Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Perguruan Tinggi Harus Jadi Motor Penggerak Sektor Kelautan dan Perikanan

SURABAYA, alumniITS:
Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki sembilan indikator kinerja utama yang harus terealisasi di tahun 2013. Sebab, sektor kelautan dan perikanan dapat menimbulkan dampak yang besar. Nilai tambah yang dihasilkan pun mencapai angka Rp 47,62 triliun.

“Sayangnya, isu yang saat ini berkembang di masyarakat jauh dari harapan,” papar Prof Ir R Sjarief Widjaja PhD FRINA, Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan ITS pada kuliah umum tentang Peran Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Pembangunan Kelautan dan Perikanan, yang digelar  Fakultas Teknologi Kelautan ITS di Surabaya seperti dilansir ITS.ac.id, Rabu (24/10).

Syarief melanjutkan ada tujuh isu strategis di bidang kelautan yang harus menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah sebagian besar nelayan masih miskin, meskipun potensi perikanan tangkap mencapai Rp 6,2 juta ton per tahun.

Bahkan, lebih dari 40 persen industri pengalengan tidak beroperasi, dan industri yang beroperasi di bawah kapasitas harus gulung tikar karena kekurangan bahan baku. Tidak hanya itu, ancaman perubahan iklim yang makin kuat juga tiak dibarengi dengan peningkatan sistem manajemen kelautan dan perikanan nasional.

”Padahal, kinerja produksi dan daya saing kompetitor semakin pesat. Tapi produksi dan daya saing nasional hampir tidak bergerak,” jelasnya.

Sjarief pun mengelompokkan proses pembangunan kelautan dan perikanan dalam enam titik fokus. Yakni, perikanan budidaya, perikanan tangkap, pemasaran dan pengolahan hasil perikanan, serta membangun kelautan pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain itu,  fokus juga diberikan pada pengembangan serta pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.

Di sisi lain, peran perguruan tinggi dalam sektor kelautan dan perikanan juga menjadi bagian penting. Yakni, mencetak kader-kader intelektual. Hal tersebut bisa diperoleh dengan mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui riset inovasi teknologi dan pengabdian masyarakat. ”Mahasiswa juga harus menjadi motor penggerak pembangunan teknologi tepat guna untuk masyarakat,” ujarnya.

Dr Ir Setyo Nogroho yang dalam hal ini menjadi moderator mengungkapkan, apa yang dibicarakan dalam kuliah umum ini bukan basa basi. Para mahasiswa ataupun dosen yang duduk di ruangan itu diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu untuk membangun kelautan Indonesia. Sehingga, jika ada mahasiswa yang memiliki ide dapat langsung menghubunginya untuk ditindaklanjuti. ”Sudah waktunya kita menoleh bersama-sama ke laut,” paparnya.   (endy – [email protected])