Rabu, Oktober 23, 2019
Rehat

Que Sera Sera-Holcim

Que Sera Sera-Holcim
Belajar dari Pinikio

Atas sebuah informasi:

• Mata sering “melihat”, tapi kita tidak “menyaksikan”
• Telinga sering “mendengar”, namun kita tidak “menyimak”
• Mulut sering “berbicara”, tapi kita tidak sedang “bertutur”
• Pikiran bisa “mengerti”, namun kita tidak mampu “memahami”

Melihat, mendengar dan berbicara adalah pekerjaan indera manusia. Dan mengerti adalah pekerjaan otak. Sedang menyaksikan, menyimak, bertutur dan memahami adalah prosesi kehadiran hati. Marilah kita sesaat menghadirkan hati untuk memahami ‘makna’ dan ‘hakekat’ yang terkandung dalam syair lagu berikut:

Saatku dibangun dulu
Aku bertanya jadi apa
Akankah besar? Atau kecil?
Inilah jawabnya

Que sera sera
Selama ada Holcim
Jadi apapun juga
Pasti sempurna

Sewaktu aku berdiri
Akanku jadi apa nanti
Jadi pujaan? Atau terabaikan?
Mungkinkah sejuk? Ataupun hangat?
Inilah jawabnya

Que sera sera
Selama ada Holcim
Jadi apapun juga
Pasti sempurna
Untuk selamanya

Syair tersebut dikutip dari lagu (jingle) iklan yang dapat anda saksikan di telivisi setiap hari (paling tidak saat ini).

Lagu yang aslinya berjudul “Que Sera Sera” digubah pada tahun 1956 oleh Jay Livingston dan Ray Evan serta dipopulerkan oleh Doris Day telah dirubah oleh “perancang iklan” Pabrik Semen Holcim ini begitu merdu oleh lantunan suara anak kecil. Que Sera Sera adalah bahasa Spanyol yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggeris berarti “whatever will be will be” atau sinonimnya “whatever may happen”. Kalimat terkenal ini dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan “apapun yang terjadi, terjadilah”.
Dalam lagu tersebut Doris Day bercerita sekaligus bertutur. Bercerita ketika ia masih bocah dan bertutur apa yang pernah dituturkan ibunya yang bijak, bahwa apa yang akan terjadi di masa datang adalah diluar kendali kita. “The future’s not ours, to see” demikian tutur ibunya ketika ia bertanya ‘apakah aku akan menjadi gadis cantik dan kaya? (Will I be pretty, will I be rich)’. Sebuah pengakuan tulus atas keterbatasan diri sekaligus kesaksian akan Kebesaran Tuhan bahwa Dia mutlak berkehendak tehadap kejadian di masa depan.

Lalu apa yang kita dapatkan setelah menyimak dan memahami syair lagu iklan Holcim tersebut?. Jawabnya hanya satu: “Hikmah!”. Hikmah apa?. Hikmah untuk sebuah “kebesaran”. Kebesaran yang bagaimana?. Inilah jawabnya:

Que sera sera (Apapun yang terjadi terjadilah)
Selama ada Holcim
Jadi apapun juga
Pasti sempurna
Untuk selamanya

Kalimat “Selama ada Holcim” adalah penyataan yang menunjuk pada “posisi-diri (self-position)”, yakni “kebesaran (mighty)” posisi Holcim dalam menempatkan dirinya terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Lalu, “Jadi apapun juga” adalah sebuah deklarasi untuk “kedaulatan-diri (self-sovereignty)” yang mutlak atas sebuah kehendak. Kemudian disusul kalimat “Pasti sempurna” adalah bentuk pengukuhan atas “kekuasaan-diri (power and self-authority)” dalam hal penciptaan. Dan, sebagai penutup kalimat “Untuk Selamanya” menunjuk pada “keabadian (eternity)” sebuah zat.

Dalam tataran rohani yang fitri, esensi kalimat-kalimat tersebut mutlak berada dalam wilayah Illahiah yang sesungguhnya tidak akan pernah terjangkau dan terlampaui oleh kemampuan manusia – bahkan oleh Fir’aun sekalipun. Ketika manusia sadar dan paham akan posisinya sebagai makhluk, maka ia akan tetap menjaga ‘kemakhlukan-dirinya’ untuk tetap “berserah diri (surennder)” kepada Penciptanya dengan berlaku sesuai kemampuannya. Simak, renungi dan hayati hikmah Fir’aun yang telah dijelaskan di kitab suci. Dengan menunjukkan kebesarannya, dengan mengangkat kedaulatannya, dengan memaparkan kekuasannya dan dengan membangun keabadian dirinya, Fir’aun berusaha terbang tinggi – setinggi imajinasi dan seluas halusinasinya untuk menggapai kemutlakan wilayah Tuhan. Fir’aun men-tuhan-kan diri untuk di-tuhan-kan oleh rakyatnya. Maha-Suci Allah lagi Maha Penyayang yang mengirim Musa untuk memberi peringatan lebih dahulu atas kelalaian Fir’aun dan pengikutnya. Tuhan tidak serta-merta menghancurkan atau membenamkan kebesaran yang disandangnya. Dalam syair lagu tersebut tersirat makna bahwa Holcim ingin mendeklarasikan keberadaan (ke-aku-an) dirinya, kehebatan sifatnya, kepastian dan kesempurnaan zatnya serta keabadian fungsinya. Sebuah deklarasi yang sesungguhnya hanya Allah-lah yang berhak menyandangnya. Allah sebagai Tuhan – Dzat Pencipta dan Pemilik alam semesta ini.

Apakah itu salah?. Kita tidak berhak menyalahkan seseorang yang telah berusaha memfungsikan dirinya. Syair lagu tersebut dibuat oleh perancang iklan yang menggunakan norma-norma periklanan. Di dunia periklanan, David Livingstone Smith dalam bukunya “Why We Lie” mengatakan: “Pengelabuan atau muslihat (deception) muncul sebagai norma daripada pengecualian dalam dunia bisnis, dan sulit dibayangkan bagaimana dunia periklanan tanpa norma seperti ini”. Jadi kalimat dari syair tersebut boleh jadi merupakan penerapan normatif dari kaidah periklanan yang digenggamnya. Kita tidak berhak menyalahkan atau membenarkan, karena salah atau benar biasanya diukur atas hukum yang telah ditetapkan. Saya boleh berbuat salah, namun jika hukum tidak mampu membuktikan kesalahan saya, maka saya telah berbuat kebenaran. Kita juga tidak berhak menetapkan baik atau buruk atas sebuah tindakan, karena kebaikan atau keburukan selalu melekat kepada kepentingan pelakunya. Lagi pula kebaikan atau keburukan hanya dapat diketahui setelah akhir perjalanan. Ukurannya bukan benar atau salah dan baik atau buruk, namun indah atau tercela. Indah itu “selaras (harmony)” dan tercela itu “menyimpang (disharmony)”.
Keindahan dapat dinikmati ketika manusia berlaku selaras dengan kodrat dan fungsi yang telah ditetapkan atas kemanusiaan dirinya. Keindahan dapat dibangun dengan ketundukan perilaku dan ketaatan atas perbuatan. Tunduk dan taat untuk berjalan kearah jalan yang telah digariskan. Yakni “garis lurus (ihdinash shiroothol mustaqiim)” yang tidak menyimpang dari ketetapan Tuhan.

Dari syair lagu tersebut, hikmah apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran?. Pinokio tetap menjadi Pinokio. Hidungnya panjang karena ia malu untuk menjadi manusia. Dan kita manusia, tetaplah menjadi manusia – makhluk mulia yang dimuliakan Tuhannya. Hindarkan diri untuk berlari atau terbang tinggi menggapai wilayah kekuasaan Tuhan. Ketika ini terjadi, kita telah melampaui batas kemanusiaan kita sendiri. Dan, Tuhan tidak menyukai ummat-Nya yang melampaui batas!.

• Promosi itu publikasi
• Publikasi itu bukan provokasi
• Provokasi itu digerakkan oleh energi hawa-nafsu
• Kata-katamu adalah pedangmu (your words is your sword)
• Jika tidak melukai orang lain, maka ia akan melukai dirimu sendiri
• Hati-hati dengan pikiranmu, dan
• Pikirkan apa yang menjadi perhatianmu.

(Pudjidiot)

(Artikel ditulis oleh Pudji Asmanto : [email protected])