Rabu, Oktober 23, 2019
Berita

Perilaku Konsumtif, Pertanda Kemakmuran?

 

JAKARTA, alumniITS -Perilaku konsumtif tak jauh dari pola kebiasaan berbelanja. Dalam rilis yang diluncurkan sebuah lembaga riset AS, Nielsen, belum lama ini, diperkirakan tahun ini tingkat pembelanjaan konsumen Indonesia akan tetap kuat seiring dengan semakin makmurnya konsumen Indonesia dan semakin majunya kebutuhan mereka.

Berdasarkan rilis hasil survei Nielsen pada kuartal IV-2012, konsumen Indonesia tercatat paling optimistis di dunia, atau
tetap percaya diri untuk berbelanja. Namun, pertanyaan selanjutnya, apakah perilaku konsumtif masyarakat Indonesia
tersebut menunjukkan masyarakatnya memang telah makmur? Ini karena rakyat yang makmur artinya pertumbuhan ekonomi bangsa juga telah kuat. Apakah memang pertumbuhan ekonomi negara ini kuat? Mari kita telaah.

Jika kita mendengar kata belanja, pasti yang ada dibenak kita adalah kaum hawa. Belanja memang selalu identik dengan kaum perempuan. Pernah sebuah survei mencatat perempuan rata-rata bisa melakukan aktivitas belanja 301 kali per tahun, dengan total 399 jam dan 43 menit. Itu di luar online shopping atau window shopping.

Tapi rupanya di Indonesia, belanja tidak semata dilakukan oleh kaum hawa saja, namun sudah menjadi pola hidup masyarakat Indonesia. Ditambah lagi dengan menjamurnya mal yang begitu banyak seolah tidak ada batasan dari pemerintah, khususnya di Ibu Kota negara ini. Bahkan kawasan hijau dan resapan air pun dihajar dan dilegalkan untuk pembangunan mal.

Ironisnya, rakyat kecil harus dikorbankan demi kepentingan kaum korporat pemilik mal. Buktinya, pada tahun ini, dampak
banjir lima tahunan di Ibu Kota Jakarta makin meluas. Ibarat pepatah mengatakan anjing menggonggong kafilah berlalu,
masyarakat Indonesia seolah tetap terlena dengan pembangunan pusat-pusat belanja mewah dan selalu giat dalam berbelanja.

Bagi pemerintah, pola konsumsi masyarakat yang konsumtif tentunya bisa dibanggakan karena kemudian pemerintah mengklaim pertumbuhan PDB (Produk Domestic Bruto) RI terus meningkat. Namun, tentunya jika peningkatan PDB berdasarkan peningkatan konsumsi masyarakat, hal itu merupakan pertumbuhan ekonomi yang semu alias kopong, mudah runtuh.

Pertumbuhan ekonomi yang mapan, yakni jika terjadi peningkatan investasi, khususnya untuk sektor riil yang menyerap tenaga kerja tinggi, seperti UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), serta industri pertanian dan perikanan, sektor yang merupakan ciri khas bangsa ini, yaitu sebagai negara agraris dan kepulauan.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dipastikan merata, tidak hanya di Pulau Jawa terlebih di Ibu Kota saja. Selain itu
yang terpenting, kekuatan ekonomi ada di tangan rakyat, bukan di tangan pemilik modal besar yang jumlahnya hanya
segelintir saja.

Pola konsumtif masyarakat Indonesia yang didukung oleh regulasi pemerintah tersebut juga dipastikan menyebabkan masyarakat Indonesia minim dalam investasi masa depan mereka, seperti dalam bentuk tabungan di bank, asuransi (jiwa dan kesehatan), dan investasi properti.

Padahal tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di suatu negara dapat diukur dengan tingginya investasi masa depan mereka. Di beberapa negara maju, masyarakatnya justru menghabiskan anggaran dan waktu mereka untuk melakukan wisata. Itu tentunya harus dapat dilakukan jika masyarakatnya menabung, atau tidak boros dalam berbelanja. Untuk itu, perlu dikaji apakah tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang tinggi memang disebabkan majunya negara ini? Lalu apakah memang masyarakat Indonesia telah mencapai kesejahteraan yang sesungguhnya?

Tetap Optimistis Berbelanja

Managing Director Nielsen Indonesia Catherine Eddy mengatakan peluang masih terbuka sangat luas bagi penyedia jasa
keuangan, produsen barang konsumsi dan jasa, juga perusahaan teknologi di Indonesia. “Kunci untuk merebut hati konsumen tetap terletak pada kemampuan untuk mengenali kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi,” jelasnya seperti dilansir laman SHnews, Senin (18/2).

Nielsen merilis hasil surveinya di mana kepercayaan konsumen di Indonesia tetap stabil pada kuartal IV-2012. Konsumen
Indonesia tercatat paling optimistis di dunia, atau tetap percaya diri untuk berbelanja. Hasil riset terkini Global Consumer Confidence Index dari Nielsen tersebut berdasarkan apa yang konsumen beli dan tonton.

Temuan kuartal keempat tahun 2012 memperlihatkan Indonesia dengan indeks 117 (turun dua poin dibandingkan dengan kuartal ketiga), di mana Indonesia termasuk dalam tiga teratas negara yang paling optimis di antara 58 negara di dunia, setelah  India dengan indeks 121 dan Filipina dengan indeks 119.

Berdasarkan survei Nielsen, empat dari lima (78 persen) konsumen online Indonesia percaya keadaan keuangan mereka akan baik, bahkan sangat baik selama 12 bulan ke depan. Meskipun menurun, konsumen Indonesia tetap menjadi yang paling optimistis dengan keuangan pribadi mereka di kawasan Asia Pasifik, diikuti Filipina (77 persen), India (76 persen), dan China (66 persen).

Menurut Catherine, secara keseluruhan optimisme memang menurun pada delapan dari 14 negara di Asia Pasifik pada kuartal keempat jika dibandingkan dengan kuartal ketiga 2012. Namun, Asia Pasifik mencatat skor kepercayaan konsumen tertinggi.

“Meskipun indeks kepercayaan konsumen Indonesia menurun dua poin, Indonesia masih berada dalam urutan tiga teratas
negara-negara yang paling optimis di dunia. Seiring pertumbuhan kelas menengah– Indonesia memiliki kelas menengah terbesar ketiga di dunia–maka peluang untuk perkembangan bisnis masih sangat besar. Ada semangat tinggi untuk mempertahankan dan meningkatkan kekayaan,” katanya.

Catherine mengatakan konsumen Indonesia tetap siap untuk berbelanja di kuartal keempat 2012, di mana 54 persen konsumen mengindikasikan 12 bulan ke depan akan menjadi waktu yang baik atau sangat baik untuk membeli sesuatu yang mereka butuhkan. Angka ini menurun 3 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, konsumen Indonesia berada dalam urutan kedua yang siap berbelanja (54 persen), setelah konsumen India (55 persen), dan diikuti oleh Filipina (51 persen).

Ia menambahkan, konsumen Indonesia juga memiliki pandangan yang lebih positif mengenai kondisi ekonomi, di mana pada kuartal keempat 2012 hanya 50 persen dari konsumen online di Indonesia yang percaya Indonesia sedang mengalami resesi ekonomi. Angka ini menurun lima poin dari kuartal III-2012 dan lebih rendah dari angka rata-rata di Asia Pasifik; 52 persen.

 

Pola Konsumsi

Litbang SH mencatat sepanjang 2012 Indonesia adalah surga bagi bisnis tabungan, pinjaman, dan investasi, dan tren ini akan berlanjut terus pada 2013. Bagi orang Indonesia, makna menabung, pinjaman, dan berinvestasi dikaitkan dengan kenyataan bahwa rata-rata orang Indonesia harus mengusahakan sendiri ketersediaan dana cukup di hari tua, membayar biaya sekolah baru untuk anak, perumahan, dan sebagainya.

Di samping itu, resistensi konsumen Indonesia terhadap tekanan ekonomi mengajarkan banyak hal bagi mereka, karena mereka telah mampu bertahan dalam berbagai krisis besar yang melanda Asia di penghujung abad 20.

Dalam kuartal ketiga, menurut Nielsen, rata-rata kelas menengah sangat besar minatnya untuk berinvestasi, dan di kuartal empat, 74 persen konsumen Indonesia lebih mencari produk tabungan. Untuk investasi, 30 persen orang Indonesia yang disurvei mulai menunjukkan tren meminati produk investasi berupa saham dan reksa dana. Adapun 19 persen konsumen akan memanfaatkan dana cadangannya untuk dana pensiun.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar, MarkPlus menunjukkan angka fantastis banyaknya konsumen Indonesia yang mengeluarkan uang melebihi kemampuan penghasilan per bulannya. Untuk itu tawaran pasar ialah fasilitas pinjaman.

Pinjaman ini digunakan untuk membiayai kebutuhan perumahan 47 persen, kendaraan 35 persen, modal ventura 14 persen, dan kebutuhan produk gadget atau elektronik 7 persen. Sebesar 82 persen keuangan keluarga yang membaik di enam bulan akhir 2012 turut membuat konsumen merasa pasti untuk mengambil pinjaman.

Di Indonesia, produk pakaian bukan lagi menjadi yang utama, melainkan produk teknologi, seperti gadget dan komputer.

Sebanyak 26 persen konsumen akan mencari produk teknologi digital, sementara hanya 20 persen yang menghabiskan waktu berbelanja pakaian baru. Walaupun 74 persen konsumen mengaku menabung, 35 persen dari konsumen juga memilih liburan sebagai bagian dari cara menggunakan dana cadangannya.

Kekhawatiran

Belajar dari Resesi Amerika 2008-2009, laju pertumbuhan perekonomian AS 3 persen pada 2003 dari sebelumnya yang hanya 1,9 persen dipicu oleh rendahnya suku bunga acuan The Fed; 1 persen. Implikasinya ialah pada pola konsumsi dan investasi masyarakat AS yang mengonsumsi barang lebih dari yang bisa diproduksi negaranya (impor) dan berinvestasi di berbagai sektor, khususnya pada properti.

Beberapa lembaga pemeringkat investasi bahkan menaikkan peringkat investasi AS menjadi AAA, artinya sangat potensial untuk berinvestasi. Secara bersamaan kredit bank meningkat pesat untuk membeli properti.

Kondisi ini terhenti saat The Fed menyadari suku bunga acuan mereka terlalu rendah. The Fed 2006 menaikkan suku bunga acuan hingga 5,25 persen. Perekonomian AS mengalami resesi. Triliunan dolar AS nilai properti gagal bayar dilelang, 15 juta orang kehilangan pekerjaannya, US$ 16 juta hilang dari sektor rumah tangga, dan 46 juta masyarakat AS jatuh miskin.

Kini, ciri-ciri resesi serupa terjadi di Indonesia. Ekonomi tumbuh hingga 6,5 persen hingga 2012, ditambah membaiknya
kondisi keuangan dan pemasukan sektor rumah tangga. Fenomena meningkatnya impor Indonesia juga memberikan gambaran naiknya permintaan barang dari luar seiring dengan peningkatan perbaikan ekonomi rumah tangga.

Namun, perbaikan tersebut hanya mendorong perilaku konsumsi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di sektor properti dan kendaraan. Properti masih menjadi pilihan masyarakat, di atas menabung dan investasi. Indonesia sebaiknya tidak terperangkap dengan pertumbuhan ekonomi yang semu dan non-inklusif (tidak meliputi produksi tiap sektor produksi), serta belajar banyak dari resesi yang menimpa AS. ([email protected])