Selasa, Oktober 22, 2019
Rehat

SUATU SORE YANG TEDUH di AL HARAM

SUATU SORE YANG TEDUH
di AL HARAM
Masjidil Haram, 6 Juli 2011

Ya Rabb,
Di pintu Multazam Mu,
Tak kuasa lagi kugerakkan bibirku…
Lidahku seketika tertunduk kelu,
Terbayang lautan dosa dan maksiat yang mengotori sukmaku…

Biarlah Hajarul Aswad dan tetesan air mataku,
Menjadi saksi dalamnya penyesalanku…

Aku malu ya Rabb…
Aku malu meminta lagi sebulir pun kepada Mu,
Kusadari limpahan nikmat Mu tak terperi…
Dan Engkau lebih tahu semua matra hidupku,
Yang nyata dan yang tersembunyi…

Aku rindu pada kejernihan jiwa sepasang kekasih Mu,
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,
yang menuju rumah Mu,
lalu memohon ampun,
dan menyerahkan diri kepada Mu,
bukan meminta…

Lalu kenapa aku tersungkur dengan tangan kotor,
hanya untuk selalu meminta…
Pantaskah ini semua…
Sungguh aku malu ya Rabb…

Kumohon Kau buka pintu maghfirah Mu untukku,
Masukkanlah aku ke dalamnya dengan segala kasih sayang Mu,
Ampuni aku dengan segala kemurahan Mu…

Dan,
Inilah aku ya Rabb…
Kuserahkan hidupku dan matiku, seutuhnya ke tangan Mu…
Yang kuyakini, sepenuhnya milik Mu…

Biarkan nuraniku terus berthawaf
dan ber sa’i,
Mengharap ridho dan kasih sayang Mu Illahi Rabbi,
Hingga akhir hidupku nanti,
Menuju bahagia dan damai yang hakiki,
Di rumah Mu yang abadi…

ESQ Spiritual Journey, Umrah Plus Dubai, Angkatan 72
—Kutuliskan sajak ini untuk anakku tersayang, Tikko dan Tatia—
++++++++++++++++++++++++

BERHALA BAGI MU

Sungguh,
Bukan berhala yang nyata,
Namun terselubungi tirani,
dalam semua yg fana…

“Dan bertebaranlah kamu di muka bumi ini mencari rizki yang halal…”
Bukanlah mengabdi,
Kepada berhala tak bertepi…

Lalu siapakah berhalamu?
Anak istrimu adalah berhala bagimu,
Jabatanmu adalah berhalamu,
Hartamu adalah berhala bagimu,
Perhiasanmu adalah berhala bagimu,
Yang menahan langkahmu,
mendekat ke singgasana Ku…

Manakah lagi berhala-berhalamu?
Siapakah lagi berhala-berhala baru mu…
Yang kau ciptakan sendiri,
yang kau begitu terlarut bersama nya,
selain Dia?

Sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku,
hanyalah untuk Mu, ya Rabb…
Bukan untuk berhala-berhala itu…

Dan biarlah sukmaku kembali berthawaf,
seiring nebula dan semesta raya…
Menganggungkan kembali kesucian Mu…

Inilah tasbihku untuk Mu, ya Rabb…
Terimalah persembahan ini,
Seraya terus mensyukuri,
Bahwa aku telah bahagia…
Dalam rengkuhan kasih Mu…
Nan menyejukkan hati,
dan abadi…

Dubai, 8 Juli 2011
ESQ Spiritual Journey, Umrah Plus Dubai, Angkatan 72
—Kutuliskan sajak ini untuk anakku tersayang, Tikko dan Tatia—
++++++++++++++++++++++++

CATATAN PERJALANAN KEDUA

-Mekkah al Mukaromah, 4 Juli 2011
Umrah Plus Dubai, a Spiritual Journey, angkatan 72-
29 Juni-8 Juli; 27 Radjab-06 Sya’ban

Seperti setengah terpaksa
kupejamkan mataku sejak tadi…
Tak jua terlelap…
Terasa ada yang menyesaki di dada,
Hingga kuayunkan jemariku menatah sajak ini…

Masih lekat di mataku,
Sederet perjalanan menggetarkan jiwa,
Antara Madinah Al Munawarah dan Mekkah Al Mukaromah…
Antara Masjid Nabawi dan Masjidil Haram…

Labaik Allahumma Labaik…
Aku datang memenuhi undangan-Mu ya Allah…
Segala pujian, sepenuh hati hanya kuserukan untuk Mu…

Kusadari kotornya hati…
Kudzalimi diri tanpa arti…
Kusia-siakan asa bergulir tanpa makna…
Kupenuhi hari dengan berhala-berhala nurani…

Hingga di suatu sore,
Kurasakan tangan lembut Mu seolah menyapaku…
Berbisik lirih di tengah kebisingan hari…
Memintaku kembali ke rumah Mu,
Sang Baitullah, rumah Mu yang mulia ini…
Seolah membangunkan aku
dari lelapku yang panjang…
Bak sejuknya embun yang menyirami kegersangan bathinku…
Di tengah belantara pedihnya onak dan duri…

Matur nuwun, Gusti…
Aku percaya,
semuanya dalam rencana indah Mu, yang Maha Sempurna…
tak ada selembar daun pun jatuh tanpa ijin Mu…

Hingga malam ini,
Kembali kutersungkur di hadapan Multazam Mu yang mulia ini,

Dalem sowan panjenengan, Gusti…

Kuhadapkan seluruh jiwa yang hina ke rumah Mu yang mulia ini…
Ampuni aku, duh Gusti…
Aku serahkan diri dan bahtera ini ke tangan-Mu, ya Rabbi…

Monggo kerso, Gusti…
Sak kerso panjenengan,
dalem sampun pasrah…

Aku percaya,
Ada semesta rahasia Mu untukku…

Kusyukuri semua yang terjadi,
Biarkan aku rela atas hakku,
Aku telah ikhlas memaafkan semuanya…

Dan pelahan kulepaskan beban yang memberati pundakku…
Satu demi satu kurobohkan berhala-berhala nuraniku…

Agar ringan kulangkahkan kakiku saat pulang nanti…
menuju rumah-Mu kembali…

-Kuatkan aku untuk mengalirkan bahtera ini dalam kasih sayang Mu…-
—Kutuliskan sajak ini untuk ibuku dan anakku tersayang, Tikko dan Tatia—

++++++++++++++++++++++++
DI KAKI JABAL NUR

-Kaki Bukit Nur, Gurun Arafah, Makkah Al Mukarromah 5 Juli 2011-

Dalam keremangan malam…
Dibalut terpaan semilir angin gurun Arafah…
Di kaki Jabal Nur,
Kembali kubersujud,
Mengagungkan nama Mu…
Mengakui lemahnya jiwaku…

Duhai arafah…
Akankah kudapati lautan pengampunan Nya di sini…

Terbayang khutbah terakhir Rasul Mu,
Dalam sebuah perjalanan wada’ nan memilukan…
Rasul yang mencintai umat Mu…
Dalam raga yang makin rentan,
Berbalur tangis dan duka salam berpisah…
Untuk para sahabat belahan jiwa…

Dia sudah pamit pergi…
Tak ada yang kekal di dunia ini…

Dan saat terakhir itu tiba,
Masih terucap salam mencabik jiwa,
Bisikan kekhawatiran lewat Fatimah…
Ummah…ummah…ummah…

Kini,
Akhir jaman itu telah tiba…
Dan kekhawatiran itu benar adanya…

Karena itu aku menuju rumah Mu yang mulia ini,
Berharap ampunan Mu,
Berharap ridho dan kasih sayang Mu…

Astaghfirullah, Rabbal Baraya…
Astaghfirullah, innal fathoya…

ESQ Spiritual Journey, Umrah Plus Dubai, Angkatan 72
—Kutuliskan sajak ini untuk anakku tersayang, Tikko dan Tatia—
Powered by Telkomsel BlackBerry®