Berita

Teknologi Bioremediasi Atasi Dampak Pencemaran Pestisida

JAKARTA, alumniITS:
Sebanyak 2,4 juta ha lahan pertanian di Pulau Jawa telah mengalami proses degradasi sistemik yang ditandai dengan meningkatnya residu pupuk kimia dalam tanah, cemaran pestisida dan logam berat.  Kondisi itu,  berdampak pada menurunnya kesuburan tanah dan penggunaan pupuk yang terus meningkat. 

“Penerapan teknologi bioremediasi diharapkan dapat menstimulasi aktivitas biologi di dalam tanah, mengurangi polutan kimia dan mengembalikan kesuburan tanah pertanian, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan mengurangi dampak residu pestisida dan logam berat pada beras,” kata Direktur PTB BPPT, Agus Masduki seperti dikutip laman BPPT, Kamis (25/8)

Melalui Kedeputian Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), lanjut dia, BPPT  melakukan kajian teknologi untuk mereduksi residu pestisida golongan organoklorin dan cemaran Pb pada lahan sawah sampai tingkat yang aman, baik terhadap produk maupun lingkungan. 

Dikatakan, teknologi yang dikembangkan mencakup teknologi produksi fito-remedian (tanaman pengabsorbsi logam Pb), teknologi produksi microbial-remedian (pendegradasi pestisida organoklorin) dan  konsorsia mikroba penyubur lahan sub optimal baik disebabkan adanya cemaran pestisida dan logam, kemasaman lahan maupun rendahnya nutrisi tanah.

Pengembangan teknologi produksi bioremedian dan konsorsia mikroba penyubur lahan dan aplikasinya dilakukan secara bersama oleh Pusat Teknologi Bioindustri (PTB) , Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP) dan Balai Pengkajian Boteknologi.

“Aplikasi teknologi bioremedian ini prospektif dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan meningkatkan produksi Padi. Pengembangan produksi konsorsia mikroba yang mendukung program ini direncanakan akan dilaksanakan oleh mitra,” ungkap Agus Masduki selaku penanggung jawab kegiatan.

Uji Lapang Terbatas penggunaan bioremedian dan konsorsia mikroba penyubur pada lahan sawah menggunakan varietas Padi Inpari 13 sendiri telah dilaksanakan sejak Juli 2012 lalu, bekerjasama dengan Kebun Muara, Balai Besar Padi – Badan Litbang Pertanian.

Dari hasil uji tersebut diketahui bahwa setelah diaplikasikan fitoremedian dan mikrob remedian selama 1 bulan menjelang tanam, konsentrasi organoklorin yang ada menurun hingga rata-rata 46,9%, sedangkan rata-rata penurunan konsentrasi Pb sebesar 40.6 %. Panen Padi pada uji lapang terbatas tersebut telah dilaksanakan pada 19 Oktober 2012 lalu.

Uji lanjut aplikasi teknologi bioremediasi skala yang lebih luas pada lahan tercemar untuk tanaman padi sedang dilaksanakan di Balai Besar Padi Sukamandi, diharapkan dapat dilihat hasilnya pada saat panen 16 Januari 2013 mendatang.

Kepala Program Teknologi Bioremediasi Lahan Pertanian BPPT,  Diana Nurani, menambahkan hasil sementara uji lapang terbatas tersebut menunjukkan bahwa aplikasi teknologi bioremediasi dapat menurunkan cemaran dan meningkatkan produktivitas padi pada lahan tercemar. (endy – [email protected])