Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Penemu Pompa Tangan Pemurni Air Raih Award

JAKARTA, alumniITS.com –  Gde Wenten, sosok fenomenal di dunia industri membran meraih penghargaan Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie Technology Award 2013. Penghargaan rutin tahunan yang diberikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini, sudag keenam kalinya digelar.

Penghargaan BJ Habibie Technology Award (BJHTA) ini diberikan kepada pelaku teknologi yang berjasa, berprestasi, dan berdedikasi kepada bangsa dan negara Indonesia dalam inovasi dan berkreasi untuk menghasilkan karya nyata teknologi di bidangnya masing-masing. 

Dalam malam penganugerahan BJHTA tersebut hadir Presiden RI ke-3 BJ Habibie yang juga pendiri BPPT, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta dan Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar. 

Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar mengatakan, BJHTA merupakan penghargaan tertinggi bagi insan pelaku teknologi yang berprestasi dan berjasa bagi bangsa dan negara dengan menambah nilai progresif dan memberi lapangan pekerjaan yang berkualitas.
 
“Ini sebagai bentuk penghormatan bagi warga negara pilihan yang telah melalui perekayasaan teknologi dan inovasinya berguna bagi bangsa dan negara,” katanya di sela-sela penganugerahan BJHTA di Jakarta, Rabu (21/8) malam. 

Marzan menambahkan Wenten dipilih setelah melalui seleksi ketat. Wenten dipilih sebagai pemenang BJHTA, karena dirinya merupakan penemu pompa tangan pemurni air yang menggunakan teknologi membran bernama IGW Emergency Pump. 

Ciptaannya ini merupakan pompa tangan pemurni air dengan kualitas tinggi yang menggunakan teknologi membran. Pompa air bersih ini mampu menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, germs, dan koloid. 

Gde Wenten pun bersyukur atas penghargaan tersebut. Penelitian dan usaha pengembangan temuannya yang dilakukan dengan jatuh bangun itu pun akhirnya membawa hasil. Ia pun mengaku masuk dunia enterpreneurship kecil-kecilan.   “Kami harus bertahan mengawal teknologi, agar negeri ini tidak ketinggalan. Teknologi ini merupakan kuncinya,” ucapnya. 

Pompa ciptaannya ini pun praktis, bekerja tanpa listrik, mudah dibawa, relatif murah, kapasitas tinggi, pemasangan sederhana dan ramah lingkungan. Alat ini pun sangat cocok untuk kondisi darurat seperti di tempat pengungsian saat terjadi bencana, kamping, ekspedisi dan di daerah rawan air bersih. 

Gde Wenten sendiri mengawali pendidikan tingginya di Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1982. Lulus dari ITB, Wenten kemudian melanjutkan studinya di Denmark Technology University, Kopenhagen. Setelah meraih gelar master bioteknologi tahun 1990 sekalogus program teknik kimia tahun 1995 di sana. 

Pompa ini seperti pompa sepeda, hanya di dalamnya diisi filter membran yang mempunyai saringan sangat  halus, hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron.

Pria kelahiran Bali, 15 Februari 1962 inilah satu-satunya peneliti di Asia Tenggara yang mengembangkan alat berbasis membran.   Gde Wenten pun telah berhasil mendapatkan 15 paten sejak tahun 1993 sampai 2013.

Teknologi membran hasil rekayasanya telah digunakan banyak industri khususnya di bidang pengelolaan air untuk darurat bencana. Industri lainnya yang juga memanfaatkan adalah pemurnian minyak sayur, kelapa sawit, VCO dan minyak matahari.

Kemudian di bidang industri medis, Wenten yang kini aktif mengajar di ITB merekayasa pemurnian air bebas pirogen. Ia pun melakukan penelitian dan pengembangan di bidang hemodialisis. 

BJ Habibie pun mengingatkan bahwa suatu bangsa yang mengandalkan diri pada sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari  sumber daya manusia yang dimilikinya.  “Sumber daya manusia itu harus yang produktif, efisien, terampil dan memiliki daya saing tinggi,” lontarnya. (endy)