Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Kesadaran Pengusaha Bersertifikat SNI masih Rendah

JAKARTA, alumniITS:

Kesadaran pengusaha untuk mengantongi sertifikan SNI (Standar Nasional Indonesia), masih sangat rendah. Padahal untuk suatu produk yang belum mengantongi SNI mengancam keamanan, kesehatan, dan keselamatan konsumen selaku pengguna produk. 

“Banyak kendala mengapa produk Indonesia belum berSNI. Kendalanya mulai dari regulasi yang tidak dijalankan, minimnya infrastruktur pengujian mutu dan kurangnya kemampuan industri memenuhi standar yang ditetapkan,” papar Kepala Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puji Winarni di Jakarta, Rabu (17/10)

Jika produk yang seharusnya berSNI, lanjut dia, ada ketetapan regulasi SNI wajib namun tetap beredar maka, produk harus ditarik dari pasaran.

Sepanjang regulator dalam hal ini Kementerian Perindustrian belum membuat aturan SNI terhadap suatu produk maka produk bisa beredar di pasaran dengan regulasi pendukung lainnya, tambahnya.

Dikatakan,  SNI merupakan standar utama yang harus diterapkan pada produk elektronika dan medis. Dibanding produk elektronika yang sebagian kecil sudah berSNI, produk medis jauh tertinggal dan belum ada aturan SNI wajib misalnya pada stetoskop, infus.   “Apalagi di bidang kesehatan SNI penting karena berurusan dengan alat yang berhubungan dengan jiwa manusia,” ucapnya. 

Laboratorium pengujian mutu atau standar produk yang dimiliki LIPI memiliki spesialisasi pengujian elektromagnetik atau peralatan yang berhubungan dengan listrik seperti mesin cuci, kulkas dan peralatan rumah tangga berbasis elektronika.  “Perlu adanya edukasi kepada konsumen untuk mempertimbangkan mutu produk selain harga. Sebab kerap kali konsumen cenderung membeli barang murah namun non SNI,” harapnya.

Menurutnya, produsen pun diharapkan memprioritaskan produksi produk SNI untuk memberikan jaminan mutu kepada konsumen.  (ndy)