Berita

Mahasiswa UGM Ubah Buah Kedaluwarsa Jadi Nata de Fruity


YOGYAKARTA, alumniITS.com – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta memberikan pelatihan pembuatan “nata de fruity” dengan memanfaatkan buah-buahan kedaluwarsa kepada 12 penjual makanan di Pasar Induk Buah Gemah Ripah Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Pelatihan yang merupakan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut bertujuan untuk memanfaatkan buah kedaluwarsa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” kata Ketua Program Pelatihan Wiko Arif Wibowo di Yogyakarta, Rabu.

Dengan demikian, menurut dia, mampu membentuk masyarakat yang mampu meningkatkan kebersihan dan kesejahteraan melalui pemanfaatan limbah. Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Koperasi Gemah Ripah selaku pengelola pasar dan Waste Refinary Center (WRC) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memberikan akses fasilitas untuk mendukung pelatihan.

“Pasar Gemah Ripah merupakan pasar buah terbesar di Yogyakarta. Pasar buah itu mampu menampung buah segar yang berasal dari seluruh Indonesia hingga mencapai 750 ton perhari,” katanya seperti dilansir laman liputan6.com, Jumat (27/6).

Ia mengatakan, proses distribusi yang panjang mengakibatkan buah mengalami proses pematangan hingga menjadi busuk. Dampaknya potensi volume buah seberat empat ton per hari tidak termanfaatkan dan hanya berakhir sebagai sampah organik.
“Hal itu sangat disayangkan sehingga perlu solusi kreatif untuk mengatasi masalah tersebut,” katanya.

Menurut dia, nata sangat digemari oleh masyarakat karena rasanya yang nikmat, kaya seratdan bergizi tinggi. Nata yang dikomersialisasikan saat ini adalah “nata de coco”, yakni nata yang dibuat dari air kelapa.

“Berdasarkan penelitian Wahyu Aristyaning Putri, buah-buahan yang kedaluwarsa ternyata dapat dimanfaatkan untuk pembuatan ’nata de fruity’,” katanya.

Ia mengatakan, jika sebelumnya limbah buah di Pasar Gemah Ripah dimanfaatkan untuk biogas, maka setelah adanya pelatihan diharapkan buah tersebut dapat diambil dulu sari buahnya kemudian ampasnya dimasukkan dalam reaktor biogas. Dengan inovasi tersebut diharapkan sumber daya yang terbuang dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.

“Program pelatihan itu akan terus dilaksanakan sampai peserta mampu membuat nata secara mandiri dan dapat dipasarkan sehingga mampu mensubstitusi kebutuhan nata nasional. Kegiatan itu juga sebagai sarana mahasiswa mengaplikasikan ilmu dan meningkatkan kreativitas terutama kepedulian terhadap fenomena yang terjadi pada lingkungan hidup,” katanya. ([email protected])