Berita

Kinerja Industri Syariah Indonesia Ditingkatkan

JAKARTA, alumniITS – Bond Research Institute (BondRI) melakukan penandatanganan  MoU (Memorandum of Understanding) dengan Paramadina Graduate Schools – Islamic Business and Finance (PGS-IBF) Universitas Paramadina untuk pengembangan bidang riset dan edukasi guna meningkatkan kinerja industri syariah Indonesia.

“MoU ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan industri jasa keuangan, sumber daya manusia (SDM) juga pasar modal berbasis syariah di Indonesia. Sehingga kita mampu bersaing di pasar global,” papar Kepala Program PGS-IBF DR Handi Idris  usai MoU, di Kampus Paramadina Energy Tower Jakarta, Senin (25/2).

Handi melanjutkan melalui MoU ini, sinergi yang terbentuk dapat memberikan solusi yang efektif terhadap permasalahan utama yang dihadapi oleh industri syariah, yang menjadi suatu kekuatan yang bersifat dukungan konstruktif terhadap segala upaya
dalam mengatasi tantangan yang dihadapi saat ini.

Bahkan  MoU ini, sinergi yang terbentuk diharapkan juga dapat mendukung program dan kebijakan pemerintah dalam upaya pengembangan industri syariah domestik serta peningkatan daya saingnya secara signifikan di pasar internasional, ujarnya sambil menambahkan kerjasama ini dapat terpelihara dengan baik dan terjalin langgeng pada masa mendatang.

Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing mengatakan masalah utama yang dihadapi industri syariah domestik terkait pengetahuan para pelaku pasar yang belum memadai mengenai prinsip syariah terapan dan kurangnya ketersediaan produk syariah yang terstandardisasi. Masalah lainnya, adalah jumlah SDM yang kompeten masih sangat minim di pasar domestik.

Selain masalah-masalah tersebut, secara spesifik, tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan syariah adalah masih kecilnya pangsa pasar berdasarkan aset dibandingkan total aset perbankan konvensional.

Pangsa pasar perbankan syariah hanya 4-5% dari total aset perbankan konvensional pada 2012 lalu. Nilai ini masih sangat kecil dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang sudah mencapai figur 23%. Pekerjaan rumah industri syariah domestik masih banyak dan potensi pasar masih terlalu besar untuk tidak digarap.

Tumpal menilai, kemitraan strategis antara BondRI dan Paramadina dapat mendukung upaya integral pemerintah dan pasar dalam mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Tumpal juga berharap, kerja sama ini akan membuat hasil yang semakin produktif dan terjalin dengan baik ke depan.

Deputy Rector University Paramadina for Coorporation and Business Development  Wijayanto Samirin MPP menambahkan dengan terbentuknya MoU antara BondRI dan PGS-IBF,  salah satu tantangan untuk perkembangan industri syariah yaitu sosialisasi dan edukasi bahwa industri syariah merupakan suatu pilihan produk yang sifatnya terbuka. “Bukan suatu industri yang sifatnya ideologis dan eksklusif untuk kaum tertentu,” sambungnya.
 
BondRI mengemban misi sebagai agen perubahan konstruktif yang menyediakan solusi atas kebutuhan informasi dan data yang akurat, kredibel, berbasis riset, dan jasa pengembangan kapasitas SDM yang berkelanjutan dan bermutu bagi segenap pelaku di industri jasa keuangan dan pasar modal domestik.

Selain layanan data dan informasi yang akurat, BondRI juga menyediakan program edukasi Advance Bond School dalam rangka menggali potensi para pelaku pasar ke level yang bersifat terapan dan best practices.
 
Dengan corporate values yang dimiliki, selaku penyedia data/informasi yang akurat melalui aktivitas riset dan edukasi, BondRI berperan aktif dalam upaya peningkatan animo serta minat investasi di pasar domestik. BondRI juga berperan sebagai counterpart yang terpercaya bersama para pelaku di industri jasa keuangan dan pasar modal dalam rangka mengembangkan perekonomian domestik agar semakin kuat, solid, dan kompetitif di kancah perekonomian internasional. ([email protected])