Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Pengusaha Logistik Tak Siap Hadapi AEC

JAKARTA, alumniITS.com – Pelaku usaha logistik Indonesia mengaku belum siap bersaing dalam pelaksanaan komunitas ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) atau perdagangan bebas di kawasan ASEAN.

Pengusaha merasa daya saingnya masih rendah bila dibandingkan negara lain karena tertekan banyaknya pungutan tak resmi alias liar yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

“Pungutan liar, masih, masih banyak sekali. Di darat, di pelabuhan, dimana-mana terutama di logistik antar provinsi,” ujar Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia, Iskandar Zulkarnain, Rabu (10/4/2013).

Iskandar mengatakan pungutan ditemui hampir di semua akses konektivitas meski yang paling menonjol adalah konektivitas antar pulau. Data dari Departemen Perhubungan, setidaknya terdapat 17 jenis pungutan tidak resmi masuk-keluar barang di Pelabuhan Tanjung Priok.

Empat diantaranya dilakukan Pelindo, dua jenis pungutan Adpel, satu jenis pungutan bea cukai, imigrasi, dan karantina, serta prinsipal, katanya seperti dilansir laman Liputan6.com

Tiga jenis pungutan dilakukan agen pelayaran. Pungutan tak resmi juga dialami pelaku logistik dalam proses melalui jalur merah dan jalur hijau yang kewenangannya ada pada PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT). ([email protected])