Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Ratusan Rumah Tangga di Bali Beralih ke Biogas


DENPASAR, alumniITS:
Sekitar 365 rumah tangga di Bali beralih dengan memanfaatkan biogas dan pupuk organik hasil olahan limbah ternak melalui program pengembangan biogas rumah (BIRU).

“Dengan demikian mereka mampu melakukan pengolahan limbah secara tepat, sekaligus secara mandiri dapat memenuhi kebutuhan akan energi untuk kepentingan memasak dan penerangan,” kata Koordinator pengembangan BIRU Bali, I Gede Suarja di Denpasar, Kamis (13/12).

Ia mengatakan, ratusan rumah tangga di Bali yang telah menikmati kemudahan dari bio gas dalam program BIRU itu tersebar pada sembilan kecamatan di sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata.

Seorang petani dan peternak dari Abang Batu Dinding, Kintamani, kabupaten Bangli, Nyoman Kolem (45) misalnya belum genap setahun memiliki biogas model “fixed dome” yang dikembangkan oleh Program BIRU.

“Saya senang karena anak dan istri sekarang tidak terganggu asap lagi, pada saat memasak di dapur. Dapur saya pun jadi lebih bersih dan sehat, noda hitam asam dan tumpukan kayu bakar tidak separah dulu lagi,” tutur Nengah Lastrini, istri dari Nyoman
Kolem.

Nyoman Kolem menuturkan, sejak delapan bulan lalu membawa ampas biogas yang sudah dikeringkan ke kebun pepaya dan kebun kopi produksinya menjadi meningkat serta mampu menghemat pembelian pupuk dan ongkos angkut pupuk ke kebun.

I Gede Suarja menambahkan, program BIRU merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Belanda sejak Mei 2009.

Program BIRU diimplementasikan oleh Hivos, sebuah lembaga kemanusiaan untuk kerja sama pembangunan yang berbasis di Belanda, bermitra dengan Kementerian ESDM RI melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi
(DJEBTKE).

Melalui program BIRU, Hivos memberikan subsidi senilai Rp 2 juta per reaktor berupa peralatan dan pendampingan, bukan berupa uang tunai.

BIRU dalam pelaksanaan programnya bermitra dengan sejumlah organisasi lokal seperti LSM, koperasi, maupun pihak swasta lainnya yang berperan sebagai mitra pembangun. I Gede Suarja menjelaskan, di Bali program tersebut menggandeng enam mitra pembangun terdiri atas Yayasan BOA, Yayasan Manikaya Kauci, Yayasa IDEP, Yayasan Sunari, CV Mitra Usaha Mandiri, dan kelompok tukang Masons Group Abadi yang berbasis di Klungkung.

BIRU juga sedang menjajagi kemitraan dengan lembaga keuangan mikro untuk penyediaan kredit berbunga rendah bagi masyarakat calon pengguna BIRU yang memiliki keterbatasan dalam berswadaya, ujar I Gede Suarja seperti dilansir antara.
(endy – [email protected])