Kamis, Oktober 24, 2019
Berita

Krisis Eropa, IMF Ingatkan Negara Berkembang

 

WASHINGTON, alumniITS:

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan, prospek ekonomi negara-negara berkembang saat ini menghadapi tantangan akibat krisis keuangan yang terjadi di Eropa. Negara berkembang harus memberikan perhatian serius terhadap segala adanya ketidakpastian baik di pasar domestik maupun di luar negeri.

IMF juga menilai, saat ini negara-negara berpendapatan rendah masih rentan bukan hanya karena tingginya harga pangan,tetapi juga adanya ancaman banyaknya orang yang akan kembali ke jurang kemiskinan.

”Area ini kami memerlukan tindakan untuk mengatasi ketidakpastian,” ujar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam keterangannya yang dilansir situs resmi IMF,  Jumat (12/10).

IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini menjadi hanya 3,3 persen, terendah sejak resesi 2009 silam. Untuk tahun depan, lembaga donor yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat (AS), juga menurunkan proyeksinya menjadi hanya 3,6 persen.

Sebagai perbandingan, pada prediksi yang dibuat IMF Juli lalu, pertumbuhan ekonomi global diprediksi 3,5 persen di 2012 dan 3,9 persen di tahun berikutnya.

Lagarde berada di Tokyo untuk mengikuti pertemuan tahunan IMF dengan Bank Dunia akhir pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai persoalan ekonomi termasuk masalah krisis utang yang masih terjadi di beberapa wilayah di Eropa dan AS.

Pertemuan yang baru pertama kali di adakan di luar AS itu akan diikuti oleh sejumlah pimpinan bank sentral dan pemerintah dari berbagai negara di dunia.

Namun, pertemuan tersebut tidak akan diikuti oleh pimpinan Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaochuan dan Menteri Keuangan China karena masalah sengketa kepulauan dengan Jepang.

Selain itu, sejumlah perbankan besar China juga memboikot pertemuan tersebut akibat meningkatnya ketegangan kedua negara. Menanggapi boikot China pada pertemuan IMF dengan Bank Dunia, Lagarde menyatakan bahwa Negeri Panda ”kehilangan” momentum jika tidak mengirim dua pejabat tertinggi di sektor keuangan di pada pertemuan tersebut.

Menurut Lagarde, beratnya sengketa wilayah antara raksasa Asia memang telah mengganggu hubungan kedua negara. Untuk itu, dia menyerukan Beijing dan Tokyo -yang terlibat dalam pertikaian atas batas kepulauan di Laut China Timur-, segera menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.

”Negara-negara di wilayah ini sangat penting bagi perekonomian global. Kami memiliki banyak isu-isu substantif untuk membahas, akan ada perdebatan besar. Saya pikir mereka kehilangan dengan tidak menghadiri pertemuan itu,” kata Lagarde di Tokyo kemarin.

China sendiri belum memberikan alasan resmi tentang pembatalan kehadiran pejabat nomor satu di Bank Sentral China dan Kementerian Keuangan China.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan, pihaknya juga memberikan perhatian akibat dampak ketegangan hubungan antara Jepang dan China. Dia menginginkan masalah tersebut cepat diselesaikan di tengah banyaknya perbedaan.

”Sejarah dan situasi politik di Asia Timur sangat kompleks. Tetapi, dalam pandangan saya masalah ini akan diselesaikan dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.

Di bagian lain, krisis utang Eropa yang belum juga mereda mendorong lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) memangkas peringkat utang Spanyol sebanyak dua level menjadi BBB- dari sebelumnya BBB+. Keputusan S&P membuat rating utang Negeri Matador kini hanya satu tingkat di atas level sampah atau junk.

Di samping itu, S&P juga memberikan status outlook negatif untuk peringkat utang Spanyol. Penurunan peringkat utang tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Spanyol mengumumkan paket penghematan anggaran kelima dalam kurang dari setahun.

Spanyol juga baru saja mengumumkan detil hasil stress test perbankannya. Sebelumnya Pemerintah Spanyol mendapat persetujuan dari Uni Eropa untuk mendapatkan dan talangan sebesar 100 miliar euro atau USD128 miliar untuk mengatasi krisis perbankan.

”Masalah pensiun kemungkinan akan menjadi tantangan bagi target reformasi fiskal, ini bukan menjadi satu-satunya risiko. Kami juga memberikan perhatian pada rendahnya pertumbuhan serta pengang-guran,” ujar ekonom S&P seperti dikutip dari Reuters. (ndy)