BeritaFokusFoto Kegiatan

Terus Dorong Indonesia Menjadi Poros Maritim Dunia, IKA FTK Gelar FGD di Kementerian Perindustrian

Sebagai bagian dari dukungan mewujudkan pembangunan ekonomi maritim yang berkelanjutan, Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Kelautan ITS (IA-FTK ITS) pada tanggal 23 Januari 2018 bertempat di Gedung Kementerian Perindustria menggelar Maritime Focus Group Discussion (MFGD), dengan tema “Terobosan Industri dan Teknologi Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia 2025” . Dalam FGD tersebut focus bahasa disektor efektivitas transportasi laut untuk penguatan logistik nasional.

Kegiatan FGD yang mendapatkan dukungan dari Kementerian Perindustrian tersebut mendapatkan sambutan yang antusias dari berbagai kalangan, tidak hanya alumni ITS. Diperkirakan 100 peserta dari berbagai latarbelakang seperti akademisi, pengusaha, BUMN, praktisi maritime, industri perkapalan, dan lainnya hadir pada acara FGD yang dibuka oleh Ir. Harjanto, M Eng., mewakili Menteri Perindustrian, sekaligus sebagai Keynote Speaker.

Pada acara Maritime Focus Group Discussion (MFGD) terdapat tiga sektor yang dibahas dalam acara tersebut, yaitu 1. Sektor Industri dan Teknologi Transportasi dan Logistik Maritim, 2. Industri dan Teknologi Ketahanan Energi Maritim, 3. Industri dan Teknologi Kelautan Perikanan, Pariwisata maritim.

Diskusi di yang dipimpin oleh Dr.Ing Setyo Nugroho dengan tema ‘Industri dan Teknologi serta Transportasi Logistik Maritim’ itu menghadirkan CEO PT Pertamina International Shipping Ir Subagjo H Muljanto Msc, Direktorat Jenderal Hubla yng diwakili oleh Ketua FTK ITS Abdul Azis, Dirjen ILMATE Kemenperin Ir Harjanto, Ketua Nasdec ITS Ir. A.A Masroeri, Ketua ABUPI, Ir Aulia Febrial Fatwa dan Direktur Meratus Line Slamet Raharjo.

Pada paparannya sebagai keynote speech, Dirjen ILMATE Kemenperin Ir Harjanto menjelaskan Rencana Induk Industri (Ripin) Tahun 2015-2035 yang dikonsep institusinya menjadi harapan bagi berjalannya Poros Maritim Dunia. Dalam Ripin itu, industri di sektor maritim menjadi prioritas di antaranya industry perkapalan nasional. “Pemerintah sejak tahun 2012 sudah membuat Road Map industry perkapalan, dan ditargetkan tahun 2025 kapasitas industri perkapalan dalam negeri sudah semakin capable,” ujar Harjanto.

Sedangkan CEO PT Pertamina International Shipping Ir Subagjo H Muljanto Msc menegaskan bahwa salah satu tolok ukur keberhasilan visi Poros Maritim Dunia, paling tidak kita menjadi tuan di negeri sendiri. Beberapa tantangan dalam mewujudkan cita-cita tersebut adalah bagaimana mengurangi delay yang masih menjadi salah satu faktor penghambat dan jika bisa diatasi dapat menghasilkan keuntungan untuk perusahaan.

Ia berharap untuk desain paling tidak Indonesia bisa menjadi tuan rumah sendiri. Maka dari itu alumni FTK ITS harus memikirkan benar konsepnya. Beberapa penghambat industri maritim Indonesia menurutnya soal kurangnya kwalitas dari pertumbuhan finasnial, crew kapal, shipyard capability, indutri pendukung dan ship designer.

“Kita sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sarana transportasi kapal yang mampu menjangkau lebih dari 17.499 pulau,” tandasnya.

Selanjutnya, Abdul Azis yang mewakili Ditjen Hubla menyampaikan bahwa program tol laut yang berisi konektivitas sudah sangat bagus untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia. Namun implementasinya di lapangan yang masih perlu penyempurnaan. Keseimbangan barang dari Jakarta ke daerah harus terus ditingkatkan, untuk itu pusat pertumbuhan ekonomi didaerah harus digenjot.

Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Ir Aulia Febrial Fatwa menyoroti agar untuk pelabuhan tidak terfokus pada BUMN Pelabuhan seperti Pelindo 1, Pelindo 2, Pelindo 3 dan Pelindo 4, namun dengan adanya UU No.17 tahun 2008 tentang Pelayaran, terjadi perkembangan secara fundamental terkait adanya reformasi pelabuhan. Di mana badan usaha pelabuhan bisa beroperasi yang sudah mengahsilkan value untuk kemaritiman Indonesia. Sehingga peran swasta juga harus didorong dan bagaimana bisa bersinergi dengan BUMN untuk meningkatkan utilitas pelabuhan.

Ketua National Ship Design and Enginering Center (Nasdec) Ir. A.A Masroeri dalam paparannya menjelaskan lebih kepada perjalanan Nasdec dari tahun 2006 hingga saat ini. Ia optimis, Nasdec akan menjadi pusat desain kapal yang sangat berpengaruh dalam perjalanan industri perkapalan nasional.

Persoalan belum mampunya industri perkapalan dalam negeri, muncul pada paparan, kepala cabang Surabaya PT Meratus Line, Slamet Raharjoyang mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kemunduran industri perkapalan nasional. Meratus Line sebagai salah satu perusahaan pelayaran menaruh harapan pada industry dalam negeri. “Tahun 1995, Meratus Line sudah pesan 17 kapal dari PT Caraka Surabaya. Tahun 2005, Meratus Line pesan 17 kapal dari galangan luar negeri . Ini bukti yang seharusnya kita bertambah tetapi malah menurun,” kata Slamet.

Namun sayangnya kualitas dari aspek waktu pengerjaan di industry kapal dalam negeri masih belum baik sehingga terjadi delay dalam pengiriman. Hal ini mengakibatkan industry pelayaran melirik galangan kapal luar negeri.
“Kalau kondisinya seperti ini terus, tahun 2017 kemarin bukan hanya Meratus yang pesan dari luar negeri, tetapi Temas dan perusahaan-perusahaan lain juga pesan di luar negeri. Ini jadi PR kita bersama,’ pungkasnya.

ITS sebagai pusat perguruan tinggi dalam bidang maritime turut menyampaikan pemikirannya, melalui Dekan FTK ITS, Prof Daniel Rosyid. Peran perguruan tinggi tentu sangat besar dalam mendukung keberhasilan ekonomi maritime. Tidak hanya dalam konteks keahlian ITS dibidang industry perkapalan, namun ekonomi maritime juga membutuhkan pendukung lainnya seperti navigasi, industry pengolahan berbasis darat dan lainnya.

Sebelumnya pada bulan November 2016, Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS telah menyerahkan Buku Rekomendasi kebijakan kepada Presiden Jokowi yang berisi masukan Alumni ITS dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Kegiatan yang dilaksankaan Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Kelautan ITS tentu upaya Alumni ITS untuk terus mengawal pelaksanaan ekonomi maritime di Indonesia. Ini salah satu bentuk darma bakti ITS kepada Indonesia