Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Saham Perbankan Jadi Riskan


JAKARTA, alumniITS – Saham-saham bank besar sudah reli sejak awal Januari sehingga berada pada posisi jenuh beli dan riskan. Tapi, ada beberapa yang menyimpan potensi penguatan. Seperti apa?

Pada perdagangan Selasa (12/2/2013), saham PT Bank Mandiri (BMRI) ditutup menguat Rp200 (2,28%) ke posisi Rp8.950; PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menguat Rp250 (3,06%) ke Rp8.400; PT Bank Negara Indonesia (BBNI) stagnan di Rp4.250; dan PT Bank Central Asia (BBCA) melemah Rp100 (0,98%) ke Rp10.050.

Satriawan, analis dari Mandiri Sekuritas mengatakan, secara umum, saham-saham perbankan besar sudah jenuh beli (overbought). Sebab, semuanya sudah rally kencang sejak awal Januari 2013. “Bahkan, kalau saya lihat secara teknikal, rally-nya sudah hampir selesai,” katanya seperti dikutip laman inilah, Rabu (13/2)

Karena itu sekarang, kata dia, untuk masuk pada saham-saham bank besar ini agak riskan. Sebab, risikonya lebih banyak dibandingkan potensi untung yang mungkin didapat. “Hanya saja, dalam tren naik itu, ada koreksi sehingga saat koreksi tersebut pemodal bisa masuk dengan potensi penguatan yang terbatas pada saham-saham bank tertentu,” ujarnya.

Dalam tren kenaikan, lanjut dia, ada koreksi tapi tidak menciptakan level terendah baru. Saat turun itu, pemodal bisa melakukan aksi beli. “Tapi, untuk saham-saham yang sedang berada di puncak seperti BBRI dan BBCA lebih baik hindari dulu,” tandas dia.

Menurut dia, secara teknikal, puncak dari dua saham tersebut sudah kelihatan dan belum mengalami penurunan yang berarti. “Jadi, secara umum untuk bank-bank besar harus hati-hati karena rally-nya mau habis,” kata dia mewanti-wanti.

Secara spesifik, dia menjelaskan, reli saham BBRI sudah hampir selesai. Setelah konsolidasi lama pada kisaran Rp7.000-an, dan memecahkan level kosolidasinya itu, akhirnya rally hingga ke level tertinggi Rp8.250 dan 8.400. BBRI mengalami rally setelah menguat dan menembus Rp7.200 pada awal-awal Januari 2013. “Level BBRI di Rp8.250 saja merupakan posisi yang sudah jenuh beli,” ucapnya. “Jadi, harganya sudah tidak bisa bergerak ke mana-mana.”

Saham BBRI memiliki lebih banyak potensi koreksi dibandingan potensi penguatannya. “Karena itu, jika beli saham BBRI di level saat ini sangat riskan. Ditakutkan, saat kita masuk justru turun,” timpal Satriawan.

Karena itu, dia menyarankan, jika pemodal ingin membeli saham bank, baru bisa dilakukan di Rp7.700 yang menjadi support-nya. Itu pun masih perlu dilihat lagi. “Ditakutkan, jika tembus support tersebut, berubah menjadi tren turun. Tapi, menurut saya, jika turun ke Rp7.700, ada peluang untuk rebound terlebih dahulu sebelum turun kembali,” ungkap dia.

Begitu juga dengan saham BMRI yang secara tren relatif sama. Hanya saja, untuk jangka pendek, sepekan ke depan, saham ini masih memiliki potensi penguatan. “Sebab, BMRI sudah turun terlebih dahulu setelah mencapai Rp9.500 dibandingkan BBRI yang belum mengalami penurunan yang berarti,” tandas dia.

Menurut dia, pemodal bisa masuk saham BMRI pada level support saat ini Rp8.800-8.700. Dia juga menilai level harga saham ini sekarang cukup menarik. “Meskipun, rebound-nya nanti tidak akan banyak, mungkin ke resistance Rp9.300. Untuk jangka pendek saya lebih suka Bank Mandiri karena memiliki potensi penguatan,” timpalnya.

Apalagi, BMRI sudah sudah mengalai koreksi yang lumayan. “Artinya, BMRI alami koreksi minor tapi masih dalam fase up trend sehinga ada potensi penguatan dari level saat ini,” tuturnya.

Sementara itu, saham BBNI dinilanya memang sudah mahal. Tapi, kalau dilihat dari besarnya volume transaksi pada saat kenaikan akhir pekan lalu, BBNI berpeluang kembali naik meski tak banyak dengan target resistance Rp4.350 dan support di Rp4.100-4.000.

Jadi, kata dia, arah geraknya lebih pada sideways (mendatar) setelah menguat 10% dalam satu hari. “Jadi, sudah jenuh beli tapi potensi kenaikan masih ada meski tak banyak. Karena sideways, lebih baik menunggu untuk beli di Rp4.100 untuk BBNI,” ucapnya.

Begitu juga dengan saham BBCA yang sudah cukup jenuh beli, karena harganya berada di atas. Saat saham-saham bank rally kencang, BBCA juga naik kencang. Karena itu, potensi kenaikannya tak banyak. “Target saya hanya di Rp10.200-10.300 dan support di Rp9.500. Di level support ini baru bisa masuk untuk beli,” imbuhnya. ([email protected])