Berita

Dana Abadi ITS Terus Bergulir

Taicing: Penggalangan dana akan terus dilakukan dalam beberapa tahap.

Begitu didaulat maju ke depan, Cak Anas Rosyidi (Teknik Elektro) langsung meraik mike dari tangan pembawa acara Ning Siti Musrifah (Imus – Teknik Kimia). ”Nek wis tuwek koyok awak-awak ngene iki duwek miliaran ga penting. Sing penting…pas pengen tuku opo-opo iku ono duwek nang dompet,” kata Direktur PT Semen Baturaja ini.

Tak pelak sekitar lebih dari 42 orang yang berkumpul di Ruang Krakatau, Hotel Grand Hyatt, Jakarta ngakak. Para alumni ITS itu kian terbahak ketika Cak Anas berkata,”Duwek miliaran iku ga bakalan sampeyan-sampeyan gowo mati. Sing digowo mati iku yo dana sing sampeyan setor gawe dana abadi IKA ITS iki. Nek nyetor tak dungakno sampeyan kabeh tambah sugih.”
Begitulah suasana pengumpulan dana abadi untuk IKA ITS yang digelar pada malam tanggal 20 Februari 2008. Malam itu, Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS mengumpulkan sejumlah alumni untuk menggalang dana abadi.

Sebelum dikumpulkan, pengumpulan dana abadi ini sudah diwacanakan dalam mailing list maupun situs alumni. Dana abadi yang terkumpul tidak akan ditempatkan dalam bentuk deposito seperti biasanya. Pengurus Pusat menggandeng PT Bahana Sekuritas untuk mengelola dana yang terkumpul. Bahana dipilih antara lain telah berpengalaman mengelola dana sejenis dari Ikatan Alumni ITB, UI, dan IPB.
 
Menurut Pak Lubis dari PT Bahana, ada empat cara bagi alumni yang ingin berinvestasi untuk dana abadi tersebut. Pertama, cara reguler, yakni alumni menyetor sejumlah dana seperti halnya pembeli reksa dana biasa. Keuntungan dari dana yang disetor akan dimiliki alumni semuanya. IKA ITS hanya akan mendapat bagian dari manajemen fee. Dana yang disetor itu tetap menjadi milik alumni, dan bisa diambil kembali.

Cara kedua disebut dengan cara kelas silver. Keuntungan dari dana yang disetor alumni akan dibagi 50:50 dengan IKA ITS. Dana yang setor tetap menjadi milik alumni, dan bisa diambil kembali.

Cara ketiga dimasukkan dalam kategori kelas gold. Melalui cara ini, alumni yang menyetor dananya, tidak mengambil keuntungan sama sekali, alias keuntungan dari pengelolaan dana seluruhnya diberikan kepada IKA ITS. Dana yang disetor tetap menjadi alumni, dan bisa diambil kembali.

Cara keempat disebut dengan cara kelas platinum. Cara ini murni donasi/hibah. Jadi baik dana yang disetor maupun keuntungan dari pengelolaan dana tersebut, seluruhnya diberikan kepada IKA ITS.

Menurut Pak Lubis, dana yang terkumpul akan diputar untuk membeli surat utang atau obligasi. Produk ini dipilih karena risiko kerugiannya tergolong kecil, dibanding dengan jika diputar di lantai bursa saham. Dia juga mengungkapkan,”Keuntungan baru didapat setelah setahun kemudian.”

Cak Rudi Purwondo (Mesin) dan Cak Djoko Eko Prastowo (Sipil) mempertanyakan bagaimana dengan status dana yang masuk kategori platinum. Mereka akhirnya mengusulkan agar dana yang masuk kategori platinum ini disetor dulu ke IKA ITS, lalu IKA ITS yang membikin perjanjian dengan pihak Bahana. Usul ini disetujui forum.
 
Mereka juga menanyakan, berapa manajemen fee yang diambil pihak Bahana. Pak Lubis menjawab,”manajemen fee untuk pengelolaan dana adalah satu persen dari dana disetor, yang dibagi 50 persen untuk Bahana, dan 50 persen untuk IKA ITS. Kenapa IKA ITS (seperti organisasi lain mendapatkan manajemen fee), karena adanya opsi investasi regular. Investasi ini membuat seluruh dana pokok dan hasilnya dikembalikan ke alumni ITS, sehingga IKA ITS mendapatkannya dari manajemen fee.
 
Setelah penjelasan dirasa cukup, penggalangan pun dimulai. Ning Imus) dan Cak Agus Lengky (Elektro) yang bertindak sebagai pembawa acara malam itu benar-benar bisa menjadi pencair suasana. Satu per satu alumni yang hadir diabsen untuk mengetahui berapa dana yang akan mereka setor. Alhamdulillah, mayoritas alumni antusias. Banyak yang memilih cara gold untuk membantu pengumpulan dana abadi ini, jumlahnya mencapai Rp 2,225 miliar
 
Di luar dugaan, alumni yang memilih cara platinum pun cukup banyak. Bahkan,“Lebih tinggi dari alumni perguruan tinggi teknik terkemuka,” kata Pak Lubis. Jumlah dana yang tergolong platinum mencapai Rp675 juta. Sedangkan dana yang terkumpul untuk kategori silver mencapai Rp150 juta.  Sehingga total dana yang terkumpul malam itu mencapai Rp3,05 miliar.

Tidak ada alumni yang memilih cara reguler. Karena itulah, Rektor ITS Cak Priyo Suprobo (Sipil) memberikan catatan khusus tentang hal ini. “ITS satu-satunya yang tidak ada alumninya yang memilih cara reguler. Benar Pak Lubis,” kata Cak Priyo. Pak Lubis mengangguk tanda mengiyakan.
 
Cak Priyo dan Ketua Umum IKA ITS Cak Dwi Sutipto (Teknik Kimia) gembira malam itu terkumpul dana Rp3,05 miliar. “Insya Allah dana ini akan terus bertambah karena akan kami umumkah lewat situs dan milis, serta diberbagai acara IKA ITS akan disosialisasikan” ujar Cak Dwi.

Yang luar biasa juga adalah, bagaimana alumni ITS yang tidak hadir pada acara penggalangan dana ini, dengan cukup ditelepon tanpa penjelasan yang rinci langsung menyumbangkan dana yang besar. Sebagaimana kutipan percakapan dari ” Sampeyan nyumbang piro “. Satu alumni ditelepon dan menjawab Rp50 juta platinum. Lha sampeyan nyumbang piro , dijawab lha liyani nyumbang piro. Mas ….rata-rata nyumbang Rp 100 juta gold. Yo wis aku melu nyumbang Rp 100 juta gold. Begitulah suasana antusiasme alumni ITS dalam penggalangan dana abadi ini.
 
Cak Priyo menuturkan keberhasilan IKA ITS semacam ini akan menjadi salah satu poin yang mampu meningkatkan nilai akreditasi ITS. Karena itu, dia berencana untuk membuat semacam plakat permanen untuk mencatat nama-nama alumni yang menyetorkan dana untuk kepentingan pengelolaan dana abadi. Tapi, Cak Muhadjir Manan, langsung menyahut. “Jangan…nanti pahalane ilang,” katanya yang langsung disambut tawa hadirin.
 
Cak Muhammad Nuh yang menyempatkan hadir malam itu, ikut senang dengan keberhasilan pengurus. Cak Nuh pun diminta maju ke depan untuk memberikan pidato. Cak Nuh lalu memanggil Cak Dwi dan Cak Priyo untuk ikut berdiri di sampingnya. “Kita ini kan sama-sama kelompok 160….” katanya. Hadirin pun ngakak. Kelompok 160 maksudnya adalah kelompok dengan tinggi badan 160 sentimeter. Nah, Cak Nuh, Cak Dwi dan Cak Priyo memiliki tinggi badan yang sama-sama sekitar 160 sentimeter.
 
Cak Nuh menilai cara penggalangan dana abadi IKA ITS ini sebagai sebuah terobosan.
Dia mengingatkan. “Memulai sesuatu itu nilainya jauh lebih tinggi ketimbang meneruskan sesuatu yang sudah berjalan,” katanya. Karena itu, Cak Nuh memberi selamat kepada pengurus pusat IKA ITS yang berinisiatif menggalang dana ini.

Cak Nuh juga mengingatkan, memang pas malam penggalangan dana ini baru sebatas komitmen. Hanya saja, komitmen ini nilainya sama dengan janji. Janji adalah utang. “Ojok sampai engkok pas ditagih moro ngomong: iku lha kondisi pas tanggal 20 Februari…nek saiki kondisiku seje. Moso tego awakmu nagih pas kondisiku koyok ngene,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.

Karena itu, Cak Nuh mengajak hadirin semua untuk mendoakan para alumni yang sudah berkomitmen itu agar rezekinya bertambah lancar. ‘Sehingga pas ditagih nanti, memang ada dana untuk disetorkan,” tuturnya.
 
Hadirin

Nama-nama alumni yang hadir malam itu adalah Muhammad Nuh, Anas Rosjidi, Widodo, Gatot K, Suparni, Sukrisno, Lukman M, Bambang SI, Rukmi Hadihartini, Firmansjah, Djoko Eko, Harsusanto, Widyono, Lintomo, Agus Widjanarko, Harijanto, Rudy Purwondho, Djohan Safri, Bambang Djatmiko, Sunaryo Suhadi, Sardjono, Dwi Soetjipto,, Pudjojoko, Muchsin Idrus, Gunawan Adji, Satya W. Yudha, Sutopo Kristanto, Muhadjir Manan, Sukandar, Yerry, Priyo Suprobo, Aziz Bahalwan, Deddy E.S., Musrifah,Yuttie, Soni Sontani, Prastyadi, Ferry Dzulkifli, Januari SW, Abdullah Hafidz, Agus Lengky, Thonthowi Dj, Arief Hermawan, Djwahir Adnan, Bambang Soekaton, Eko Budijatmiko, dan Mawan.

Bertambah Rp500 Juta

Di lain kesempatan, Ning Imus, yang juga wakil bendahara PP IKA ITS, komitmen dana abadi bertambah Rp500 juta. Menurut dia, Cak Muchayat telah mengumbulkan alumni yang bekerja di lingkungan BUMN Kekaryaan, akhir Februari lalu di Bimasena, Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Dana yang berhasil dikumpulkan adalah Rp500 juta. “Kebanyakan platinum,” kata Ning Imus.

Latar Belakang

Bendahara Pengurus Pusat IKA ITS Ning Siti Musrifah menjelaskan, program dana abadi sebenarnya sudah digagas pada Rapat Kerja I di Cipanas, tahun 2007 lalu. Program ini  dimantapkan pada saat acara Golf Dies Natalis ITS di Pandaan, Jawa Timur pada November 2008.

Rencana ini lebih dimatangkan sekali lagi pada saat Rapat Kerja II di Bandung, dan diputuskan dalam rapat Pengurus Harian PP IKA ITS pada 20 Januari 2009. Rapat di Sekretariat PP IKA ITS ini dihadiri sekitar 15 orang anggota pengurus. Mereka antara lain Cak Dwi Soetjipto, Cak Lukman Machfoedz , Cak Sardjono, Cak Widodo Santoso, dan Cak Gatot Kustyadji.

Dalam rapat ini, pihak Bahana Sekuritas mempresentasikan tentang skema pengumpulan dana. Dana abadi adalah dana yang diinvestasikan investor dan akan dikelola lembaga profesional. Dana yang diinvestasikan ini disebut dana pokok, dapat dicairkan berdasarkan batasan yang ditentukan organisasi.

Hasil keuntungan dari dana pokok inilah yang akan dipergunakan untuk program-program dan kegiatan IKA ITS. Dana dari investor akan dikelola oleh fund investment management, di mana dana pokok dijamin aman oleh pihak ketiga. PP IKA ITS sudah menjajaki mempelajari program tersebut pada lembaga selama ini mengelola dana abadi yaitu Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan lain-lain.

Keuntungan dana abadi bisa digunakan untuk menunjang kegiatan pemberian beasiswa, biaya pengembangan keterampilan sumber daya alumni, pengabdian masyarakat, pengembangan pendidikan dan fasilitas kampus, serta biaya operasional program-program IKA ITS yang sebagian besar untuk alumni.

“Semua ini akan tercapai jika para alumni mempunyai misi kuat dengan dukungan program yang terarah dan pengelolaan yang transparan, serta kekuatan jaringan alumni,” kata perempuan yang akrab disapa Ning Imus ini.

Sekjen PP IKA ITS Cak Djawahir Adnan menyebutkan, hingga saat ini memang masih ada perdebatan mengenai penggunaan keuntungan dana abadi tersebut. Ada pendapat yang menginginkan, keuntungan dari investasi dana abadi 100 persen digunakan untuk kegiatan alumni. Sementara investor hanya akan memperoleh kembali dana awal yang diinvestasikan.

Sementara di pihak lain juga ada yang menginginkan bahwa keuntungan investasi dibagi antara IKA ITS dan investor. Besar pembagian pun masih diusulkan beragam. Ada usulan 50 persen untuk IKA ITS dan 50 persen untuk investor. Tapi ada juga yang usul 70 persen untuk IKA ITS dan sisanya untuk investor.  Akhirnya ketika peluncuran disepakati persentasenya 0, 50, dan 100 persen.

Badan Hukum

Kini, tinggal pengurus pusat yang akan melakukan penagihan, dan menyelesaikan perjanjian dengan pihak Bahana. Pengurus tidak bisa langsung membuat perjanjian dengan Bahana atas nama PP IKA ITS. “Kami akan memakai Yayasan IKA ITS,” ujar Cak Jawahir, Sekjen PP IKA ITS.

Menurut Cak Jawahir, Yayasan IKA ITS sudah dibuat pada zaman kepengurusan Cak Kristiono. Yayasan ini baru tercatat di notaris, dan belum berbadan hukum secara resmi. Karena itu, PP IKA ITS tengah menimbang-nimbang apakah akan melanjutkan Yayasan IKA ITS yang lama itu, hingga menjadi resmi berbadan hukum. Atau, membuat yayasan baru. “Kami akan memilih yang terbaik, dan tercepat pengurusannya, agar bisa lebih cepat membuat perjanjian dengan pihak Bahana,” kata Cak Jawahir.

Adapun para investor yang ingin menyetor dananya bisa mengirimnya ke rekening khusus dana abadi yakni ke Bank Mandiri Nomor Rekening `123.0005269685 a.n. Ikatan Alumni ITS- Dana Abadi.

Ning Imus menambahkan, pihaknya akan kembali sejumlah seri penggalian dana abadi. “Bisa berbasis industri yang sama, misalnya alumni yang bekerja di industri telekomunikasi, atau wilayah yang sama,” tuturnya. Mudah-mudahan dana abadi bertambah besar, sehingga manfaat yang akan diperoleh pun kian besar. Amin.
 

Thonthowi Dj/Muhibudin Kamali/Arif Hermawan