Berita

Rusunawa Asrama Unisma Mulai Dibangun

MALANG, alumniITS:

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Universitas Islam Malang (Unisma) di Malang, Jawa Timur, Senin (15/10). Konstruksi bangunan lima lantai  senilai Rp12,7 miliar ini, direncanakan selesai dalam delapan bulan.

“Pembangunan Rusunawa  untuk memfasilitasi proses belajar mengajar, dalam bentuk hunian yang layak bagi para mahasiswa Unisma. Bangunan tersebut nantinya terdiri dari 96 unit kamar, dengan luas masing-masing kamar 24 meter persegi.” kata Menteri PU dalam sambutannya.

Dikatakan, hunian vertikal belakangan ini, adalah pilihan tepat untuk penyediaan tempat tinggal, yang dapat menampung banyak penghuni dengan tetap memperhatikan efisiensi lingkungan baik dalam skala lingkungan maupun kawasan.

Kota-kota besar dan sedang yang memiliki banyak perguruan tinggi, dihadapkan pada permasalahan menjamurnya hunian-hunian yang tidak terencana dengan baik, sebagai respon pasar atas kebutuhan hunian bagi mahasiswa pendatang. Hal tersebut menunjukkan perguruan tinggi turut andil dalam permasalahan hunian perkotaan, katanya.

“Karena itu, hunian layak bagi mahasiswa menjadi sasaran antara bagi PU dalam bantu Pemda membenahi perumahan di wilayahnya,” ungkap Menteri PU seperti dilansir dari laman Kementerian PU.

Pembangunan Rusunawa di kampus Unisma tersebut, bukan merupakan bantuan Rusunawa pertama Kementerian PU terhadap Pemerintah Kota Malang. Sebelumnya Kementerian PU juga telah membangun dua twin block Rusunawa di Kedungkandang.

Djoko Kirmanto meminta kepada Unisma untuk mulai menyiapkan pengelolaan dan calon penghuni asrama baru tersebut. Langkah tersebut penting agar pada saat bangunan sudah rampung bisa segera dihuni oleh para mahasiswa Unisma.

Mengingat banyak Rusun yang dibangun PU atas permintaan Pemda atau Universitas begitu dibangun sampai selang beberapa bulan belum termanfaatkan. “Mulai sekarang disiapkan, jadi pada saat selesai, penghuni udah siap, furnitur sudah siap jadi tidak sempat bangunan ini menganggur,” tambahnya.

Direktur Pengembangan Permukiman Amwazi Idrus menuturkan, ada sekitar 30 persen dari Rusunawa yang dibangun Kementerian PU, pemanfaatannya tertunda karena alasan yang beragam. Padahal dalam perjanjiannya, Kementerian PU membangun gedungnya, sementara Pemda atau Perguruan Tinggi menyiapkan tanah dan sarana utilitas seperti listrik dan air bersih.

Amwazi mengatakan pembangunan Rusunawa yang diperuntukkan sebagai hunian mahasiswa sebenarnya merupakan salah tugas Kementerian Perumahan Rakyat. Sedangkan Kementerian PU membangun Rusunawa dengan tujuan menata atau revitalisasi permukiman padat atau kumuh di perkotaan.

Namun mengingat keterbatasan anggaran di Kemenpera, maka kemudian Kementerian PU pun turut membantu pengadaan Rusunawa sebagai asrama bagi para mahasiswa. (ndy)