Berita

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang Sukses


JAKARTA, alumniITS:
Sebuah tesis menyebutkan, keadaan ekonomi dapat menentukan masa depan seseorang. Jika orang tersebut dalam keadaan terbatas secara ekonomi, maka akses menuju masa depan yang cerah pun terbatas. Ternyata, tesis tersebut terbukti salah.

Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh dalam membuka kegiatan Forum Bidik Misi. Menurut M Nuh, dengan adanya program beasiswa Bidik Misi yang digelar sejak 2010, kesempatan memiliki masa depan cerah bagi para pelajar untuk meraih mimpi setinggi mungkin menjadi sangat besar.

Dia menjelaskan, sekira 500 penerima beasiswa Bidik Misi yang hadir pada kesempatan itu merupakan berlian yang selama ini tertutup lumpur. Namun, perlahan kilau itu semakin terlihat.

“Kalian adalah berlian yang mulai tampak yang tadinya tertutup lumpur. Lihat saja dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Peraih IPK 4,00 tidak hanya satu tapi ratusan. Melihat wajah-wajah kalian, itu adalah wajah masa depan yang akan mengubah Indonesia, bahkan bukan hanya dunia. Di samping memiliki kesempatan menjadi agen perubahan di Indonesia, kita pun yakin bisa menjadi agen perubahan dunia. Itulah Bidik Misi,” tutur M Nuh yang disambut tepuk tangan para peserta, di Gedung D Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Senayan, Jakarta Selatan, tadi malam.

Meskipun saat ini, lanjutnya, wanita lebih mendominasi prestasi di bidang akademis, para pria tidak perlu merasa berkecil hati. M Nuh menambahkan, para pria pun tidak kalah pintar karena pada akhirnya mampu memilih pasangan hidup yang pintar itu.

“Banyak perempuan, itu trennya. Tetapi pada akhirnya, yang pintar itu lelaki karena memilih perempuan pintar menjadi istrinya. Kalau kita belum pintar tidak apa-apa yang penting  bisa memintarkan orang. Jangan sampai sudah tidak pintar tapi membodohi orang,” guyonnya yang disambut tawa para peserta.

Menurut mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu, ada banyak alasan Bidik Misi menjadi salah satu program unggulan Kemendikbud. Alasan utama dalam mengadakan program ini, tambahnya, membantu melanjutkan mimpi para pelajar Indonesia di bidang pendidikan dalam keadaan ekonomi terbatas.

“Menyenangkan orang lain rasanya luar biasa. Akibatnya Bidik Misi tidak bisa diberhentikan. Sebab, sejatinya, kebahagian adalah saat bisa membahagiakan orang lain. Sehingga Bidik Misi bukan beban tapi sumber kebahagiaan,” urainya.

Menyadari keberadaan program ini sangat penting dan berguna bagi banyak orang, M Nuh merasa program tersebut harus tetap berjalan meski jabatan sebagai Mendikbud telah berpindah tangan. Oleh karena itu, pemerintah pun memayungi Bidik Misi secara
hukum melalui Undang-Undang (UU) Pendidikan Tinggi No.12 Tahun 2012.

“Bidik Misi jangan hanya sampai 2014 tapi  harus terus berkembang. Ada Permen dan PP untuk memayungi program ini, serta diperkuat lewat UU PT No.12 thn 2012. Sehingga ada jaminan siapapun yang melanjutkan tugas ini harus tunduk pada UU PT itu,” imbuh M Nuh.

M Nuh menyebutkan, saat ini terdapat 92 ribu penerima Bidik Misi dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Untuk itu, tahun depan, lanjutnya, kuota Bidik Misi akan ditambah 50 ribu lagi. Sehingga, setiap tahun akan ada 30 ribu berlian yang mengubah zaman.

“Paling tidak kalau sudah punya modal, mereka bisa memotong mata rantai kemiskinan. Kita memang terbatas secara ekonomi tapi cita-cita kita tidak terbatas. Kita layak mengubah diri sendiri dan kehidupan kita,” tutupnya. (endy – [email protected])