Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Pelaku Industri Harus Berani Berinovasi

JAKARTA, alumniITS:
Proyeksi sebuah lembaga menyebutkan perekonomian Indo­nesia akan tetap tumbuh dan berkembang kendati di tengah imbas krisis glo­bal. Bahkan Indonesia diyakini menjadi 10 besar negara dengan perekonomian terbesar pada 2030.

Namun menurut Vikram Nehru, mantan kepala ekonom wilayah Asia un­tuk Bank Dunia yang kini Senior As­sociate and Bakrie Chair pada Carnegie Endowment untuk studi Asia Tenggara, seperti dilansir Bisnis.com, Senin (3/12) ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia dalam men­jaga daya tahan perekonomiannya.

Berikut petikan wawancara mengenai masalah tersebut :

Sebuah proyeksi dari McKinsey menyatakan Indonesia akan masuk 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada 2030 dengan pendapatan per kapita US$18.000. Bagaimana menurut Anda?

Saya percaya itu kendati perekonomian dunia di masa depan masih dipenuhi ketidakpastian. Di balik ketidakpastian Eropa, AS, dan China, ada peluang dari pasar-pasar negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk tumbuh.

Peluang seperti apa yang Anda maksud?

Ekonomi Asia Tenggara merupakan salah satu di antara perekonomian yang paling dinamis dan terbuka bagi perdagangan dan arus keuangan di dunia, serta terintegrasi melalui jaringan produksi dengan China. Keterbukaan tersebut memang telah membawa manfaat bagi perekonomian Asia Tenggara.

Sementara itu, Indonesia didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia yang jika dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi kekuatan tersendiri. Konsumsi domestik yang menjadi penopang akan sangat membantu.

Hal ini berbeda dengan Singapura yang bergantung sepenuhnya terhadap per­ekonomian global. Saat krisis global 2008, mereka ikut terguncang. Namun, sebagaimana halnya China yang diramalkan menjadi perekonomian terbesar di dunia pada tahun yang sama oleh Mc­Kinsey, ada the big if  bagi Indonesia un­tuk mewujudkan ramalan tersebut.

Banyak tantangan yang harus di atasi. Apa saja tantangannya dan bagaimana cara untuk memanfaatkan peluang tersebut?

Iklim politik akan berkolerasi dengan pertumbuhan ekonomi. Indonesia punya sistem demokrasi yang baik. Tantangannya adalah bagaimana menjaga stabilitas politik nasional, karena Indonesia menjadi salah satu negara penganut demokrasi yang sangat terbuka.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup kuat di kisaran 6%. Beban utang luar negeri dan defisit fiskal juga masih kecil. Namun, perekonomian Indonesia terlalu bergantung terhadap konsumsi domestik dan sumber daya alam. Indonesia perlu meningkatkan
manufakturnya karena ekspor komoditas saja tidak mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan sektor manufaktur?

Selain sumber daya alam, Indonesia juga punya sumber daya manusia yang luar biasa, tetapi kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Pendidikan akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini.

Dengan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia yang tinggi, daya saing produk manufakturnya juga meningkat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan domestik dan mengimbangi ekspor komoditas yang selama ini masih menjadi andalan Indonesia.

Namun, permasalahan antara pelaku industri dan buruh juga harus diselesaikan agar tidak menghambat. Selain itu, pelaku industri harus berani berinovasi dalam produknya, sambil mengukur kemampuan apa yang dapat dilakukan, sehingga ada spesialisasi dari produk yang dihasilkan.

Apakah Anda melihat ada ancaman middle trap income?

Pertumbuhan pesat akan diiringi dengan pertumbuhan populasi kelas menengahnya. Ancaman middle trap income bisa saja terjadi, jika tidak mendapat dukungan dari pemerintah dengan membenahi infrastruktur. Ini dilakukan agar mampu meningkatkan daya saing.

Pemanfaatan teknologi juga penting agar tidak terjebak hanya sebagai negara berpenghasilan menengah, tidak bisa turun, tidak bisa naik. Ketimpangan kemajuan teknologi membuat produk yang dihasilkan berdaya saing rendah.

Bagaimana Anda melihat kondisi Eropa, AS, dan China dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara dan Indonesia?

Kondisi ini pasti mempengaruhi perekonomian Asia Tenggara. Eropa masih memiliki pekerjaan rumah yang besar, yakni peng­aturan utang dan memperbaiki keuangan. Negara-negara Eropa harus mengeluarkan resolusi bersama untuk selamat dari krisis.

Adapun, kondisi AS juga masih akan sangat berpengaruh karena tidak bisa dipungkiri mereka adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Permasalahan utama dan pertama yang akan dihadapi AS adalah ancaman fiscal cliff. Namun, meski pemilu AS sangat mahal dan sengit, ada optimisme dari kedua partai [Demokrat dan Republik] untuk membahas anggaran guna menghindari fiscal cliff.

Jika mereka berhasil, iklim bisnis domestik dan global akan membaik serta pemulihan ekonomi AS, meski tidak pesat, akan berkelanjutan. Sementara itu, China, meski melambat, akan terus tumbuh, asalkan dapat mengambil kebijakan yang benar, melakukan reformasi yang baik, serta menyeimbangkan ekonomi domestik dan ekonomi eksternal.

Bagaimana pengaruh terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS terhadap Asia Tenggara?

Siapapun yang terpilih sebagai presiden, kebijakan ekonomi dan luar negeri AS tidak akan berubah terhadap Asia Tenggara. AS melihat Asia Tenggara termasuk Indonesia memiliki peran penting bagi mereka.Hal ini ditandai dengan kunjungan [kenegaraan pertama di masa jabatan kedua] Obama ke Thailand, Myanmar, dan Kamboja, yang
menunjukkan adanya perhatian dari AS ter­hadap perkembangan demokrasi di Asia Tenggara. Terkait dengan konflik teritorial di Laut China Timur, AS punya kepentingan akan kebebasan navigasi di perairan tersebut, baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer.

Obama tidak mengambil sikap memihak salah satu pihak yang terlibat, melainkan mengutamakan terciptanya perdamaian di wilayah tersebut.   (endy – [email protected])