Berita

Kedaulatan Energi Sulit Tercapai


JAKARTA, alumniITS – Dominasi asing di sektor strategis minyak dan gas (migas) saat ini dinilai mengkhawatirkan karena telah menguasai sumber daya alam Indonesia yang terus menerus melakukan eksploitasi.

Hal tersebut diperparah dari kebijakan pemerintah yang terlalu membuka lebar pintu investasi bagi investor asing. Demikian disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI), Faisal Yusra dalam seminar Menegakkan Kedaulatan Energi Nasional di Jakarta, Rabu (20/2).

Faisal menambahkan, hal tersebut juga makin mengancam kedaulatan perekonomian Indonesia. Sebab telah menjadikan pertambangan sebagai komoditas yang tidak memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan rakyat.

“Saat ini saja sebanyak 75% sektor migas telah dikuasai asing. Besarnya dominasi asing disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terlalu membuka lebar pintu investasi bagi investor asing di sektor strategis,” ujar Faisal.

Faisal menjelaskan, seharusnya pemerintah dapat mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan mengajak ahli di sektor migas dalam mengelola sumber daya alam yang ada di Indonesia.

“Kita harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya agar bisa memanfaatkan ladang migas, dan mengolahnya sendiri bukan diserahkan kepada pihak asing,” tutur Faisal.

Saat ini penguasaan cadangan migas oleh perusahaan asing, menurut Faisal, dengan mendominasi sebanyak 225 blok migas dikelola KKKS non Pertamina. Sebanyak 120 blok dioperasikan perusahaan asing. Untuk 28 blok dioperasikan perusahaan nasional, serta sekitar 77 blok dioperasikan perusahaan patungan asing dan nasional.

Faisal melanjutkan, adanya kondisi tersebut pemerintah sudah sesumbar di 2025 porsi operator di lapangan migas oleh perusahaan nasional mencapai 50%. “Saat ini porsi nasional hanya 25% sementera 75% dikuasai asing,” katanya.
([email protected])