Berita

Teknologi Steam Tube Dryer Atasi Masalah Batu bara di Indonesia


JAKARTA, alumniITS: Indonesia memiliki cadangan batu bara sebesar 2-3 persen dari cadangan batu bara dunia. Sebagian besar cadangan batubara tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Sayangnya sebagian besar cadangan batu bara berkualitas rendah, yang jumlahnya sebanyak 65 persen dari total 161 milyar ton batu bara cadangan.

“Rendahnya kualitas batu bara kita, bisa ditingkatkan kualitasnya dengan teknologi pengering batu bara yang disebut Steam Tube Dryer (STD). Teknologi STD mampu meningkatkan kualitas batu bara di Indonesia,” papar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Unggul Priyanto, di Jakarta, Jumat (4/1).

Unggul melanjutkan teknologi STD  sempat diuji coba di Puspiptek Serpong. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. Batu bara yang sebelumnya hanya mengandung sekitar 4.000 kilo kalori (kkal) per kg bisa naik menjadi 6.000 kkal per kg. Kapasitas maksimum dari STD yang sudah komersial adalah 500 ton/jam untuk mengeringkan coking coal dari 10% menjadi 6%.

Saat ini ada dua tipe STD yang tersedia untuk memproses material yang berbeda yaitu Peripheral Discharge type (PD Type) dan Central Discharge type (CD type).

Managing Executive Officer Tsukishima Kikai Co Jepang, Koji Miwa selaku pemegang paten teknologi tersebut menjelaskan, batu bara berkualitas rendah memiliki kandungan air yang tinggi. Lewat proses pemanasan, praktis kadar air dalam batu bara berkurang drastis.

Dengan demikian kualitas batu bara menjadi lebih baik dan jika digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) proses pembakaran bakal lebih efisien, bersih dan ramah lingkungan.

“”Walaupun kita memiliki PLTG dan PLTU, namun keduanya tidak beroperasi maksimal. Hal ini dikarenakan mereka tidak punya sumber gas dan uap, sehingga membakar solar. Apabila STD bisa maksimal maka penggunaan solar bisa ditekan sampai dua juta kilo liter. Harga listrik juga bisa lebih murah sehingga PLN tidak perlu lagi subsidi,” kata Unggul.

Meskipun demikian, teknologi ini masih memiliki sedikit kelemahan. Proses pemanasan batu bara menurut Miwa akan meninggalkan lubang pori-pori yang besar sehingga lebih riskan terbakar jika bersentuhan dengan udara.

Karena itu sangat dianjurkan, proses pemanasan STD harus ditempatkan dekat dengan PLTU dengan jarak ideal sekitar 40 meter sehingga batu bara yang telah dipanaskan bisa langsung digunakan, sarannya. (endy – [email protected])