Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Utang Luar Negeri Dibatasi


JAKARTA, alumniITS:
Pemerintah menerbitkan surat yang ditujukan kepada seluruh menteri di kabinet, seluruh kepala daerah serta pimpinan pemerintah non kementrian agar membatasi pengajuan utang luar negeri demi pembangunan yang membebani APBN dan APBD.

“Jadi tidak betul kalau dikatakan pemerintahan SBY ini neolib dan semuanya masih tergantung pada pinjaman luar negeri,” kata Sekretaris kabinet Dipo Alam di kantornya seeprti dilansir kompas.com, Jumat (02/11)

Utang sekarang ini pun, sambung Dipo, terus dikurangi. Jika proporsi utang sekarang sudah pasti berkurang terus, nominalnya memang masih terlihat besar. “Namun tujuan presiden adalah mengajak jangan sampai utang luar negeri ini dalam pembiayaan pembangunan kita berjalan tanpa suatu pengawasan,” paparnya.

Pembatasan utang luar negeri termasuk hibah yang mengikat dengan commitment fee, serta dana pendampingan rupiah murni yang bisa membebani APBN/APBD, lanjutnya.

Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan, posisi utang pemerintah hingga September 2012 mencapai Rp 1.975,62 triliun. Dari angka itu, posisi utang luar negeri Indonesia saat ini adalah Rp 638,01 triliun atau sekitar 32,3 persen dari total utang yang ada saat ini.

Pemerintah mengatakan dalam beberapa kesempatan bahwa posisi utang luar negeri Indonesia masih aman. Pada April lalu Lembaga Pemeringkat Internasional Standard and Poor’s (S&P) menahan peringkat utang Indonesia pada level ”BB+” untuk utang
jangka panjang dan ”B” untuk jangka pendek dengan outlook positif.

Ada sejumlah penghambat dalam perekonomian Indonesia diantaranya pendapatan per kapita yang rendah, utang luar negeri sektor swasta yang masih tinggi, dan pasar keuangan domestik yang dangkal.

Pengamat ekonomi dari Indef, Enny Sri Hartati mengatakan posisi dan kondisi utang Indonesia tidak bisa dibilang aman jika pemanfaatannya tidak tepat.

“Kalau kita berbicara utang indikatornya tidak hanya sekadar apakah kita masih dalam rasio aman atau tidak, artinya rasio utang bukan satu-satunya indikator apakah utang yang ada selama ini beresiko apa tidak,” kata Enny.

Menurut Enny,  belajar dari krisis yang dialami oleh Amerika Serikat dan Eropa titik krusialnya adalah bagaimana pemanfaatan utang itu sendiri. Jika utang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang produktif sehingga bisa refinancing kedepannya itulah yang bermasalah. “Utang Jepang itu tidak bermasalah karena utang mereka digunakan untuk kegiatan investasi,” ujarnya.

Enny juga meragukan kesungguhan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhyono untuk melepas diri dari ketergantungan terhadap utang. “Kalau kita melihat defisit anggarannya semakin besar maka berarti kita bukan meninggalkan tapi justru kecanduan utang. Saya tidak melihat adanya langkah nyata untuk melepaskan ketergantungan dari utang,” kata Enny.

Dalam catatan Enny pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menurutnya hanya membatasi utang luar negeri tetapi tidak membatasi utang dalam negeri. “Utang dalam negeri itu juga utang dan menjadi beban karena bunganya kan kita bayar menggunakan APBN,” ucapnya. (endy – [email protected])