatan ekonomi nasional, sebaliknya jika sektor UMKM terpuruk maka akan melambat pula kinerja ekonomi nasional. Era ekonomi digital dan industri 4.0 menjadi tantangan bagi Pemerintah Pusat, Daerah dan pelaku bisnis UMKM untuk dapat memanfaatkan perkembangan tersebut sebagai penopang kinerja UMKM.

Sebagai bagian dari komponen bangsa yang memiliki kepedulian untuk terus berkontribusi dalam membangun Indonesia, Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS menjelang berakhirnya tahun 2018 menyelenggarakan kegiatan Internasional Business Summit 2018 dengan mengusung thema “Smart Investing To Accelerate Indonesia’s Economi Growth : Strengthening Energy & Maritime Sector and Nurturing New Local Business”. Kegiatan ini dibagi menjadi 3 sesi yaitu :

Maritime Theme : Sustainable investing in Maritime Sector As A Bridge To Accelerated Economic Growth
Energy Theme : Energy Sector Investment Growth As A Stimulus For Accelrated Economic Growth
Local Bussiness Theme: Supporting The Acceleration of Economic Growth By Increasing New Local Businesses
serta ada sesi khusus future technology exhibition dan Development Future Business.

Sebagai Keynote Speech adalah Menteri ESDM Iganisus Jonan, adapun pada sesi diskusi panel akan diisi oleh pembicara dari dalam negeri dan luar negeri, yaitu : Nova Iriansyah Pjs Gubernur Aceh, Sukandar Wakil Kepala SKK Migas, Syarief Widjaja Kementerian Kelautan, Bambanga Haryo dari DPR, Leung Kwan Ho, Irnanda Laksanawan, Franz Kufner dan lainnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat IKA ITS, Dwi Soetjipto mengatakan “Perlu terobosan kebijakan yang mampu meningkatkan kinerja sektor yang memiliki potensi besar yang memberikan dampak bagi penguatan ekonomi berkelanjutan. Potensi maritim dan energi masih bisa digarap lebih intensif dengan ruang pertumbuhan sangat besar, adapun sektor UMKM dan pariwisata adalah sektor yang mampu mendorong terwujudnya pemerataan pembangunan”. Terlebih dengan ekonomi digital saat ini, maka akan memudahkan eksplorasi potensi UMKM dan pariwisata. Saat ini pariwisata telah menempati posisi ke-2 sebagai sektor penyumbang devisa terbesar, sedangkan potensi pariwisata masih sangat banyak dan tersebar luas di Indonesia, kata Dwi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Acara Djohan Safri menyampaikan “Melihat dinamika acara yang sangat baik serta respon masyarakat terhadap acara IBS 2018, maka kegiatan ini direncanakan akan menjadi acara tahunan dengan fokus pada isu-isu yang menjadi perhatian nasional”. Ini menunjukkan keberadaan dan kontribusi Alumni ITS sangat diharapkan sebagai salah satu elemen yang bermanfaat dalam membangun Indonesia, pungkas Djohan.

Secara keseluruhan Ikatan Alumni ITS menyampaikan rekomendasi kebijakan sebagai berikut :

Melanjutkan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah selama ini agar dalam menyongsong iklim investasi di masa mendatang dapat lebih cermat dan selektif membuka ruang investasi asing di Indonesia, sektor usaha yang berdampak luas bagi masyarakat karena menguasai hajat hidup orang banyak ataupun penguasaan teknologi yang masih kurang hendaknya dapat diperuntukkan untuk investasi dalam negeri.
Investasi yang padat teknologi, hendaknya dapat diikuti dengan kebijakan yang mendorong terjadinya alih teknologi kepada SDM Indonesia serta dapat diciptakan kolaborasi riset antar lembaga, baik Pemerintah, Swasta maupun Perguruan Tinggi. Daya saing jangka panjang sebenarnya adalah dibidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi, keunggulan daya saing dibidang Sumber Daya Alam (SDA) / bahan baku hanyalah daya saing jangka pendek.

Pemerintah perlu melakukan akselerasi bauran energi sesuai dengan target yang telah ditetapkan, selain karena sumber daya energi terbarukan yang melimpah, maka kebijakan bauran energi ini akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, karena semakin berkurangnya impor BBM Fosil, mengingat posisi Indonesia yang sudah nett importir minyak dengan kisaran produksi diangkat 800 ribuan barrel dan kebutuhan diangka 1,6 jutaan barrel.

Implementasi industri 4.0 hendaknya tidak menyebabkan berkurangnya lapangan kerja, untuk itu Pemerintah harus menyiapkan peralihan dengan baik, dan mampu mendorong tumbuhnya sektor-sektor usaha baru yang memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar.
Kebijakan Pemerintah yang saat ini menjadikan Indonesia sudah berdaulat di maritim khususnya menyangkut perikanan sudah baik, namun industrialisasi belum berjalan dengan baik, sehingga menjadi sumber masalah lain pada saat hasil tangkapan ikan melimpah. Untuk itu, perlu ditumbuhkan kawasan industri dan penunjangnya diberbagai pusat perikanan.

Pemerintah agar meningkatkan perhatian dan alokasi anggaran untuk sektor yang terkait dengan pro job, pro poor, pro growth dan pro environment.

Diperlukan pembaharuan pola kerjasama dengan berbagaipihak terutama dalam menunjang pembangunan berkelanjutan melalui pola kerjasama dengan melibatkan: Pemerintah, Perguruan Tinggi, Pelaku Usaha, Masyarakat dan Sumber Daya Alam (Lingkungan Hidup).

Untuk informasi lebih lanjut sehubungan pers release dapat menghubungi Soni Fahruri (Koodinator Seksi Seminar) WA: +6281290291005/ HP: +6281556733464