Berita

Teknologi NAT Mampu Deteksi Virus di Darah


JAKARTA, alumniITS -  Darah dari pendonor bisa saja mengandung infeksi penyakit. Namun, infeksi itu kini bisa terdeteksi dengan cepat sekitar 7 hari dengan menggunakan teknologi canggih Nucleic Acid Testing (NAT) atau Pengujian Asam Nukleat. Padahal, metode serologi untuk deteksi penyakit di darah sebelumnya membutuhkan waktu 2 bulan.

Teknologi NAT itu sudah dilakukan di delapan Pusat Palang Merah Indonesia (PMI). Kedelapan pusat itu adalah Jakarta (Unit Trnasfusi Darah Pusat dan DKI Jakarta), Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, Denpasar, dan Makassar.

“Kenapa baru delapan, karena laboratorium NAT punya spesifikasi khusus makanya bertahap,” kata Dr. Yuyun Soedarmono selaku ketua Unit Donor Darah Pusat PMI dalam diskusi SEHATi Bicara ‘Aksi Donor Darah: Sejauh Mana Keamanan Transfusi dan Distribusinya’, di Jakarta, Rabu (13/2).

Menurut Dr. Yuyun, jika seseorang mendonorkan darahnya maka laboratorium langsung mengecek darah tersebut untuk mengetahui kemungkinan darah si pendonor terinfeksi penyakit.

Jika diketahui darahnya mengandung salah satu infeksi penyakit, maka pihak PMI akan memanggil si pendonor secara pribadi dan darah itu akan dikembalikan. “Kami akan memberitahu ‘Di dalam darah kamu terkandung infeksi berbahaya dan tidak layak untuk didonorkan’,” pungkasnya.

Srinivasan Madabushi, PhD selaku Head of Diagnostics Indonesia, PT Novartis Indonesia, menyebutkan ada tiga jenis infeksi darah yang harus diwaspadai yakni Hepatiti B, Hepatitis C, dan HIV. Dan penggunaan teknologi NAT bisa memperpendek waktu untuk mendeteksi virus yang berbahaya di dalam tubuh pendonor. ([email protected])